Kisah Pasukan Kereta

Baru saja saya membatin soal perjuangan naik kereta pagi, bertepatan dengan kecelakaan sebuah mobil tangki yang menabrak gerbong kereta dan memakan sejumah korban jiwa dan luka-luka. Ketika suatu pagi, akhirnya saya memutuskan untuk kembali menjadi pasukan kereta lagi. Istilah yang saya kutip dari teman-teman seperjuangan yang mengandalkan commuter line untuk berangkat ke tempat kerjanya setiap hari.

Ketika sudah tidak tahan harus nyetir di pagi buta, dan harus terjebak macet ketika terlambat beberapa menit keluar rumah, saya pikir lebih baik naik kereta saja. Jalanan tidak pernah bersahabat. Belum lagi, pulangnya, saya harus kembali membawa pulang kendaraan itu, karena meninggalkan mobil di parkiran kantor menjadi masalah baru.

Jalanan bukan sahabat yang baik. Saya pernah pulang kantor pukul dua siang, karena masih ingin menyelesaikan banyak urusan. Ternyata, macetnya 11-12 sama macet pagi. OMG, jam dua sama sekali bukan jam bubaran kantor kan?

Dalam hati, saya salut dengan perempuan-perempuan ksatria yang berjuang naik kereta, dempet-dempetan pada jam sibuk, setiap pagi. Ini rutin, bukan hanya sekali dua kali. Kemudian harus merasakan hal yang sama ketika pulangnya. Perjuangan untuk memperoleh sejumlah gaji yang diterima pada akhir bulan. Tidak sedikit yang meninggalkan suaminya lebih dulu untuk mengejar waktu agar tidak terlambat sampai kantor. Yang lebih miris, banyak yang terpaksa meninggalkan buah hatinya yang masih kecil, dititipkan ke tetangga atau pembantu. Belum lagi sempat mereka bertatap muka, tatap muka antara ibu dan anak. Ibu sudah harus berangkar. Demi mencari nafkah. Demi uang. Demi keluarga. Demi bertahan hidup di Jakarta. Atau demi eksistensi diri di masyarakat. Demi apa pun itu, kita melakukannya. Mengorbankan sesuatu, yang sebenarnya kita anggap lebih penting.

Sulit menjelaskan bagaimana padatnya kereta pada jam-jam sibuk, bagi yang tidak pernah merasakan sendiri. Berulang kali, saya cerita pada Zandi, kereta pagi sangat padat. Tanggapannya ya, miris, tapi, saya yakin dia belum akan benar-benar paham sampai merasakannya sendiri. Hehe.

Kita semua membayar rupiah yang sama. Apa yang kita harapkan dengan membayar 3000 rupiah. Dengan jumlah itu, saya bisa sampai kantor tanpa hambatan macet. Jauh lebih baik, dari pada menghadapi kemacetan jalanan yang udah ga bisa diterima dengan logika. Saya pikir, orang Jakarta kuat-kuat banget ya, jajalin macet. Dan itu udah berlangsung sejak pagi. Pernah satu ketika saya berangkat pukul 5 pagi. Terlalu pagi buat saya, tapi berharap bisa ngebut dan cepat sampai kantor. Ternyata? Jalanan tidak sesepi yang saya bayangkan. Memang sih, tidak mandek, tapi cukup ramai. Ramai lancar. Rupanya, ide untuk berangkat pukul 5 pagi agar tidak terjebak macet, tidak hanya terjadi pada saya. Dilakukan oleh sangat banyak warga Jakarta dan warga pinggiran Jakarta yang bekerja di Jakarta. Jadilah, pukul 5 liwat jalanan sudah ramai dengan semangat pagi dari para pengendara mobil dan sepeda motor.

Bagi saya, naik kereta menjadi tantangan pagi yang memacu adrenalin saya. Mungkin karena belum lagi genap dua bulan saya menjadi pasker (pasukan kereta). Tapi kalau sepanjang hidup saya menghabiskan waktu dengan berjejalan di kereta? Lain lagi ceritanya. Bisa saja jenuh, bisa saja emosih, atau mungkin mati rasa. Haha.

Ketika memutuskan naik kereta pada pagi hari di hari kerja, saya sudah siap dengan kostum paling ringkas. Sepatu, ogah yang bagus. Cr*cs pilihan tepat. Kena hujan aman, diinjek-injek pun pasrah. Satu lagi, pemilihan tas. Pake tas wajib yang bisa direseleting. Karena saat berjejalan di kereta, tas bisa saja dalam posisi terbalik yang membuat semua isi tas tumpah. Ah, ga kebayang kalau isi tas harus tumpah di tengah padatnya kereta pagi. Belum lagi kalau ada orang-orang gak punya hati yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan untuk nyopet. Sebagian orang memasrahkan tasnya diletakkan di tempat khusus tas di bagian atas bangku kereta. Meski saya belum pernah atau sempat melakukan itu, tapi di jam-jam sibuk, tempat khusus tas itu selalu padat dengan berbagai jenis tas perempuan. Kulit, imitasi, asli atau palsu. Hehe.

Naik kereta pagi, penuh cerita. Di gerbong wanita, perempuan-perempuan itu tampak kompak men-support satu sama lain. Memberi instruksi pada yang lain, seperti “geser pelan-pelan, bu” atau “dorong aja bu” meski sebenarnya tidak ada lagi space untuk bergerak atau instrukti itu sama saja seperti mempersilakan diri sendiri untuk didorong, agar penumpang lain bisa masuk dan berdiri dengan layak. Layak? Agak bingung mengambil istilah yang pas untuk berdiri. Berdiri dengan layak, nyaman, aman, atau apa ya? Mungkin yang penting berdiri. Hehe.

Berkali-kali saya menemukan penumpang yang pingsan. Entah karena sedang tidak enak badan, atau memang tidak sanggup menahan sesaknya kereta. Masih banyak lagi strategi khusus naik kereta, tapi berhubung pengalaman jadi pasukan kereta masih seumur jagung, ada baiknya, strateginya kita serahkan kepada yang lebih berwenang. Haha!

Dan pagi itu, saya dengar berita, gerbong wanita kereta Serpong – Tanah Abang terbalik akibat tabrakan dengan mobil tangki BBM. Innalillahiwainnailaihi rojiun. Merinding dengar beritanya. Perjuangan perempuan-perempuan ksatria dalam kereta selesai hari itu, hari ketika sebagian dari mereka, menghembuskan nafas terakhirnya dalam kecelakaan yang menggemparkan seluruh warga Jakarta terutama para pengguna kereta. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan dan mereka yang mendahului kita mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT.

Sore setelah mendengar dan menyimak kabar kecelakaan itu marak diberitakan di seluruh media, saya pulang, tetap dengan kereta commuter line. Karena kereta yang saya naiki beda jalur sama yang kecelakaan, jadi, kereta tetap beroperasi. Bismillahirrohmanirohim. Saya melaju bersama kereta itu, menikmati kereta bergulir pada relnya. Bersama penumpang lain yang tak punya pilihan. Kereta tetap andalan untuk pulang. Alhamdulillah, selamat sampai rumah, pulang lebih cepat dari Zandi.

Ditemani rintik hujan, rumah rapih, seduh kopi sambil baca buku. Life’s so beautiful.

 

One thought on “Kisah Pasukan Kereta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s