Wah! Wah! Yali Mabel

Image

Kurulu. Desa itu yang menjadi tujuan perjalanan saya hari ini. Gak jauh dari Kota Wamena, sekitar 45 menit perjalanan dengan mobil saja. Ya, tentu dengan kecepatan yang santai-santai saja. Karena memang, selain ada target liputan, sebenarnya saya dan teman-teman seperjalanan begitu menikmati perjalanan di desa ini. Bagaimana tidak? Ini kunjungan pertama kami ke sini.

Yali Mabel, Kepala Suku Dani inilah yang akan saya temui di sini. Menuju ke Osilimo Mabel (sebutan untuk kampung), kami harus berjalan kaki, yaa, sekitar 20 menit. Tidak jauh, tapi jalanan setapaknya yang sedikit berbatu dan lapisan tanah liatnya yang lengket, membuat saya harus sedikit berhati-hati melangkah. Bisa sampai tujuan dengan kaki bersih, jangan harap. Karena warga sana pun, bahkan berjalan tanpa alas kaki.

Sampai di tempat tinggal Pak Yali, kami disambut hangat oleh Pak Yali dan keluarganya. Karena Pak Yali Mabel memang sudah menerima kunjungan dari para turis. Kedatangan kami pun tidak lagi asing bagi mereka. Beberapa media pun sudah ada yang meliput tempat ini.

Awalnya, yang saya tau, rumah adat orang Papua adalah Honai. Tapi ternyata, Honai pun macam-macam. Pilamo, adalah rumah khusus laki-laki. Uma, rumah khusus perempuan, Hunila merupakan dapurnya, dan Wamdabu adalah kandang babi. Jika dalam satu kawasan itu ada ke empat jenis ‘rumah’ tersebut, maka lengkaplah itu disebut osilimo bagi suku Dani. Perempuan tidak boleh masuk ke dalam Pilamo. Jika ada ‘kepentingan’ laki-laki lah yang berkunjung ke Uma. Honai ini sebenarnya bukan tanpa alasan dibuat dengan bentuk seperti ini. Karena sebenarnya, honai yang terbuat dari kulit-kulit kayu ini memberikan kehangatan di dalamnya. Ini pas jika dibangun di wilayah Wamena yang umumnya bersuhu sejuk. Kelihatannya mungkin tidak telalu besar, tapi percaya atau tidak Pilamo itu bisa memmuat sekitar 50 – 70 laki-laki. Mmmh, sulit dipercaya, ya?

Oh, budaya Suku Dani adalah budaya ter-unik yang pernah saya liat sepanjang perjalanan saya. Berbagai aktivitas dilakukan di sana. Ketika datang, biasanya turis disambut dengan tari-tarian dan acara bakar batu. Bakar batu, adalah cara mereka memasak jika ada perayaan tertentu. Biasanya yang dibakar adalah babi. Tapi, kadang mereka juga membakar ubi dengan cara bakar batu ini.

Suku Dani, bertahan hidup dengan kebiasaan yang mereka punya. Mereka jauh dari pengaruh teknologi luar. Ya, karena Pak Yali Mabel, adalah seorang pelestari budaya Wamena. Meski sudah kemana-mana bahkan sampai luar negeri, Pak Yali tetap cinta budayanya. Kemana-mana ia selalu menggunakan pakaian khas Papua, Koteka. Bahkan ia bilang kepada kami, sampai kapan pun ia akan seperti ini, karena budaya ini berasal dari nenek moyangnya. Harus dipertahankan.

Keluarga Mabel punya berbagai kerajinan tangan yang unik. Sederhana, tapi ini adalah budaya yang membanggakan. Mereka punya harmonika khas mereka sendiri, pikon. Pikon dibuat dari bambu, dibentuk memanjang, kemudian ketika digesek-gesekkan ke bibir, mengeluarkan bunyinya yang khas. Biasanya laki-laki bagian membuat pikon.ย 

Beda lagi yang dikerjakan perempuan. Mereka membuat Su. Semacam tas anyaman dari kulit kayu. Saya sempat belajar membuatnya, yaa, lumayan njlimet. Mungkin karena saya bukan tipe perempuan yang betah dengan pekerjaan yang membutuhkan kesabaran tinggi seperti itu. Jadi mending, pengerjaan Su dilanjutkan oleh Helena, perempuan yang mengajarkan saya waktu itu. Ngobrol-ngobrol dengan Helena, ia sudah menikah dan masih menggunakan Sali. Padahal sali itu adalah pakaian khusus perempuan yang belum menikah. Rupanya, perempuan yang sudah menikah pun tetap menggunakan sali kalau perayaan pernikahannya tidak pakai potong babi. Ooh! Beruntung Helena ramah sekali bercerita dengan saya. Bahasa Indonesia nya cukup dimengerti. Su yang saya bikin pun tidak rapi, ia bilang, tidak apa-apa namanya saja belajar. ๐Ÿ˜‰

Salut, setelah kenal dengan Yali Mabel. Meski mempertahankan ke asli an sukunya, ternyata ia punya selera humor dan ramah sekali. Sejak meresmikan kampungnya menjadi pusat wisata tahun 1986 lalu, Yali Mabel selalu menjaga keaslian budaya sana. Anak-anak yang sudah memakai baju, tidak boleh masuk. Koteka adalah syarat masuk osilimo.

Benar kata orang. Kalau ke sana, mending persiapan yang matang dulu lah. Misalnya, punya guide yang sudah paham betul budaya orang sana. Karena mereka paham betul uang. Asal jepret saja, mereka bisa minta uang. Sebelum masuk kampung Mabel, seorang ibu dengan akrab menyapa saya. Oh, ternyata, dia minta duit. Untungnya, saya atas nama undangan tamu Pak Yali. Jadi, tinggal geleng kepala saja, meski si ibu sedikit kesal, saya tak perlu mengeluarkan rupiah. Sekilas mereka ramah, tapi memang kita harus hati-hati. Jangan menyamakan budaya kita dengan mereka. Karena kita di kampung orang, kita lah yang harus menyesesuaikan. Hari sebelum liputan, saya sudah ke sana untuk survei lokasi terlebih dahulu. Karena jalanan sedikit becek dan berbatu, ditampah saya tidak pakai sepatu yang nyaman buat dipakai becek-becekan, seorang perempuan membantu saya, sepanjang perjalanan. Baik sekali. Saya cukup terbantu melangkah menuju osilimo Pak Yali. Ups, ternyata sampai sana saya dimintai uang. Ya, kita gak boleh polos-polos amat lah. Hehe.

