Hello Agung

Tentu saja ini bukan cerita cinta karna ada lelaki baru dalam hidup saya bernama Agung. Ini cerita suddenly Bali kemaren yang diisi dengan mendaki Gunung Agung.

Saat nafas saya mulai habis sementara mencapai puncak gunung masih jauh, yang ada dalam pikiran saya saat itu, ah, saya kangen blog ini. Saya kangen dataran. Sekali lagi, dataran dengan kemiringan nol derajat. Bukan kemiringan 50 – 70 derajat yang seolah tak berujung itu. Saya kangen menghirup aroma kopi di coffee shop langganan sambil cetak cetik ntah apa. Dan saya harus cerita soal ini. Soal pengalaman mendaki Gunung Agung, yang merupakan gunung tertinggi di Bali, 3.142 mdpl. Memang Gunung Agung tidak termasuk 10 gunung yang paling tinggi di Indonesia. Tapi, gunung ini gak boleh disepelekan. Apalagi bagi pendaki pemula seperti saya. Hehe.

Ah, agak malu sendiri karena aslinya saya bukan seorang pendaki, tapi Gunung yang terkenal sebagai gunungnya orang-orang sakti ini juga bukan gunung pertama yang saya daki. Selain beberapa kali petualangan dengan medan berat juga pernah saya hadapi, okelah, saya mengaku saya senang bertualang, tapi tualang jenis Sagitarius. If you know what I mean. Sesuatu yang menantang. Really, saya bukan bermaksud menantang alam. Oke, saya ganti aja. Saya senang sesuatu yang seru. Silakan definisikan masing-masing ya, seru itu yang gimana. Bebas.

Dan liburan Bali saya kali ini berbeda dari Bali Bali sebelumnya. Semula, pantai dan permainan airnya, adalah list wajib yang harus dikunjungi dan dilakukan di Bali. Ya kan?

Tapi, tidak bagi saya kali ini. Ketika keluar dari Jakarta? Satu-satu nya yang saya inginkan adalah ketenangan. Menyedihkan ga si kalimatnya? Mungkin ini kalimat senasib seperasaan bagi para budak kehidupan macam saya. Ah, kalimat saya barusan malah sama menyedihkannya dengan keinginan saya, yang itu tadi, ketenangan.

Oke, kita balik lagi pada niatan awal. Bagaimana perjuangan saya dan tim yang akhirnya menyapa Puncak Gunung Agung.

Setelah Minggu pagi merasakan serunya 10 K Bali Marathon, malam hari kita berniat untuk naik Gunung Agung. Cape? Sejujurnya enggak. Kami, tepatnya saya sebenarnya euphoria. Tapi, kita mengundur rencana naik pada malam hari. Kata Om Syiham, awan sedang tebal. Lagi pula, ia merasa belum cukup istirahat setelah 10 K. Sejujurnya, saya juga ga bisa tidur, si, setelah 10 K pagi itu. Tapi saking semangatnya, saya pasrah, mau berangkat kapan aja. Hehe. Namanya juga nebeng, om.

Habis subuh, kita sudah dijemput di hotel tempat kita menginap, di Sanur. Sekitar satu setengah jam, kita sampai di mula pendakian. Perjalanan menuju start pendakian, saya full tidur, jadi sejujurnya, informasi soal satu setengah jam perjalanan dari Sanur itu murni saya dapat dari supir perjalanan

Pura Gunung Agung. Brrr, udara dingin sekali pagi itu. Malam sebelumnya, kami sudah siap dengan ‘ranger’ atau ‘juru kunci’ yang siap menunjukkan jalan pendakian Gunung Agung. Belum lagi ranger yang kami sewa datang, sudah ramai yang menawarkan. Kami tetap menunggu ranger yang sudah kami sewa, karena sudah kepalang janji.

Tidak lama, seorang pemuda dengan sepatu olahraga butut nya datang menyapa kami dengan ramah. Rupanya, dialah yang akan menjadi penunjuk pendakian kami. Saya pun, optimis dapat mencapai puncak pendakian karena kebetulan saya pun hanya menggunakan sepatu lari, modal alas kaki Bali Marathon hari sebelumnya, sementara Zandi dan Om Syiham sudah siap dengan sepatu trail khusus buat naik gunung. Bukan karena udah prepare pengen naik gunung, tapi karena beberapa laki-laki memang sudah biasa traveling pake sepatu gunung. Jadi kalau tiba-tiba mau naik gunung, setidaknya sudah siap sepatunya.

Kami pun memulai perjalanan pukul 6 pagi. Seharusnya pendakian mulai pukul 5. Telat sejam, gapapa. Tepat ketika kami akan naik, kami bertemu rombongan pendaki yang berteriak girang ketika sudah sampai titik keberangkatan. Rupanya, bukan karena mereka berhasil mencapai puncak, kemudian selamat sampai bawah kembali. Bukan karena itu. Mereka gagal sampai puncak karena badai semalam. Alhamdulillah, kami tidak jadi berangkat pada malam sebelumnya.

Bismillah. Om Syiham mengingatkan kami semua agar tidak memaksakan diri harus sampai puncak jika kondisi alam tidak bersahabat. Karena ini bagian dari liburan, semua yang mendaki harus enjoy.  Datta si ranger yang menemani perjalanan kami pun, beribadah dulu di Pura Agung – titik keberangkatan, sebelum memulai pendakian.

