Mau Kompetisi Apalagi

Tadi pagi, temen ada yang share link tentang kehamilan, bisa dibaca di sini. Intinya, kehamilan itu bukan kompetisi. Si teman menambahkan begitu juga pernikahan. Dan, sebagai perempuan yang terhitung baru menginjak mahligai rumah tangga tergerak lah saya untuk membaca blog tersebut. Isinya menarik. Komentar saya? Ok, saya pun setuju. Hehe.

Tapi, jujur aja, setelah hamil ini, saya punya pandangan sendiri. Yang mungkin sama bagi beberapa perempuan, mungkin juga totally berbeda. Silakan bebas menilai, saya bukan kebagian jadi perempuan yang langsung hamil seperti beberapa perempuan lainnya yang rasanya baru kemaren resepsi, eh, beberapa minggu kemudian sudah upload di sosmed, tespack garis dua (positif hamil). Atau minimal pasang status, duh mual, muntah, gak enak banggett.

Bukan juga kebagian yang terlalu lama menantikan kehamilan, karena beberapa bulan saja setelah ‘merayakan 1 tahun pernikahan’ saya positif hamil menurut testpack. Alhamdulillah. 

Selama menantikan kehamilan, tak pernah saya merasa begitu terusik dengan pertanyaan ‘Kapan hamil?’ Alhamdulillah orang-orang di sekitar saya pun, nampak santai dan gak pernah bikin saya naik pitam atau merasa kecil hati. Nampak santai bagi kacamata saya, karena sejatinya ketergangguan kita dengan pertanyaan itu tergantung dari kita nya sendiri. Pertanyaan pasti akan selalu ada, tidak perlu menunggu setahun, belum genap sebulan menikah, ada saja yang sudah ‘berani-beraninya’ melontarkan pertanyaan yang mungkin sensitif bagi sebagian orang.

Pertanyaan ini, sama sensitifnya, dengan pertanyaan ‘kapan nikah?’ bagi perempuan dan laki-laki yang sudah cukup umur. Atau, sama sensitifnya dengan pertanyaan ‘kapan lulus?’ bagi mahasiswa yang udah overtime di kampus. Hehe.

Dan, tiga pertanyaan ‘kapan’ itu sudah saya alami dalam perjalanan hidup ini. Katakan saja, saya lulus hampir 3 tahun untuk meraih gelar master yang mana idealnya cukup diselesaikan dalam 1.5 tahun. Saya menikah sebulan sebelum saya genap berusia 28 tahun. Di saat, teman-teman saya sudah menikah di usia 24 tahun. Saat itu bahkan sudah ada yang sedang menantikan kelahiran anak ke dua, bahkan sudah punya anak dua. Saya? Calon suami pun belum ada (FYI, jajakan pra nikah saya dengan Zandi tidak terlalu lama, kaya-kayanya kurang dari setahun).

Terganggu kah saya, dengan dua pertanyaan itu? (kapan lulus dan kapan nikah). Terus terang, iya. Haha. Karena, saya akui saja, lulus dari S2 sama sekali gak mudah, bukan karena kuliahnya yang susah, tapi lebih ke godaan nya yang banyak. Saya terganggu, karena setiap ditanya kapan lulus, pasti yang terlintas dalam pikiran saya adalah rupiah yang terus terbuang. Haha. Ya, maklum, tabungan dan penghasilan per bulan ga cukup mewah untuk menanggung biaya kuliah semesternya.

Pertanyaan kapan nikah juga cukup menganggu pada awalnya. Tapi, kemudian beberapa kali gagal dengan rencana menikah, membuat saya lebih dewasa. Cie elaahh. Hehe. Dan, saya sepakat seratus persen, bahkan lebih, dengan statement, menikah itu bukan kompetisi. Saya mulai tidak peduli dengan pendapat orang, begitu juga komentar yang mungkin datang dari alam bawah sadar mereka. Alam bawah sadar mereka yang muncul bagai partikel negatif yang beterbangan di bawa angin. (Uopoooo, lebay, haha).

Lulus kuliah, mungkin bisa saja kompetisi. Tapi tidak dengan menikah. Apalagi hamil. Kadang melihat teman-teman yang duluan menikah, dalam hati, ngebatin, yahh dia duluan, saya kebalap lagi deh.