Well, seharian bersama Pak Mabel, membuat saya belajar banyak sekali. Belajar budaya suku Dani yang sama sekali berbeda itu sudah pasti. Tapi, dibalik itu, saya pun belajar kehidupan mereka yang sangat alami. Bagaimana memahami apa yang ada di pikiran mereka. Salut dengan Pak Mabel, punya keinginan untuk tetap mempertahankan budayanya. Sambil menunjukkan fotonya, Pak Yali pun dengan bangga menceritakan bahwa kini dua putranya sedang mengenyam pendidikan di Akademi Kepolisian di Semarang. Wuih, hebat! Mudah-mudahan nantinya bisa mengabdi pada negara ya.

Pak Yali pun begitu yakin berseru, bahwa dia adalah warga negara Indonesia. Jadi? ๐Ÿ™‚

 

 

Berbuka Puasa di Rumah Umar Kei

Kalau boleh sombong dikit, ini lah keuntungan jadi jurnalis. Pengalaman kaya gini, mungkin ga bisa di dapat di luar dari profesi begini. Dengar namanya, bikin bergidik juga sii, mau tak mau kita mengaitkan nama ini dengan kisah John Kei beberapa waktu lalu. Hari itu, saya bertemu Umar Kei, rencananya beliaulah yang akan menjadi narasumber liputan episode bulan puasa program TV yang saya kerjakan sekarang.

Dikawal dengan rekan-rekan berperawakan Indonesia Timur, saya dan teman-teman pun membuka obrolan dengan Bang Umar.

Sebagai ketua Pemuda Muslim Maluku, ternyata anggapan saya salah bahwa organisasi ini hanyalah untuk orang Maluku dan muslim saja. Tapi, Bang umur menjadikan wadah ‘bersatu’ di organisasi ini. Jika selama ini Maluku, masih lekat dengan kerusuhan, Bang Umar lah yang ย punya mimpi untuk membuat mereka bersatu. Bersama Bang Umar, mereka rukun dalam satu.

Dalam rangka liputan pun, saya mampir ke rumah Bang Umar di daerah Jatiwaringin, Bekasi. Jika batang rokok dan kopi adalah santapan mantap siang-siang begitu, tidak berlaku di rumah Bang Umar. Entah semuanya memang sedang berpuasa, tapi semuanya menghargai kesucian Bulan Ramadan siang itu. Tak satu pun, saya melihat ada yang membakar rokoknya kala itu. Shalat berjamaah gak ketinggalan.

Menjelang berbuka, Bang Umar mengundang puluhan anak yatim binaanya untuk berbuka puasa bersama di rumahnya. Dilakukan pula tadarus bersama. Ah, jangan salah menilai laki-laki 34 tahun dengan perawakannya yang bikin ‘takut’ ini, ya. Bacaan al-quran Bang Umar fasih. Saya? Jelas kalah jauh, perlu belajar lebih serius lagi.

Yang seru, saat itu, Bang Umar mengundang grup marawis dan penari dana-dana khas maluku. Saya, coba ikut menari bersama. Yaa, ternyata gerakan tarinya butuh konsentrasi tinggi. Karena gerakan tari ini cukup bervariasi dan harus serentak dengan pasangannya. 20 menit saya berlatih? Gak cukup membuat gerakan tari saya lancar.

Inti dari liputan saya kali ini adalah, banyak hal yang menarik mengenal sosok Umar Kei dan teman-temannya. Yang jelas, beruntung karena kita disambut begitu hangat di rumah nya. Liputan pun berlangsung lancar. Mudah-mudahan durasi nya gak under yaa.

Kalau pengen nonton lebih lengkap gimana ngabuburit bersama Umar Kei, nonton deh Di Antara Kita di MNCTV Senin, 13 Agustus 2012. Ini fenomena menarik.

 

 

Kado ke Tiga Puluh untuk Artur

Weekdays kemaren luar biasa banget. Tujuh hari kerja ga libur-libur cukup bikin kepala panas. Mmhh, sebagian?Mungkin biasa yaa. Tapi saya menutup hari ke tujuh dengan membaca sebuah buku berjudul Inspiring One ditulis oleh Muhaimin Iqbal. Kalau saya punya cita-cita untuk jadi seorang entrepreneur, saya gak boleh ngeluh. Karena? Bahkan entrepreneur ga akan pernah berhenti bekerja.

Oke. Tujuh hari kerja itu biasa. Hehe.

Saya sempet keribetan sendiri, mencari-cari tayangan yang udah sangat deadline harus tayang. Beberapa narasumber yang udah fixed diliput, cancel. Saya, harus mencari narasumber lain, secepat kilat, jangan sampe telat.

Ketar ketir setengah panik. Begitulah saya menghadapi pekan lalu. Tapi, hikmahnya luar biasa. Kalau tidak ada peng-cancel-an seperti itu mungkin saya tidak akan bertemu dengan narasumber ini.

Si narasumber penuh pesona.

Saya gak bisa menutupi rasa kagum saya. Bagi yang lain mungkin biasa, tapi, ya, sejujurnya saya kagum. Entah harus berbagi dengan siapa lagi, kawatir membuat kekasih hati cemburu setengah mati, atau sahabat saya berpikir bahwa saya jatuh cinta lagi? Baiknya, saya berbagi di sini saja ya. ๐Ÿ˜‰

Saya dapat nomor kontaknya dari seorang sahabat lama. Dia kasih saya beberapa nomor memang, mungkin ada beberapa narasumber yang bisa jadi referensi liputan. Dia bilang, “Din, ada seorang bekas pengamen jalanan yang ga ngambil job kalau ada jadwal pengajian” Tanpa pikir panjang, berhubung esok hari juga harus taping, saya langsung kontak nomor itu.