Ini dia yang membedakan naik gunung di Bali dengan naik gunung di daerah lain. Dari alur pendakian yang berbatu dengan vegetasi pohon yang masih rapat, sayup-sayup terdengar suara penduduk asli yang sedang beribadah. Ya, di salah satu titik, masih kita temukan tempat beribadah umat Hindu asli Bali. Di hari beribadahnya mereka juga turut memberikan persembahan sesajen untuk Dewa Agung.

Sejam dan dua jam pertama masih aman. Selain kita berlima, kami diikuti rombongan monyet. Hah. Mudah-mudahan bukan monyet jelmaan. Beberapa kali monyet monyet ini berusaha merebut perbekalan yang sudah kami siapkan. Dan akhirnya berusaha merebut roti yang sedang disantap turis Malaysia yang juga salah satu turis yang bergabung dalam rombongan kecil kami. Padahal, sudah ada jatah sendiri buat monyetnya, loh.

Vegetasi mulai berubah sesuai ketinggian. Tinggal batang pohon dan rantingnya. Tanpa daun. Batu-batuan semakin besar. kemiringan pun semakin terjal. Perjalanan semakin berat. Kami diarahkan untuk tidak terpisah satu sama lain, karena alurnya tidak lagi mudah ditebak. Angin semakin kencang dan hujan. Kami nyaris mencapai puncak, senyaris kata menyerah yang sudah tertanam dalam benak saya, sejak hampir 4 jam perjalanan dan belum ada tanda-tanda sampai. Padahal normalnya, sekitar 3.5 jam para pendaki sudah bisa mencapai puncak. Ranger yang mengarahkan kami, terus-terusan menyemangati kami, dan bilang sedikit lagi. Sudah bukan hal yang mengejutkan, kalau ukuran ‘sedikit’ bagi mereka jauh berbeda bagi kita.

Di beberapa titik kami terpaksa berhenti, karena angin terlalu kencang untuk kami terabas. Kami melengkapi pengaman dengan jas hujan berponco. Pasrah. Mengandalkan kekuatan tangan untuk bertahan dan berharap tidak ada batu yang jatuh dari atas. Kemiringan nyaris 70′.

Ketika angin mulai semilir, kami melanjutkan perjalanan. Tidak menyerah. Berkali-kali kami mau saja dibohongi dengan kata-kata ‘sedikit lagi sampai’.

Dan akhirnya, saya yang pertama kali sampai di puncak. Alhamdulillah. Tentu saja bukan karena saya yang paling kuat dan tangguh dalam pendakian ini. Tapi karena saya diposisi paling atas, agar lebih aman. Mungkin kalau terpeleset, ada yang menampung di bawahnya. Entah, saya tak mampu berpikir lagi waktu itu. Saya berharap bisa berjumpa dengan dataran sedikit saja. Berbaring meluruskan kaki. Dengan rasa bahagia dan haru, saya berteriak pada yang lain, bahwa saya sudah sampai pada puncak yang sebenarnya. Yang lain pun begitu. Akhirnya, sampai juga di puncak Dewa Agung. Pelataran puncak tidak cukup luas untuk beristirahat. Tapi masih bisa untuk selonjoran kaki walaupun harus berhati-hati. Karena kalau meleset sedikit, kita bisa jatuh ke kawahnya. Untungnya, tepat sampai puncak, udara cukup cerah. Kawahnya berkabut, tetapi sekali-kali kabut menyingkir, sehingga kami bisa melihat langit dan merasakan pemandangan dari puncak Gunung Agung.

Tidak lupa, Datta yang beragama Hindu sembahyang kepada Dewa Trimurti. Wisnu, Brahma, dan Siwa. Naga-naga yang mengelilinginya sebagai pejaga. Mungkin lebih dari setengah jam kami di Puncak Gunung Agung. Tidak bisa lebih lama lagi. Hujan mulai terasa rintik rintik. Kami harus bergegas memulai perjalanan untuk pulang, sebelum terjebak badai di tengah penurunan. Sama sekali tak siap jika harus bermalam di Gunung Agung. Jangankan bermalam, berjalan dalam gelap pun kami tak cukup cahaya.

Perjalanan pulang tak lebih mudah dari pendakian. Kemiringannya yang sangat sangat membuat kami harus berupaya keras menahan berat badan. Saya berusaha lebih santai. Yang ada dalam benak saya, ah, pasrah saja. Yang penting sudah sampai puncak. Tak mengejar apa-apa, kecuali jadwal besok, yang seharusnya sudah kembali masuk kantor.

Berusaha mempercepat langkah, saya gagal untuk sampai dengan kondisi masih terang. Saya menikmati matahari terbenam dalam hutan. Boleh kah saya menyerah? Hanya saya yang bisa menolong diri saya sendiri. Tak ada lagi yang bisa. Saya harus bertahan untuk sampai dengan selamat. Mereka semua, sama cape dengan saya.

Dengan penuh haru, 12 perjalanan menelusuri Gunung Agung. Om Syiham sudah sampai duluan. Zandi tetap berjalan mengiringi saya. Alhamdulillah, satu lagi gunung yang berhasil kami daki. Kami sampai tak kurang satu apa pun. Kecuali kaki yang tak sanggup lagi digerakkan. Sakit.

Perjalanan kembali menuju hotel kami tutup dengan makan ikan bakar di salah satu restoran. Lupa namanya, restoran berukuran cukup mewah tapi sepi, malam itu. Ikan bakar terlezat yang pernah saya nikmati. Lengkap dengan es teh manisnya.

Dan rindu akan dataran, akhirnya terbayar. Dan saya akan menebus keesokan harinya dengan berjalan di pantai. Datar.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s