Bernama Bandara

Saya selalu suka Bandara. Karena ketika di sana itu, saya akan pergi ke suatu tempat. Bukan tempat tinggal saya. Bukan rumah, bukan Jakarta. Keluar dari rutinitas yang biasa saya lakukan.

Tak selalu itu. Bisa juga kan, ke Bandara sekedar mengantar atau menjemput seseorang. Dan saya? Tetap suka, dengan suka yang berbeda.

Bagi saya, bangunan terminal megah dengan landasan pesawat yang luas merupakan salah satu perpaduan pas, untuk merasakan kerennya semesta. Selain berbagai pesona alam yang disediakan penjuru dunia oleh Sang Maha Pencipta, saya tetap suka bangunan yang selalu sibuk dua puluh empat jam ini.  

Saya bisa menangis saat melepas keberangkatan haji ibu saya waktu itu. Di bandara. Begitu juga, haru merindukan kedatangannya kembali ke tanah air, dengan selamat. Gak pernah se-drama ini dengan orangtua sendiri.

Atau begitu bahagia, menyambut keberangkatan menuju tempat liburan. Saatnya kita bersenang-senang. Langkah pertama itu dari Bandara. Dan mengucapkan selamat tinggal sementara dari ribet-nya Jakarta. Mari kita berpesta.

Saya ingat, betapa serunya saya mengejar-ngejar counter check-in saat pesawat menuju Balikpapan sudah mau berangkat lima belas menit lagi. Beruntung, pintu pesawat belum ditutup. Hanya sempat melirik sebentar, pada seseorang yang berbaik hati mengantar saya dini hari itu. Sekadar sinyal yang memberitahukan, saya berangkat. Sampai ketemu lagi. Nanti, nanti. Atau tidak lagi untuk selamanya.

Jenuh, saat kelelahan sehabis dinas luar kota yang berkepanjangan, dan masih harus menunggu antrian taksi tak berujung, karena saya mendarat tepat pada jam-jam sibuk. Sore itu. Nomor antrian taksi harus mengalah satu demi satu. Menunggu bersama bekas penumpang lainnya, yang saya rasa, sama lelahnya dengan saya. Ingin segera sampai ke rumah. Dan, tidur. Saya menikmati masa-masa menunggu, melihat hilir mudik orang dan kendaraan. Sesekali mendengar deru pesawat yang segera mendarat.

Melepas kepergian sahabat sekaligus pahlawan hidup saya. Menghabiskan waktu di kedai kopi atau sarapan di salah satu restoran cepat saji, sebelum waktu boarding-nya tiba. Menunggunya dua minggu lagi kembali ke ibu kota. Dia berangkat, saya kembali menembus jalanan ibukota. Kembali ke rutinitas saya seperti biasa.

Jaman hati penuh cinta, melepas kepergian kekasih hati untuk merantau ke negeri seberang. Menunggu waktu dia kembali yang tak kunjung datang. Datang pun, mungkin bukan saya yang ia cari. Begitu pentingnya cinta itu bagi saya, tidak bagi dia. Di Bandara, rasa itu menjadi tak karuan.

Malam itu, saya melepas kepergian Imim. Untuk pertama kali nya atau ya, kesekian kalinya Imim kembali ke timur Indonesia. Merelakan dia dengan hidup barunya, yang tetap selalu terasa baru untuk saya. Rasanya, gak pernah percaya saya mampu menghadapi kehidupan seperti ini. jauh dari Imim. Saat Imim masih berstatus tunangan orang, saat ia akhirnya memilih untuk single, saat ia berstatus tunangan suaminya kini, atau melepasnya saat ia satu paket dengan #barrakha. Jenis airmata lagi yang terasa sakit di tenggorokan.

Malam itu, satu rasa yang berbeda. Dari Manado, rasanya semakin gak sabar untuk segera sampai di Ibukota. Tidak pernah sesemangat ini. Bukan untuk mencari tempat tidur kesayangan saya itu. Mengeluhkan mengapa singa terbang itu tak bergegas untuk langsung tancap kembali ke Ibukota. Benci harus mampir ke kota yang akan menjadi pilihan terakhir untuk saya kunjungi lagi selain Palembang. Bahkan, untuk sekedar transit pun sama sekali tidak menarik.

Saya, hanya ingin secepatnya kembali ke Ibukota. Mengamini apa-apa yang diharapkan, dia yang tengah menanti kedatangan saya. Pulang. Tanpa ada embel-embel delay. Adakah yang lebih bahagia dari melihatnya menyeruak di antara keramaian para penjemput lainnya. Katakanlah saya berlebihan. So what. Haha.

Tak pernah sesemangat ini menyapa Jakarta. Ingin segera berpetualang di padatnya lalu lintas ibu kota. Kembali dengan keseharian. Bekerja dan bertanggungjawab. Asalkan bersama.

Bandara. Dengan sejuta rasa.

Posted in Oh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s