ProfesiONAR

Saya, jadi inget kejadian pas liputan, beberapa hari lalu. Masih anyar.

Waktu itu produksi tayangan sudah jalan satu setengah segmen (satu tayangan yang kita bikin itu 3 segmen untuk durasi 30 menit udah termasuk iklan, tentu saja). Malamnya, saya berdebat panjang lebar dengan narasumber. Dia minta, agar logo produknya disampaikan di awal acara, nama restoran disebutin, dan aturan satu lagi, saya lupa. Intinya iklan.

Berhubung saya dari divisi pemberitaan, saya gak terlalu paham soal barteran promo seperti itu.  Yang ada kaitannya dengan promosi, bagian promosi lah yang mengerjakan. Bukan saya, saya murni bagian pemberitaan.

Segala gimmick ia lakukan, agar saya memasang logo produknya di tayangan itu. Kalau saya gak pasang logo dan menyebutkan nama restorannya, dia menolak untuk tayang, menilai program acara yang sedang dibuat ini sama aja kaya menghilangkan narasumber sebagai sumber berita. What! Intinya, dia gak mau sebar resep masakan milik keluarganya yang sudah turun temurun, kawatir resep itu dicuri oleh kompetitornya walaupun berulang kali, saya menyampaikan bahwa program acara yang saya bikin, bukan program acara kuliner kaya yang FQ bawakan itu. Jadi, gak ada yang namanya resep detil.

Berikut-berikutnya munculah rentetan kalimat kurang konsisten lainnya, yang sebenarnya saya kurang paham atau terlalu cape untuk paham. Hehe. Maklum perdebatan dilakukan saat hujan deras, sedang meladeni orang hamil, gak langsung ketemu pula sama si lawan bicara. What’sApp dan Telepon.

Yang saya pikirkan malam itu, cuma satu, produksi udah separo jalan. Dengan melupakan harga diri terinjak-injak, semua bisa dinegosiasikan. Na. Ni. Nu. Malam itu, kita sepakat untuk lanjut taping keesokan harinya, menyelesaikan satu setengah segmen lagi yang belum selesai.

Rupanya, pembicaraan semalam belum cukup membuat pihak narasumber berlapang dada. Paginya, saya diberondong berbagai pertanyaan, pernyataan, juga ancaman gak boleh tayang. Ini liputan apa sih? Pencemaran lingkungan atau tragedi pesawat jatuh? Atau penggunaan borax pada makanan? Script taping dirombak abis-abisan, gak mau ada ini itu dan seterusnya. Ya, walaupun ini sebenarnya gak masalah loh, script dirombak. Tapi, kalau semua adegan dihilangin? Kebingungan itu 20 menitan mau nayangin apa. Hehe.

Tadinya, bak pahlawan kesiangan, saya gak berniat cerita kejadian ini ke tim liputan, maksud hati untuk menjaga mood liputan. Yang penting kelar dulu deh, produksi satu episode.

Tapi, balik lagi, ini kerja tim, saya gak bisa sotoy sendiri. Eaa, udah yoih banget belum tuh. Saya memutuskan untuk cerita ke produser kreatif, pengambil keputusan tertinggi di lapangan.

Tim, jelas menentang. Kantor tempat saya bekerja sekarang, menentang keras adanya promo di dalam pemberitaan. Dan, selalu ada kesepakatan. Kita bernegosiasi sebelum lanjut taping satu setengah segmen lagi.

Hasil negosiasi. Kita batal taping. Lupakan saja episode yang ini. Saatnya move on cari tema lain. Hehe.

Terlalu seru, kalau proses negosiasinya saya ceritakan. Pake adegan, segala properti gambar yang udah diambil, dihapus di depan pihak narasumber.

Selain menyebutkan merk dagang dilarang dalam tayangan news, di TV tempat saya bekerja, kecuali sudah ada deal sebelumnya dengan bagian promosi, lagi pula insert iklan menurunkan kelas tayangan tersebut. Lah emang tayangan yang saya bikin berkelas banget apa gimana sih Haha. Ya udindah.

Kok beraninya saya bicara kelas ya? Ya biar gaya dikit gitu. Begitulah kira-kira.

Sebenar-benarnya, sih, ada banyak cara yang lebih elegan untuk bernegosiasi. Sekedar sharing aja. Bahwa, media dan narasumber adalah pihak yang sama-sama membutuhkan. Tidak ada power di atas power. Atau? Sebagai kaum priyayi? Ada baiknya melongok ke bawah sebentar. Hehe.

Ga mangkir juga, si, sebagian wartawan merasa punya ‘harga sendiri’ sebagai media. Gak sedikit yang akhirnya sebel dengan sikap wartawan. Beberapa merasa seperti itu. Selebritis ada yang mati-matian menghindari wartawan karena merasanya citeranya jadi super rusak karena diliput wartawan. Atau sebaliknya, pamor jadi naik abis diliput. Ya, begitu lah. Ada imbas atas sesuatu, dan imbasnya bisa jadi apa saja. Entah, siapa pun dia, yang penting saling menghargai profesi dan peran masing-masing aja. Sebagai wartawan, pun, saya gak pernah merasa sebagai warga kelas satu. Wartawan punya etika, begitu pula masyarakat.

Bdw, gak seru juga kan kalau gak ada kejadian kaya gini. Ya udah ah, maap ya, kalau postingannya rada gantung, nih. Abisan, ya, mmh, ya sudahlah. Yang waras, ngalah, bro. Begitu aja.

Mmmh, itu aja dulu deh. Daripada postingan ini ngendap di dashboard, yuk ah, kita publish aja. *galau*

Posted in Oh

2 thoughts on “ProfesiONAR

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s