Dengan suara khas ala-ala pengamen, Artur menjawab telepon saya. Alhamdulillah, Artur ramah meski ala-ala preman. Hehe. Dengan sedikit memaksa, saya ingin meliput dia untuk keesokan harinya. Sempat protes karena dadakan, tapi saya menjanjikan bahwa liputan ini sekadar untuk meliput kesehariannya. Jadi persiapannya jangan sampai merepotkan.

Jam demi jam, saat-saat saya harus persiapan naskah kasar untuk liputan besok, dia sms saya, bahwa salah satu temannya yang se kelompok musik dengannya tidak mau diliput. Saya pun bilang, ya, dia nya aja yang ga usah kalau ga mau. Hehe. Kejam memang, tapi ayolah Mas. Saya dan tim tidak punya waktu lagi. *memohon dengan sangat*

Alhamdulillah, seribu lobi, Artur mau juga diliput. Keesokan harinya, kita ke rumah Artur.

Masih menunggu teman-temannya untuk latihan musik bareng, saya ngobrol-ngobrol dengan Artur dan ibunya. Ah, kalau saya bisa cerita semua bener-bener seru. Tapi, kehidupan pribadi orang lain, mungkin bukan konsumsi publik yaa. Bisa-bisa Artur komplen ke saya kalau kehidupan pribadinya tiba-tiba muncul di postingan saya ini.

Intinya, salut dengan kehidupan Artur. Coba deh, liat sosoknya. Gak beda dengan sosok pengamen jalanan lain. Yang bikin beda, ya, bahwa ia tidak pernah meninggalkan segala kepentingan ibadah. 4 kali dalam seminggu jadwal pengajian, tidak mau dia tinggalkan. Jika ada panggilan, dia rela menolak. Baginya, rejeki tidak akan ke mana. Ibadah dan menuntut ilmu agama tetap nomor satu. Dan ini bukan gimmick yang sengaja di-setting.

Ah, taping pun dimulai. Scene pertama, Artur dan teman-temannya latihan. Membawakan satu lagu. Haha, bak penggemar bertemu idolanya, saya pun tak bisa berpaling. Asli, suaranya keren banget. Mereka membawa musik akustik bernuansa latin. Hari itu, saya memutuskan untuk jatuh cinta dengan musik latin. Seriusan keren banget.

Berdialog dengan Artur, membuat saya banyak sekali belajar. Tentang kerja keras, hidup sederhana, dan ikhlas. Juga, soal keseimbangan di dunia dan akhirat.

Ah, saya tak mau melulu membuat Artur besar kepala nihh, yang pasti liputan kali ini, sesuatu ya. Teman-temannya Mas Artur juga ga kalah pesona. Kalau mereka udah main alat musiknya masing-masing, mendadak jadi keren semua. Hihi.

Anyway, makasih atas kerja samanya Artur, Joy, Jian dan Penjol. Selamat ulang tahun Mas Artur, sukses terus ya! Jangan lupa nonton hasil tayangannya ya di acara Di Antara Kita, Senin, 18 Juni 2012 jam 15:00, di MNCTV.

Satu Cerita dari Muara Gembong

Dengan deadline kerjaan yang aut-autan, hari ini kami memutuskan untuk survei ke Muara Gembong, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.

Bekasi? Sepintas kedengaran tidak terlalu jauh. Masih wilayah bekasi. Pasti bisa.

Kilometer, demi kilometer. Belum juga sampai. Siapa sangka, perjalanan menuju Kampung Nelayan di wilayah ini pun, terasa jauh ampun-ampunan. Kalau kata Pak Pengemudi sii, lama perjalanan begini udah bisa sampai Brebes. Wow!

Ya, bener aja. Perlu 5 jam perjalanan untuk sampai ke Muara Gembong, Kabupaten Bekasi ini. Jalanannya? Gak melulu lancar ala-ala jalanan lintas propinsi, tapi kita harus melewati itu yang namanya macet dan jalan grudukan.

Apalagi, mengarah Muara Gembong, jalanan makin ga karuan. Di sebagian sisi terlihat beberapa pekerja yang memperbaiki jalanan. Tapi, belum keliatan perbaikan hasil yang signifikan. Ya, membenahi jalanan seperti ini memang ga gampang. Belum lagi demografi kampungnya yang berada di pinggir laut. Periode waktu ketika bulan penuh, air laut naik memenuhi permukaan darat kampung ini. Jam demi Jam belum juga sampai. Tanya ke sana ke mari, akhirnya saya, ketemu juga Mas Itak. Sang informan. Ternyata, Mas Itak seorang guru Sekolah Dasar di Kampung itu. Sebelum sampai tempat tujuan, kami melewati sekolah tempat Mas Itak mengajar. Ya, memprihatinkan. Sama seperti kampung itu, sekolah pun tak bisa menghindari air laut ketika saatnya naik. Aktivitas belajar mengajar tetap berlangsung sambil becek-becekan. Mas Itak, bertanggung jawab atas sekitar 70 siswa kelas tiga SD. Ya, satu guru untuk 70 anak. Luar biasa. Padahal kalau dipikir-pikir, di usia muda seperti ini Mas Itak bisa saja mengadu nasib di Ibukota, untuk mendapatkan pengalaman dan pendapatan yang lebih baik. Seperti yang kebanyakan pemuda daerah lakukan di Ibukota. Termasuk saya mungkin. Atau kamu?

Jauh-jauh ke sini, kami gak mau pulang dengan tangan kosong. Mmmh, bukan maksud hati akan borong hasil laut di kampung ini, si. Tapi, ya, kami tetap harus pulang membawa sesuatu. Perjalanan panjang ini untuk menemui seorang ustad. Apa yang beda dari Pak Ustad ini ya?

Berangkat dari Kebon Sirih, Jakarta Pusat jam setengah dua belas siang, kami sampai di Lokasi jam lima sore. Itu, udah termasuk berenti di sebuah warung nasi Padang yang rasanya lumayan, meski ayamnya kecil. hehe.