Itu salah banget. Emang menikah itu gak bisa asal-asalan. Siapa sih, yang pingin gagal menikah? Maka wajar aja karena (insya Allah) cuma bakalan sekali seumur hidup, jadwal menikah gak bisa barengan sama teman-teman sepantaran. Setiap orang punya pertimbangan masing-masing ketika memutuskan untuk menikah. Dan yang paling punya kuasa adalah Tuhan. Dia yang paling tahu, kapan waktu yang tepat seseorang untuk menikah. Yakin aja, bahwa kita boleh punya mau, tapi Allah lebih tahu. Dan itu insya Allah keputusan terbaik.

Setahun menjalani pernikahan, saya menikmati seratus persen masa-masa itu, sampai-sampai tidak terusik sama sekali dengan tuntutan bahwa menikah itu harus punya anak. Punya suami seperti Zandi aja udah lebih dari cukup buat saya. Sujud syukur. (Hehe, asli, ini bukan lebay). Bukan karena sempurnanya Zandi menjalani perannya sebagai pendamping dan imam untuk saya (mana ada manusia yang sempurna, ya, kan), bukan. Tapi karena alasan yang saya sendiri pun tidak mampu menjelaskannya. Andai ada yang bisa membaca isi hati saya, saya yakin dia pun tidak mampu menjelaskannya kepada siapa pun yang membaca tulisan ini.

No, no, no. Saya ini bukan sedang jatuh cinta, plis lah. (Gak mau ngaku). Haha. Pernikahan saya dan Zandi, sama aja, ada naik turunnya. Malah naik turunnya, bisa lebih tinggi dari puncak gunung dan dasar lautan. (buat yang kenal saya, pasti percaya kan!). Tapi, ya kita ini, sedang berjuang. Bukan berkompetisi. Berjuang untuk tidak pernah menyerah, beradaptasi yang penuh kasih. Seperti yang kalian semua juga lakukan, ya, kan?

Dibuat menunggu untuk hamil, membuat saya banyak bersyukur. Allah nyata-nyata membiarkan saya bahagia memiliki keluarga. Bahagia dengan rasa jatuh cinta. Saya yakin banyak pasangan lain yang merasakan hal sama dengan saya. Yang mengusik, cuma pertanyaannya.

Kapan hamil?

Yaaa, sekedar pertanyaan aja kan. Why bother? Belum tentu juga orang-orang yang nanya itu, benar-benar mengharapkan jawaban dari kita. Gak sedikit yang cuma basa-basi. Bahkan ‘sebenarnya’ gak peduli. Toh, pertanyaan itu sebenarnya retorik. Gak ada yang tahu kapan waktunya tiba. Mau dijawab pun, kita sendiri gak tau jawabannya. Dan yang nanya juga udah tau, jawabannya gak tau. Nah!

Sekarang, kehamilan saya menginjak 32w, jika lancar, 8 minggu lagi, akan bertambah anggota keluarga kami. Ya Allah, sampai berkaca-kaca saya mengetik kata-kata barusan. Ya, karena memiliki buah hati bagi setiap pasangan bisa jadi se-drama ini.

Apakah, semata bahagia yang saya rasakan? Ternyata tidak sesederhana itu, ya. Sejak melihat nyata-nyata ada sosok bernyawa dalam perut, galau, kawatir, dan macam-macam rasa semacam itu pun bertambah. Kalau dijabarkan satu-satu, pasti ni tulisan bakal-bakal jadi buku (yes, buku curhat). Hehe.

Apakah nanti, si calon bayi akan bahagia ketika saya lahirkan ke dunia? Apa dia bahagia memiliki ibu seperti saya? Apakah kelak saya mampu menjaga amanah yang Allah titipkan dalam kehidupan pernikahan kami? Apa saya mampu beri dia yang terbaik? Yes, whatever you think saya ini mellow banget. Emang!

Jika ada yang punya perasaan yang sama seperti saya, maka saya yakin, mereka pun akan mengganggap apalah kalau cuma sekedar ‘pertanyaan kapan hamil’. Yang saya tau, tanggung jawab ketika hamil (dan setelahnya) itu jauh lebih berat. Bukan cuma tanggung jawab sama dunia. Tapi sampai penghujung hayat. Akhirat. Gak sesederhana bikin, lahir, dan sederet prosedur lain.

Semoga Allah beri kita semua kekuatan. Aamiin.

Posted in Oh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s