Dengan Istri Tentara

Here I go again! Di tengah kegalauan, mau ngapain. Banyak yang harus dilakuin tapi kehalang sama ini itu. Harus nunggu ini itu.

Well, pingin ngomongin ini sebenarnya. Agak-agak terharu dengan postingan saya di kategori ‘kehidupan tentara’ yang mendapat respon luar biasa (untuk ukuran blog sepi) ini. Postingan di kategori itu yang kayanya terakhir update tahun 2009? Atau 2008, masih mendapat komentar dari googlers sampai sekarang. Iya, sekarang, di awal tahun 2015. Padahal saya udah update sih, bahwa saya ga bergelut lagi di dunia itu. Hehe. Tapi tetep aja, update-an nya ga dihiraukan karna yang penting bukan itu. Mungkin bagi mereka seru aja baca curhatan dari senasib sepenanggungan. Hehe.

Seneng juga sii, karna beberapa postingan bisa jadi ajang diskusi bagi sesama (calon atau) ibu PERSIT. Mudah-mudahan ada yang lanjut jadi kenalan dan mempererat tali silaturahim, ya. Amiin. Syukur syukur ada yang calon istri jenderal atau malah udah jadi istri jenderal beneran. Hehe, ngayal ketinggian (gapapa). Mang ada istri jenderal sempet mampir ke blog beginian? Wallahualam. Ngimpi aja dulu.

Pasalnya hampir setahun belakangan, saya berpartner usaha dengan seorang istri tentara (yaitu kembaran saya sendiri). Yes, saya pernah ‘pacaran sama tentara’ tapi yang kawin sama tentara malah kembaran saya. Mari ucapkan Alhamdulillah bersama-sama. Hehe.

Awalnya, semua berjalan lancar karena partner saya juga berdomisili di Jakarta (tempat lokasi usaha dirintis). Kemudian, beberapa bulan belakangan, si istri tentara harus mengikuti suami yang juga pindah tugas ke Sragen, salah satu Kabupaten di Jawa Tengah, sekitar satu jam dari Solo, kota asalnya Presiden Jokowi yang juga merupakan Ibukota Propinsi Jawa Tengah.

Dan cobaan pun dimulai. Ya, saya emang ketergantungan kudu berpartner. Maklum aja sudah berpartner sejak dalam perut Ibuk, ya, kan.

Benar kata para tetua. Usaha itu gampang-gampang susah. Pasti ada naik turunnya. Dan yang berhasil adalah yang sanggup bertahan dan bangkit lagi. Ga nyerah.

Kadang agak terngiang juga si, sama kata orang yang bilang kalau usaha kaya gini sampe gagal si keterlaluan. Dalam hati, yahhh, gak ngerasain sii. Jadi bisa ngomong begitu. Karena idealnya, udah ngikutin alur aja belum tentu sukses, apalagi yang belok belok (dan cupu masih belajar kaya saya) Hehe. Sama aja kaya hidup kan.

Istilah kata, kenapa si dalam islam kita udah taat Al-quran tapi bisa jatuh juga? Itu dia, cobaan. Ga selamanya sesuai garisnya. Begitu pula usaha. Ada aja cobaannya. Ga selamanya sesuai dengan yang kita rencanakan, dan kita impikan.

Saya sendiri siihh, ga berani berkomentar terlalu dalem karna takut dikata sotoy. Yaa, biar kata ini bukan pertama kalinya saya berwirausaha, tapi asli pengalaman saya masi dikit banget.

Dan biar cuma dikit, tapi cobaannya udah lumayan. Mungkin ke depannya masih akan lebih berat. Yuhuuu, kita jalanin aja lah ya.

Cobaan pertama tentu saja yang lazim dirasakan semua yang bergelut di dunia usaha (kecil). Kalau sukses dimanfaatin, kalo gagal ditinggalin. Ya kalo sukses dideketin biar kecipratan, kalo gagal dijauhin takut diutangin. Whehehe. Ada yang merasakan hal sama? Mudah-mudahan partner saya yang sekarang (si istri tentara) tidak begitu ya. Wong, insya Allah sudah teruji 29 tahun hidup bersama (lah kok jadi sebut umur?), she stay with me no matter saya terpuruk atau lagi naik daun. Ciee.