Mobil parkir di depan sekolah tempat mas Itak mengajar. Saya, Kang Rusdi (rekan kantor), dan Mas Itak berjalan menyusuri Kampung Nelayan itu. Nelayan? karena kebanyakan mata pencarian mereka adalah nelayan. Gak tanggung – tanggung kita menuju rumah Pak Ustad, di ujung Muara Gembong. Sangat ujung, sempat kewalahan juga harus jalan kaki sejauh itu, tapi ya, gak berasa karna kita melewati rumah-rumah warga.

Lahan rumah Pak Ustad Basir cukup luas. Rupanya Pak Ustad sudah menunggu kita dari tadi. Sambutan hangat dari Pak Ustad dan Istri, kami disuguhi makanan ringan seperti kacang dan keripik. Juga kopi susu hangat. Lumayann. jadi ngerepotin, deh. ๐Ÿ˜‰

Sudah 15 tahun Ustad Basir mengabdikan dirinya di ujung Muara Gembong ini. Gagal dari usaha tambak ikannya, Pak Ustad memilih untuk menghabiskan waktunya berbagi ilmu agama kepada anak-anak di Kampung ini yang kebanyakan anak nelayan. Meski tinggal di tepi laut, Pak Ustad tidak lagi berlayar untuk menangkap ikan. Tapi sesekali, ia mengumpulkan ikan yang ditangkap dengan alat serok. Jika hasilnya banyak, ikan dijual ke tengkulak. Jika sedang sedikit, dikonsumsi saja untuk makanan sehari-hari. Hebatnya, Pak Ustad, mampu bertahan hidup, menafkahi kebutuhan istri dan ke lima anaknya, dengan pendapatan rata-rata tujuh ribu sebulan yang didapat dari iuran orangtua dari anak-anak yang diajarnya.

Satu pelajaran untuk perjalanan panjang hari ini. Ikhlas dan bersyukur. Keliling rumah Pak Ustad, kami pun pamit. Usai adzan magrib, kami kembali ke Jakarta. Membawa satu pelajaran berharga. Sisi kehidupan yang gak pernah saya bayangkan sebelumnya. Subhanallah.

Siapin paspor, insyAllah, ke sana lagi. Bikin satu liputan penuh. Mengupas kehidupan Ustad Basir di Ujung Muara Gembong ๐Ÿ˜‰

Berkah Lebah

Kali ini, tentang lebah.

Dan sebelum cerita berpanjang-panjang, saya mau bersyukur dulu, karena Pak Sutiyono, pemilik Pondok Lebah yang mau diliput, orangnya baik banget. Sebagai jurnalis kemaren sore, saya selalu suka, untuk setiap narsum yang asik diajak kerjasama. Seakan dia ngerti banget, pentingnya fungsi media untuk produk dan profil dirinya. Koordinasi, bisa dibilang berjalan lancar. Tak sungkan, dia menjawab semua info yang saya gak tau.

Pernah di sengat lebah? Pasti kapok. Dibalik itu semua, lebah itu berkah.

Madu yang diambil? Tinggi khasiatnya. Kunjungan saya kali ini, ke daerah Lido, Sukabumi, Jawa Barat. Kebetulan, lebah yang diternak di sini bukan pengkonsumsi madu. Tapi, pollen atau dikenal dengan serbuk sari. Jadi, yang dipanen pun tentu bukan madu, tapi bee pollen. Yaa, bee pollen itu diambil dari tanaman jagung yang ada disekitar peternakan itu.

Memasuki peternakan lebah di sana, saya diingetin dulu untuk jangan pakai wangi-wangian. Lebah, suka banget bau wangi. Jadi, saya sengaja gak semprot parfum untuk liputan kali ini. Bahkan, ssst, saya juga ga mandi. Bukan karna segitu takutnya sii, tapi karena hari itu saya harus berangkat pagi banget. Air dingin dini hari, kayanya ga asik deh kalo di siram ke tubuh. Hehe. Tanpa bau, atau sedikit bau asem, kayanya udah cukup banget deh, bikin lebah-lebah itu ogah menyengat saya. Tapii, untuk keselamatan dan kesejahteraan bersama, saya tetap harus pakai pelindung muka.

Pagi-pagi, saya melihat bagaimana lebah pekerja mengambil serbuk sari, kemudian dibawa ke rumah atau ke koloninya. Kerja sama yang baik. Kata Pak Sulistiyo, lebah-lebah ini punya radius terbang 2 km. Sejak pagi, mereka bergerombol untuk mencari makanan, karena katanya, serbuk sari lagi banyak-banyaknya di pagi hari. Sebagian serbuk sari yang dibawa lebah, di ‘perangkap’ untuk dipanen. Tapi, jangan semua dipanen, karena serbuk sari adalah makanan utama lebah-lebah itu. Kalau semua diambil, terus mereka makan apa? Di sini, Pak Sulistiyo mengajarkan saya, sebagai peternak gak boleh maruk. Fresh! Saya nyobain langsung serbuk sari itu. Rasanya? hiks, manis manis sepet keset gitu. Hehe.

Berkah. Lebah kaya khasiat. Selain bee pollen? Pernah dengar royal jelly? Ya, lebah juga bisa diambil royal jellynya. Bagaimana terbentuknya? Intinya, royal jelly itu adalah kepunyaannya sang ratu lebah. Untuk menghasilkan royal jelly, adalah trik peternak untuk menghasilkan ratu lebah dalam setiap koloninya. Kudu banget itu, saya nyobain royal jelly. Rasanyaa, aseliii. Asem, gak ada enak-enaknya. Seperti madu, kental hanya saja warnanya putih. Rasanya jauh! Jadi, royal jelly emang lebih enak kalau dikonsumsi setelah dicampur madu. Cukup tertarik dengan khasiat royal jelly, yang katanya bagus untuk pertumbuhan sel tubuh. Sel kulit? Berarti bagus buat regenerasi kulit. Sel otak? Bagus buat kecerdasan bangsa. Hehe.

