Hari Pers!

Bukannya nyesel si, dulu ga kuliah jurnalis. Tapi jujur se jujurnya sempet ada rasa gak pede gimana gitu, waktu saya mewakili kantor untuk jadi pembicara di Hari Pers Nasional 2013, sembilan Februari lalu. Ya, acaranya gak se-hits yang dibayangkan. Tapi, tetap aja lingkupnya nasional, karena RI 1 juga ikut hadir di hari penutupannya. Kedengarannya hits, kan, yes? Hehe.

Tapi gapapa kali yaa, pengen cerita dikit seputar dunia jurnalis begini. Rasa-rasanya pengen kuliah lagi deh, biar lebih mantep. Gak semua orang juga si, yang dulunya kuliah jurnalis bakal jadi jurnalis yang keren atau gak sedikit mereka yang akhirnya mangkir dari dunia jurnalis.

Nah, saya? Punya cerita beda lagi nih, karena emang saya dulunya gak kuliah jurnalis, tapi malah sekarang jatuh cinta dengan dunia jurnalis.

Dulu, waktu muda inget banget, saya pengen jadi reporter TV yang laporin LIVE soal bencana alam atau kecelakaan gitu. Gitu aja sih bayangan saya soal dunia TV. Dan itu bukan cita-cita. Karena emang latar belakang keluarga saya, gak membentuk saya untuk punya cita-cita jadi seorang jurnalis. Ayah saya ingin semua anaknya jadi dokter. What??

Akhirnya saya sempet ikutan deh jadi host acara perjalanan 3 wanita beberapa tahun lalu. Sempet kecewa, karena bukan seperti pekerjaan yang saya bayangkan sebelumnya. Tapi, aslih kalau mau jujur, itu kerjaan paling cihui sedunia. Jalan-jalan keliling Indonesia, gratis. Siapa yang ga mau?

Kecewanya, karena di acara itu, saya dan dua teman saya lainnya, sekedar jadi host. Kok sekedar sih? Ya, maksudnya gitu. Karena ada produser dan kreatif yang merancang skenario programnya. Kita? Ya nge-host. Tapi, itu namanya rejeki. Harus disyukuri. Karena dari situ saya jadi tau dunia TV. Gimana bikin program, sedikit banyak lah. Ngerti. Learning by doing. Dan yang paling oke adalah, karena dari situ saya jadi punya sahabat-sahabat hebat, yang banyak ngajarin saya berpikir kreatif. Alhamdulillah, persahabatan itu tetap langgeng sampai sekarang, walaupun program acaranya udah ga ada. Hehe.

Nah, kalau sekarang ini, ni. Udah boleh kali ya, ngaku sebagai Jurnalis. Hampir tiga tahun mengabdi pada salah satu TV yang tergabung dalam grup media terbesar di Indonesia. Milik konglomerat yang sedang sibuk mencalonkan diri menjadi wakil presiden dalam pilpres 2014 mendatang. Ga usah sebut nama, udah pada tau siapa kan. Errr.

Hingga hari ini, saya masih sulit menjelaskan mengapa saya masih betah menjadi jurnalis. Jika orang bekerja karena untuk mencari uang, memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, ini lah segelintir gambaran mencari uang di dunia jurnalis.

Tidak ada jurnalis yang kaya. Kalau belakangan marak demo buruh yang menuntut penghasilan hingga 3.7 juta rupiah, mungkin seharusnya jurnalis pun turut berpartisipasi. Karena masih banyak jurnalis yang dibayar dengan upah dibawah angka tersebut. Yang masih, tunjuk tangan? Haha, atau pura-pura ga tau aja kali ya. Mereka bisa saja bekerja dengan membawa bendera media yang namanya sudah berkibar di Indonesia. Tapi, bukan berarti awak-awak media berseragam itu turut memiliki kantong tebal selaras dengan kantong tebal para pemiliknya. Sungguh, bukan ini poinnya. Bukan gaji pula yang ingin saya curahkan di sini. Intinya, kalau mau jadi orang kaya, jangan jadi jurnalis. Itu yang saya sampai di beberapa postingan terkait dunia jurnalis.

Tidak ada yang lebih bangga dari keberhasilan membuat karya. Itulah harga diri seorang jurnalis. Bukan dilihat dari seberapa besar atau seberapa wah penghargaan yang diterimanya. Tapi bagaimana mereka tetap bebas berkarya kemudian dihargai oleh sebagai besar masyarakat atau golongan tertentu, bahkan bermanfaat bagi sejumlah kalangan.

Kembali, pada Hari Pers Nasional yang berlangsung 9 Februari 2013 lalu di Manado. Meski hanya di panggung sederhana, saya merasa beruntung bisa berbagi cerita kepada sejumlah masyarakat lokal Manado tentang pengalaman selama menjadi jurnalis. Sepanggung dengan beberapa Jurnalis senior seperti Arif Suditomo dan Ario Ardi. Sejujurnya, saya tidak peduli, bendera media apa yang sedang saya bawa saat itu. Saya begitu antusias berbagi cerita kepada sejumlah pemuda yang menyempatkan diri untuk mampir ke panggung yang dibangun di salah satu Mall terbesar di Manado itu. Melihat masih banyak diantara mereka yang peduli dengan kebebasan pers di masa kini. Mudah-mudahan generasi muda sekarang jauh lebih pintar dan tidak terjebak arus menyimpang yang dibawa pendahulu-pendahulunya ke arah yang salah bahkan merugikan.

Saya sendiri, tidak terlalu idealis soal sejarah Hari Pers Nasional bertepatan dengan hari ulang tahun PWI (Persatuan Wartawan Indonesia). Bertepatan atau tidak, toh kita semua adalah bagian dari pers dan mestinya turut berpartisipasi menjujung integritas pers. Bagi saya, pers itu sesederhana berkarya tanpa kepentingan. Entah itu kepentingan golongan atau kepentingan diri sendiri.

Naif? Selamat Hari Pers Nasional 2013, tetap jaya di darat, laut dan udara.

 

 

 

Posted in Oh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s