Cukup cobaan pertamanya. Cobaan yang saya pingin bicarakan adalah berpartner dengan istri tentara. Yang sedang fokus dengan kegiatan PERSIT nya yang super sibuk. Pasalnya, ia sekarang tinggal di BATALYON dan punya segudang tanggung jawab (kayanya). Saya ga tau tanggung jawab nya apa aja, tapi minimal ada tanggung jawab untuk ke lapangan tenis dan senam pagi. Yang lain, seriusan deh saya ga ngerti apaan. Yang pasti doi jadi susah dihubungi, jadi slow respon kalo bales SMS atau WA. Really, in situation like this, saya butuh banget temen sharing. Sharing apa aja. Kalo bisa sih sharing masalah, sharing kebahagiaan?? Iya jugak kok.

Dan kebayang ga sii, dalam kondisi saya kaya gini, saya butuh sharing dengan orang-orang yang supportive bukan yang pressure-tive. Jadi, mending skip aja deh kalo harus ngobrol sama orang-orang yang fungsinya di dunia ini adalah untuk menekan alias bikin saya down (bukan yang down to earth tapi yang down into soil lapisan ke tujuh).

Nah masalahnya, orang yang supportive itu sekarang sibuknya minta ampun. Like, punya kepentingan di atas usaha yang sedang kami rintis bersama-sama ini. Yang mungkin memang lebih penting. Mendampingi suami.

Bagi orang awam (baca: bukan persit) macam saya, pasti sulit memahami kegiatan mereka. Memang ga jarang mereka mengobankan banyak hal, termasuk karir mereka sendiri. Demi apa? Demi pengabdian pada tanah air. Iyakah? Hooh! Seriusan. Kebanyakan mereka well-educated. Ada yang dokter, arsitek, pegacara, dan berbagai profesi bergengsi lainnya yang tidak mudah mereka raih, tapi kemudian terpaksa mereka tinggalkan.

Semoga pengorbanan mereka ga sia-sia ya. Semoga pengorbanan mereka bikin negara jadii, jadiii, jadi apa yaa?? Ah speechless. Mungkin para istri tentara (atau tentara) bisa bantu menjawab. I do really have no idea. Hehe.

Kadang, rasanya pingin nangis kalo ngadepin cobaan, yang mungkin orang pikir lebay ngapain pake nangis. Bingung harus cerita sama siapa, berbagi derita sama siapa. Siapa sihhh yang mau dapet derita. Ga ada. Jadilah, pengorbanan ini bukan hanya istri tentara yang mengalami. Tapi juga saya.

Sekarang saya harus latihan banyak hal. Lebih mandiri terutama lebih berani ambil keputusan sendiri. Karna dalam beberapa hal ada keputusan yang ga bisa di-decide terlalu lama. Kadang harus cepet banget. Huufttt! Jadi sesak nafas mikirinnya.

Dan yang pasti harus bikin strategi baru supaya nyonya di Sragen gak gaji buta. Hehe. Dan ga sibuk dengan rumput rumahnya yang belum tumbuh atau bunga panca warnanya yang layu.

Yuk, ah. Semangat, Mim. Enjoy and let’s be happy!

Would like say big thanks to Ibu Komandan, yang cukup support pada Ibu wakilnya untuk memberi izin bekerja ke Jakarta. Not to mention the name, takut salah nyebutin gelarnya. Semoga berkah dunia akhirat. O, iya, semoga waktu izinnya lebih banyak lagi ya buk. Hehe. Nice to know and till the time we meet!

2 thoughts on “Dengan Istri Tentara

  1. Holaaa… Selamat pagiiiiii.. (efek ndak iso turu jadi buka – buka gugel deh mbak heheheh).. Aku termasuk salah satu pembaca ttg Istri Tentara itu loh hehehehhe.. Karena internet udah jd semacam kebutuhan makanya masih ada aja yg respon sampe sekarang hehhehhehe…

    Aku lagi in relationship sama tentara nih kebetulan (#eaaaakkkk) hahahahhaha.. Dan pernah denger hal – hal serupa dimana ibu – ibu Persitnya sibuk ini itu,, beberapa bulan belakangan ini juga abang cerita kalau ibu Persit banyak kegiatannya ada lomba nyanyi dll, persiapan mengisi di acara serah terima jabatan, dll.. Tp klo sampe slow respon gitu berarti aslinya lebih padet lagi kali ya mbak… heheheh.

    Semoga cepet luang waktu mbak kembarannya, biar bisa curhat lucu,, jajan cantik, sama usep – usep dedek bayiii hihihi… Sehat ya mbak. Have a nice day.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s