Bergaul dengan lebah-lebah? Kayanya ga sah, kalau saya ga disengat lebah. Eits, tapi bukan ga sengaja yaa. Ini terapi sengat lebah namanya. Putra Pak Sutiyono, Mas Rio, udah dua tahun belakangan mendalami ilmu terapi sengat lebah. Lebah penuh khasiat sampai ke sengat-sengatnya. Katanya, hampir sama seperti teknik akupuntur, lebah bisa mengobati berbagai penyakit, seperti pegal-pegal, kolesterol, pilek dan lain-lain.

Bismillah, saya disengat sekali! Asli sakitnya bukan main. Belum lagi udah parno duluan. Hehe. Yang paling sakit pas, racunnya masuk ke dalam tubuh. Sakitnya, lebih dari disuntik. Oh life. gapapa dehh, katanya bagus, bagus bisa menghilangkan pegal-pegal. Hasilnya, saya tetap berencana untuk pijet di akhir pekan. Hehe. Yaa, sebenernya terapi sengat lebah ini gak bisa sekali dua kali aja. Tapi harus rutin, periodikal tertentu, tergantung penyakitnya. Tapi? Untuk coba sengat lebah lagi? Mmmhh, coba saya pikir-pikir dulu.

Intinya, dari kunjungan saya ke Pondok Lebah kali ini? Saya paling suka madunya. Asli! Rasanya masih orijinal. Well, produk lebah banyak khasiatnya, nah, sekarang tinggal pilih nii, mau coba yang mana? Bee pollen, Royal Jelly, madu, atau sengatnya. Saya? Madu cukup.

 

 

 

 

 

Bukan Sekadar Rumah

Berkunjung ke Panti Asuhan Darussalam , di Kawasan Caringin, Bogor, Jawa Barat, saya melihat sisi lain dari sekedar Panti. Tak hanya menjadi rumah bagi anak-anak yang sudah kehilangan orang tuanya, di sini mereka juga belajar soal peternakan dan pertanian.

Saya menemui Pak Atang, pengelola panti ini. Orangnya ramah dan rendah hati. Alhamdulillah, juga asik di ajak kerjasama. Jadinya, liputan kali ini lancar, car, carr, dehh.

Sekitar 70 anak yang tinggal di sini dari usia 3 tahunan sampai yang udah SMA. Mereka semua berkumpul, layaknya keluarga sendiri. Yang paling seru, karena di panti asuhan ini ada peternakan dan lahan pertaniannya.

Masuk ke Panti Asuhan Darussalam, saya langsung menemukan lapangan dan aula tempat anak-anak kumpul dan bermain. Kala itu, anak-anak lagi seru banget main basket, waduhh, kalau ga lagi taping, kayanya saya ikutan gabung deh, kangen banget pengen main basket, Bro.

Pak Atang dan keluarganya juga tinggal di situ. Ya, keluarganya yang besar banget itu, maksudnya. Nah, bergeserlah kita ke kawasan peternakannya. Asli, lengkap banget itu peternakan. Dari mulai segala jenis ikan, unggas, sapi, dan domba ada. Walaupun, lulusan pertanian, baru kali ini nihh, saya datang langsung dan melihat langsung budidaya lele. Hiks, payah ya? Gapapa deh, yang penting sekarang udah pernah. Haha.

Liat indukan lele, wow, wow, wow, gede bener yaa. Ga kebayang kalo lele segede itu yang kita makan. Kenyangnya kaya apa. Tapi kata Pak Atang, lele segede itu ga begitu enak dimakan, walaupun ada juga si yang makanin. Yaa, biasanya lele yang enak yang umurnya 60 hari, kaya yang biasa kita makan di warung-warung ituu. Selain untuk dimakan sendiri, lele-lele ini juga di jual. Sayangnya, permintaan lele banyak banget, jadi ga semuanya bisa dipenuhi.

Nah, sejauh ini unggas yang diternak Pak Atang masih untuk konsumsi sendiri, ada segala jenis ayam, bebek, dan angsa. Sapi yang ada di sana, khusus buat diternakkan dan diambil dagingnya, jadi, biasanya dibeli pas hari raya qurban. Nah, kalau kambing yang ada di sana justru diambil susu nya. Katanya si khasiatnya lebih bagus dari susu sapi, bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit. Kalau di minum tiap hari, badan rasanya lebih segar. Sayangnya, saya ga begitu suka susu apalagi yang masih asli begitu hehe.

Di sana, saya juga dapat kesempatan untuk belajar gimana merah susu kambing. Merahnya harus penuh perasaan, dan yang paling penting kambingnya harus disayang terlebih dahulu. Kalo gaak, kita yang repot loh. Kambingnya bisa ngamuk. Yang ga kalah seru adalah waktu kasih makan lele nya. Yuhuiiiii, kalo liat airnya butek dan tenang, tapi tiba-tiba ikan nya jadi pada leloncatan deh, ngejar makanan. Seru!

Alhamdulillah, meski ga punya orangtua, keceriaan mereka gak hilang. Mereka keliatan enjoy banget tinggal di Panti Asuhan ini. Saya salut sama Pak Atang. Bukan perkara materi, tapi bagaimana ia rela menghabiskan hari dan usianya, untuk anak-anak di sini.

Berkebun, Gak Ya?

Wowowowoooww!

Kayanya udah lama banget. Saya kaya balik ke jaman kuliah dulu, nih. Hehe. Sebagai seorang Sarjana Pertanian, aduh, rasanya malu muka (dan malu title) deh.

Hari ini, saya secara (gak) sengaja, liputan soal berkebun. Akhirnya bisa liat langsung, komunitas yang cukup happening saat ini. Indonesia Berkebun, namanya. Mungkin sebagian udah pernah denger ya. Ya, ya, ya, ngaku deh, saya emang salah satu Sarjana Pertanian yang ‘kafir’ dari dunia pertanian. Ketinggalan banyak sekali informasi soal komunitas ini. Seriusli, saya pengen, kapan waktu, kalau ada kesempatan, bisa terjun di dunia pertanian sesuai dengan pendidikan formal saya. Cita-citanya ga tinggi, kok. Berkebun di rumah sendiri. Jadi kalau mau masak apa, tinggal petik aja gitu. Hehe.

