Yang Asli

Seperti biasa, salah satu aktivitas pagi saya sebelum benar-benar bangun menghadapi realita, ya, ngutak ngatik handphone. Nah, kalau soal mantau twitter atau #kepo sana sini si, gak usah dibahas lagi, ya. Eh, kok #kepo si bahasanya, lebih tepatnya pengen update aja kali. Hehe.

Masih, ga jauh soal #kepo si sebenarnya. Bentar, kenapa #kepo harus pake ‘hashtag’ si, korban social media banget ga tuh. Nah, iya, pokoknya seputar update kecanggihan terkini deh, ya. Sejak bergabung sebagai pemilik account instagram kira-kira dua tahun silam, saya jadi suka terkagum-kagum dengan kekerenan foto orang-orang dan foto hasil jepretan saya sendiri yang di-upload di instagram. Dih, pede banget sih. Bukan itu point-nya. Hehe. 

Tapi, emang gak heran juga si, kalau foto-foto itu jadi super canggih karena, sekarang, udah banyak banget aplikasi buat edit foto yang super gampang (saya aja bisa, soalnya, hehe), yang dapat merubah foto biasa jadi keren. Saya? Belum termasuk yang sukses dengan edit-meng-edit itu. Tapi, ya, tetap santai dong ya, buat upload foto di instagram. Toh, ga selamanya instagram itu jadi ajang show foto-foto keren. Ada juga yang jadi in instagram buat upload foto-foto gak keren (ya, kan?) atau jadi buku harian, curhat, pamer lagi ke mana sama siapa (meskipun hasil foto nampak blur), narsis atau bahkan jualan. Bebas!

Nah, ini salah satu pertanyaan ‘penting’ yang sebenarnya mungkin, mmh, well, okay, a-be-ge banget.

“Eh, foto-foto instagram gw keren ga sih?”

Kalau biasanya jawaban yang kita denger, adalah: “eh, iyaa, keren-keren, deh” alias jawab basa-basi biar si penanya ga kecewa, atau jawaban standar antar temen “plis, deh, din” beda dengan yang satu ini. Dengan setengah basa-basi setengah jujur. Gini jawabannya.

“Mmmh, agak susah sii, ngebedainya, soalnya editan sekarang suka nipu nih” Glugkh! Ini bener bangget. Dari mulai aplikasi camera 360′ tuh, atau apa ya namanya yang bisa bikin muka kita terlihat super kinclong dibanding aslinya, sampai yang standar sekedar buat ngerubah tune foto.

Kalau kita mau cari referensi ntah itu referensi person atau place, jadi mulai ragu-ragu. ‘Ini orang beneran cakep ga ya?’ (bagi agensi model) atau ‘ini tempat beneran bagus ga ya? Atau cuma editannya doang yang keren?’ Nah, loh.

Saya, mendadak jadi ga bersemangat buat instal aplikasi editan foto begitu. Haha, labil yes? Iyalah. Kalau gak labil, mestinya ya kita tetap bisa enjoy dong, no matter apa yang mereka bilang soal foto yang udah beda sama aslinya. Dan saya yakin, masih banyak orang yang tetap enjoy. Ya, emang so what, sih, pake editan begituan hehe.

Tapi, makin ke sini, ya itu, ntah karena saya terpengaruh dengan kata-kata orang yang in shaa Allah akan jadi my future imam (ehem-in dulu aja deh, atau amin-in, hehe), atau entah karena idealisme (nah ini, ciee, juga boleh deh, hari gini masih ngomongin idealis?) saya yang emang  prefer sama yang asli. Makin ke sini saya makin mengurangi editan foto-foto itu. Niatan ke depan si, mau hapus aja, yang ga kepake (langsung mikir, yang kepake yang mana nih? dibuang sayang, hehe).

Sok-sok an asli? Jawabannya sederhana aja sih. Waktu liat buku best seller bajakan dijual sama abang-abang pinggir jalan? Saya langsung keukeuh gak mau beli, seberapa pengennya pun saya buat punya buku itu. Rela nabung, sampe 4 bulan biar bisa beli bukunya. Asli. Itu kan karya, beli yang asli adalah bentuk kita menghargai karyanya. Ya, mungkin nanti kalau saya punya buku, jualnya gak mahal-mahal amat kali, ya. Biar ilmunya sampe ke semua kalangan (ga hanya kalangan berduit) atau bikin ‘ajang’ buat bagi buku gratis. Jadi, buku gratisnya sampai ke tangan yang membutuhkan. Sama kaya buku kuliah. Kebayang dong, anak kosan. Uang jajan terbatas. Kudu pinter-pinter ngakalin jajan, ya salah satunya, beli buku foto kopi an (alias bajakan) Saya? Termasuk yang agak lebay karena pengen beli bukunya yang asli. Bukan, bukan karena saya dikasih jajan berlebihan. DEMI apa pun (biar pada percaya). Tapi, emang rasanya begimana gitu, ya, baca buku bajakan. Kaya ga sepenuh hati. Karena buat saya, buku itu investasi ga cuma buat setahun dua tahun. Tapi bakal warisan anak cucu saya. (Kesian ga ya, anak cucu kalau diwarisin buku, hiks, damai ah). Ya itu intinya, selain alasan klise, baca buku yang asli jauh lebih semangat karena cetakannya lebih bagus. Hehe. Well, kalau terpaksa harus pake bajakan, saya lebih suka lengseran kakak kelas, atau nebeng buku bajakan temen. Hehe, even worst? Ah, yang penting ga beli.

Sejak itu, saya lebih suka sesuatu yang asli dari mulai baju, tas, DVD, sampai handphone. Mungkin itu juga kali ya, yang bikin saya lebih suka beli DVD indonesia. Sama ini nih. Kapan waktu saya pernah ke iBox di salah satu mall. Ada yang komplen karena CD Player nya kenapa gitu, usut punya usut, CD Player nya rusak karena suka dipake nonton bajakan. Saya makin semakin takut aja kan tuh, maklum aja, ya, meski pengguna macbook pro 13 inc yang udah mulai ketinggalan karena udah ada versi retinanya, tapi saya gak sanggup kalau harus reparasi begituan. Segala macam yang rusak terkait rancangan Steve Jobs ini mahal nya bikin saya gak bisa makan sebulan bahkan dua bulan kayanya. Hehe. *mulai merunduk dan berdoa*

Tapi itu? Emang ada handphone palsu?

Ah, sudah lah intinya begitu. Daripada kemudian nulis beginian malah di razia barang-barang palsu? Hehe, namanya juga usaha, sih. Udah, ah. *beberes barang-barang palsu*

Posted in Oh

2 thoughts on “Yang Asli

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s