Haha!

Karena hidup cuma sekali, itu sebabnya sebagian kita lebih senang menghadapi hari dengan tertawa daripada menangis. Kalau boleh memilih. Banyak orang bijak bilang, hidup ini terlalu singkat jika dihabiskan dengan bersedih. Benar? Ada benarnya. Kenyataannya? Gak semudah itu. Saya yakin, gak cuma saya yang berpendapat demikian.

Berteori atau berkata-kata jelas lebih gampang daripada realisasinya. Hehe. Oke, bukan itu.

Gegara kita lebih senang tertawa, sering kali kita gak bisa memilah mana-mana menempatkan tawa yang tepat. Gak semua yang kita pikir konyol atau lucu, pun lucu bagi orang lain. Niatnya menghibur, blah si empunya kisah malah tersinggung.  Continue reading

Advertisements
Posted in Oh

Yang Asli

Seperti biasa, salah satu aktivitas pagi saya sebelum benar-benar bangun menghadapi realita, ya, ngutak ngatik handphone. Nah, kalau soal mantau twitter atau #kepo sana sini si, gak usah dibahas lagi, ya. Eh, kok #kepo si bahasanya, lebih tepatnya pengen update aja kali. Hehe.

Masih, ga jauh soal #kepo si sebenarnya. Bentar, kenapa #kepo harus pake ‘hashtag’ si, korban social media banget ga tuh. Nah, iya, pokoknya seputar update kecanggihan terkini deh, ya. Sejak bergabung sebagai pemilik account instagram kira-kira dua tahun silam, saya jadi suka terkagum-kagum dengan kekerenan foto orang-orang dan foto hasil jepretan saya sendiri yang di-upload di instagram. Dih, pede banget sih. Bukan itu point-nya. Hehe.  Continue reading

Posted in Oh