Setali tiga uang, saya ketemu dengan komunitas ini. Salah satu penggiatnya, namanya Ibu Ida Amal. Salutnya, beliau concern banget sama dunia pertanian. Dan tanpa basic ilmu formal (menurut informasi yang saya dapat), concern itu berawal dari hobi. Gimana, ya, bilangnya. Emang susah si, maksain minat. Saya, kok, ya, agak susah jatuh cinta dengan dunia ini. Padahal hampir empat tahun saya berkecimpung, lengkap dengan teori-teorinya yang cukup njelimet. Satu-satunya, yang bikin saya suka dengan dunia pertanian cuma masa-masa panen. Itu pun, panen buah-buahan kesukaan saya. Mmh!

Tapi, hari ini, saya punya pandangan berbeda. Bukan masa panennya yang saya suka. Tapi, saya seneng banget ketemu teman-teman yang sangat excited dengan dunia cocok tanam. Seneng ngeliat mereka punya rasa penasaran yang tinggi soal berkebun. Bayangin, ini Minggu loh. Mereka rela melewatkan hari Minggu dengan berkebun yang seharusnya hari yang pas banget buat tidur atau sekedar manyun di kamar. Hehe.

Yang seru dari berkebun, adalah foto-fotonya. Foto-foto dengan back (fore) ground tanaman itu cool, loh. Sayangnya, berkebun kali ini, saya dalam misi kerjaan. Jadi, ga bisa puas foto-foto. Teman-teman Indonesia Berkebun yang lain? Puas bangett, pasti.

Ngobrol-ngobrol sama Bu Ida, saya jadi tau, kalau berkebun, ternyata ga senjelimet itu. Sederhana banget. Tebar-tebar bibit aja (karena saya part teori di kelas kali ya?) Dan bisa dilakukan di mana aja, tanpa perlu punya lahan atau pekarangan luas di rumah. Tanam satu dua bibit, lumayan banget loh, untuk mengurangi bajet belanja bulanan. Ibu rumah tangga banget ga si, pembahasan saya. Padahal aslinya, saya jauh dari sosok rumah tangga itu. Ya, begimana. Saya salah satu makhluk Jakarta, yang kesehariannya pergi pagi pulang malem. Kalau pun berangkat siangan dikit, paginya saya habiskan untuk tidur, makan nasi uduk, atau nyetel TV.

Bu Ida, gencar. Bahwa berkebun itu juga bisa dilakukan di perkotaan. Ga melulu, berkebun cuma jadi aktivitas di kampung-kampung. Dan berkebun ini, organik. Jelas lebih sehat. Berhubung, saya adalah salah satu orang yang bergaya hidup tidak sehat, saya seneng, untuk tau hal-hal yang berhubungan dengan hidup sehat. Karena mungkin, gaya hidup tidak sehat yang saya jalani sekarang, bisa diminimalisir, sedikit demi sedikit.

Dunia, emang sempit, ya. Ternyata punya ternyata, Ketua Indonesia Berkebun ini adalah dosen saya sendiri, Pak Achmad Marendes, bukan dosen IPB, tapi London School (pascasarjana yang sedang saya ambil saat ini). Wkwkwkwk, makin malu hati buat kasih tau, kalau saya sebenarnya sarjana pertanian, karna minim banget (udah lupa) ilmu pertanian. Hallo, Pak. ๐Ÿ˜‰

Pulangnya, saya oleh-olehin mama dengan hasil panen hari ini. Seiket bayam dan kangkung. Bikinin cah kangkung ya, ma. (ngarep)

Kapan-kapan. Kapan-kapan. Saya mau punya kebun sendiri di depan kamar. Mungkin bisa dimulai dari punya boot lucu, kali ya. Biar semangat. Loh, tetep ya. Haha.

Yuk, ah. Besok kita lanjut lagi berkebunnya. Mudah-mudahan tambah ilmu. Saya dapat satu lagi ilmu dari berkebun hari ini, apa yang kita tanam, itulah yang kita petik. Ga mungkin kan, nanem bayam, yang dipetik kangkung. Kecuali kangkung punya orang. Itu ga pas. Sama kaya hidup juga, kan? Jadi, bismillah. Saya, mau tanam benih yang baik-baik. Mudah-mudahan bisa petik hasil yang baik pula. Ini berlaku untuk segala urusan, ya. Bye. Bye. Benih jelek. :p

 

 

Kaya Cinta dengan Dongeng

Hari ini saya mendadak merasa kaya. Ya, tentu saja ini bukan perkara materi. Mengenal sesuatu yang baru memang hal yang menyenangkan untuk mengatasi kejenuhan.

Ya, begitulah sepanjang Selasa ini, saya mendadak merasa kaya. Untuk suatu pelajaran berharga.

Kami memanggilnya Kak Iman. Percayalah, dia sosok yang cukup langka kita temukan di jaman berteknologi canggih hari gini. Kita, punya banyak cara untuk bercerita, berbagi kisah, atau sebutlah itu curhat. Dan, sebagian di antara kita tentu lebih senang memilih untuk nongkrong di warung kopi bersama teman-teman atau yang paling hits saat ini, yaa, update status di Twitter. Ya, ada juga sii yang lebih parah, semacam update status BBM Contact.

Kak Iman, beda. Dia memilih untuk menjadi pendongeng. Mmmhh, ini langka menurut saya. Bahkan lebih langka dari menjadi dalang di sebuah pentas wayang. Kak Iman, punya boneka tangan yang dia mainkan sebagai aktornya. Dan cara itu lah yang ia pilih untuk berbagi cerita. Kepada anak-anak terutama.

Begitu welcome ia menyambut kedatangan kami. Dia punya banyak cerita dan pengalaman untuk dibagi. Saya hanya mampu menganggukkan kepala dalam setiap ceritanya. Oh, yang terlintas dalam pikiran saya bahwa ya, sosok orang begini benar-benar nyata.

Sepanjang liputan bersama Kak Iman, saya menjadi sangat dekat dengan dunia anak-anak. Memperhatikan kehidupan anak-anak. Ah, masa anak-anak adalah masa yang paling indah. Senang rasanya melihat mereka berlari ke sana ke mari tanpa beban.

Saya, memang orang yang tidak mudah akrab dengan anak-anak. Entah sejak kapan, salah didik atau salah gaul, saya menjadi orang yang kurang peka, dengan dunia anak-anak salah satunya. Berbeda dengan Kak Iman, hanya dengan sepatah dua patah kata, ia mampu menarik perhatian anak-anak, sekejap mata saja.

Hari Selasa itu, saya berkunjung ke Asrama Haji, hampir dua ribuan anak-anak sedang melaksanakan manasik haji di sana. Asli, ramai betul yaa. Dan pikiran saya pun balik ke beberapa tahun lalu. Mereka bermain tanpa beban. Apakah mereka pernah berpikir soal masa depan? Ya, mungkin sama seperti saya dulu, ya. Punya impian, dan semuanya indah. Tak ada satu beban. Kak Iman, membuka manasik itu dengan dongeng. Yaa, itu semata agar anak-anak tak sekedar bermanasik, tapi juga mengerti maknanya. Melalui dongeng, Kak Iman menyampaikan pesan sehingga lebih mudah diterima oleh anak-anak.

Anak-anak hanyut dalam dongeng yang diceritakan Kak Iman. Mereka tertawa, diam dan histeris, serentak, seiring dengan alur dongeng Kak Iman.

Perjalanan kita berlanjut ke sebuah yayasan yang terletak di Cileungsi, Jawa Barat. Sejam perjalanan dari Asrama Haji Pondok Gede. Sampai di sana, saya kembali diam. Menung.

Yayasan itu tampak sangat terawat. Begitu pula anak-anak ‘special gift’ yang dirawat di sana. Kedatangan Kak Iman, begitu dinanti. Jelas, mereka terhibur dengan dongeng Kak Iman. Mereka tertawa dengan cara mereka sendiri.

Meski punya dunia sendiri, saya menyadari bahwa itulah yang mereka butuhkan. Rutinitas mereka sehari-hari yaa, layaknya kehidupan di panti atau yayasan pada umumnya. Jadwal makan dan main yang teratur, selain beberapa aktivitas pembinaan semacam terapi.

Orangtua mereka berharap, ada, satu titik kemajuan ketika mereka dirawat di sana. Kelak, harapan akan menjadi orang yang berguna, setidaknya bagi diri saya sendiri.

Ini pengamatan yang baru bagi saya, bahwa ternyata mereka tampak lebih muda dari usianya. Siapa sangka seorang perempuan bertubuh mungil yang berada di atas kursi roda itu, sudah berusia 16 tahun. Dulu, 16 tahun saya merasa udah jadi orang yang โ€˜sokโ€™ dewasa banget, deh, seakan bisa mandiri, menghadapi setiap permasalahan sendiri.

Satu orang anak, dirawat 3 sampai 4 orang perawat loh. Saya, salut dengan pengabdian para pembina di sini. Meski, masih terhitung muda, mereka mau mengurus anak-anak yang membutuhkan perlakukan lebih disbanding anak-anak lain. Dan itu, semuanya. Mengurusi mereka. Dari mulai memberi mereka makan hingga membersihkan kotorannya. Saya? Saya mulai meragukan kemampuan diri saya. Malu muka sendiri, kalau ternyata saya belum melakukan apa-apa buat orang lain.

Saya, melanjutkan perjalanan ke Rumah Kak Iman, atau biasa disebut Pondok dongeng ceria. Rumah sederhana, yang terletak di Jati Asih bekasi itu tampak bersahaja. Percayakah? Kalau Kak Iman ternyata punya 13 anak! Kebayang, gimana ngurusnya yaa.

Memang tidak semuanya anak kandung. 10 di antaranya adalah anak asuh, yang diajak Kak Iman untuk tinggal di rumahnya ketika ia berkunjung ke daerah-daerah bencana. Oh, itu mulia menurut saya.

Kak Iman tidak pernah takut akan rezeki. Ini cukup menampar saya, dengan hedonism kehidupan saya sehari-hari. Saya malu kalau harus mengeluh.

Dan ini, kalimat yang paling saya ingat dari Kak Iman, bahwa berbisnis dengan Allah, adalah bisnis yang tidak pernah rugi.

Kak Iman dan istri, menyambut kami dengan hangat. Makanan yang disajikan ga pernah habis. Ya, ampun. Bermain di rumah Kak Iman pun membuat saya melupakan diet yang tak pernah berhasil ini.

Kesempatan berharga banget, bisa kenal Kak Iman, yaa. Banyak pelajaran yang bikin saya lebih peka dengan problema kehidupan. Apalagi kenal anak-anak Kak Iman, yang sebagian sepantaran dengan saya. Ups, Ya 14 tahun atau 16 tahun, masi sepantaran kann?

Kapan-kapan pengen deh, ke sana lagi. Mudah-mudahan silaturahmi ini bisa tetap terjaga.

Menunggu, dongeng kehidupan yang lain, Kak ๐Ÿ˜‰

Kesan Bergalau dari Mba Ovie

Ini bukan perkenalan pertama saya dengan perempuan cantik itu. Tapi, pertemuan kita selalu memberi kesan.

Jika bertemu dengan sosoknya, siapa yang percaya dia sudah berusia 40 tahun. Ah, penampilannya jauh dari itu. Kami seperti teman saja, padahal kita terpaut lebih dari 15 tahun. Hangat dan ramah. Gaya bicaranya pun santai, seperti yaa, seperti antara saya dan teman-teman sebaya.

Baiklah, saya perkenalkan dulu, siapa dia. Kita akrab menyapanya dengan Mba Ovie. Salah satu pemilik kios jilbab di Pusat Grosir terbesar di Jakarta. Dan jilbab-jilbab itu ia bikin sendiri. Di rumahnya. Ya, bersama sekitar 20 pegawainya.

Mba Ovie, senang sekali berbagi cerita. Pengalaman hidupnya. Itu kenapa banyak hal-hal berkesan yang saya dapat dalam bincang-bincang sore kita tadi. Dari mulai bagaimana dia merintis usahanya hingga cerita-cerita โ€˜pentingโ€™ soal wanita.

Tak mau membahas soal yang berbau โ€˜ibadahโ€™ sebenarnya di sini. Tapi, saya salut karena dia punya cara sendiri dalam mengelola usahanya ini. Usahanya, membuka lapangan pekerjaan bagi banyak orang. Dan tak sembarang itu, ia selalu menanamkan nilai moral pada pegawainya. Setiap kamis malam, mereka rutin mengadakan sholat berjamaah dan pengajian. Ya, karena dia tak ingin pegawai-pegawainya itu semata bekerja. Tapi juga beribadah. Bertambah ilmu untuk mencapai ridho illahi.

Tak pernah ia tidur, saat mereka lembur bekerja. Bukan karena tak percaya. Tapi, ada rasa tak tega, ketika ia terpaksa meminta pegawai-pegawainya untuk bekerja. Karena mereka bekerja untuk dia. Begitu katanya.

Well, pembicaraan kita tentu tak sampai di situ saja. Bagaimana perjuangan dia merintis usahanya. Benar-benar dari nol. Bayangkan, dulu ia menggotong sendiri kain yang ia jual ke pasar. Kini, ia sudah punya toko dan pabrik sendiri dengan pelanggan dari seluruh Indonesia.

Subhanallah.

Sebagai perempuan berdarah Padang, saya salut dengan kegigihannya. Menghadapi kehidupan. Ia termasuk wanita beruntung, punya suami setia yang menyayanginya hingga di usia pernikahannya yang ke ___ (saya gak tau berapa). Ah, Mba Ovie dan suaminya masih hangat meski sudah punya 3 anak. Hal yang mulai jarang saya temukan di kota-kota besar jaman sekarang.

Mungkin, saya harus melembutkan sedikit hati. Kepada saya perempuan single, Mba Ovie kasih advice soal kehidupan pernikahan. Kekawatiran, pasti ada. Tapi bukan sesuatu yang lalu membuat kita patah arang. Ya, karena bagi Mba Ovie menikah adalah perintah Allah yang harus disegerakan. Bagaimana dengan saya? Sampai saat ini saya masih dilanda ketakutan-ketakutan.

Bahwa sebenarnya wanita itu tak punya banyak pilihan. Karena kita punya batasan-batasan. Jangan sampai menyesal. Jika sudah ada, mengapa menunda? Pertanyaan retoris itu diberikan untuk saya.

Tapi, saya tampak masih keras hati. Karena jodoh tak bisa dipaksakan. Sama sekali tak bisa.

Mba Ovie, tetap tegas pada prinsipnya.

Mengapa begitu kawatir dengan pernikahan? Rezeki pernikahan itu udah punya paketnya sendiri.

Harus mencari yang seperti apa? Begitu lagi pertanyaannya. Saya terdiam. Mmhh, berpikir. Saya tak mencari yang seperti apa. Ah, pertanyaan seperti itu tentu tidak begitu menyenangkan bagi wanita seusia saya.

Saya kembali tak mampu melunakkan hati. Ini kegalauan akut, kalau kita pengen ikut bahasa Twitter. Saya tetap takut. Dan keras hati, apa harus?

Bertemu dengan banyak cerita pahit soal rumah tangga, membuat saya ketakutan setengah mati. Dan andai saja saya tak perlu menjadi dewasa. Ketakutan saya teramat.

Namun, saya gak mau. Karena katanya, ketakutan itu hanya untuk orang-orang yang tak punya keyakinan. Atau, sebut saja, tak beriman. Naudzubillah. Saya tak mau jadi orang-orang yang tergolong seperti itu.

Selayaknya malam-malam sebelumnya. Saya tak mampu memejamkan mata malam ini. Teramat tidak. Saya tidak tau harus kawatir tentang apa. Saya tak mengerti harus takut bagaimana. Saya hanya tak sanggup untuk memejamkan mata.

Bagaimana bisa? Hanya satu pertanyaan saya malam ini.

Baiklah, entah untuk apa saja. Saya bersyukur, Kamis telah berlalu. Saya sungguh tak menantikan Jumat ini, atau hari-hari apa saja. Apa yang saya tunggu? Impian? Harapan? Tak satu pun yang bisa kasih tau saya.

Malam ini tetap dingin dan sepi. Semua sudah tertidur. Dengan segala bahagia dan masalah mereka malam ini.

Untuk berita duka hari ini, #iPray

Untuk tidur nyenyak malam ini, #iCry

Untuk senyum hangat itu, #iWish

Another Bismillah. Nice to share with you, Dear Mba Ovie! :* Also thanks for that Sambal Sacuang with Pete nya. Awesome!

Sinergi Sebuah Perbedaan

Yaa, untuk hari ini rasa-rasanya saya semakin tak sabar untuk cerita. Mumpung sambungan internet lagi lancar, mumpung temen galau depan saya lagi gak bawel. Dan mumpung batere laptop masih 39 persen. Meski sebenarnya, masih ada prioritas lain yang harus saya kerjakan semacam naskah atau thesis. Tapi, tenang. Kita refresh isi kepala sejenak untuk mampir ke sini.

Well, ini bukan pertemuan saya yang pertama sebenarnya. Dengan Pak Suparman. Tapi, narasumber liputan kali ini benar benar berkesan bagi saya. Yaa, siapa sangka, Pak Parman, adalah seorang guru seni dan budaya beragama muslim di sekolah keristen. Ia bertubuh pendek. Dann, mungkin ini kejutan bagi saya. Bahwa ia tinggal di asrama biarawati. Yaa, ngerti kan maksud saya dengan biarawati. Bukan seperti kita, mungkin yang memang tinggal dalam keberagaman. Biarawati itu ekstrem, dalam agamanya. Yaa, seperti ustad saja. Mungkin sii, anyway saya ga begitu paham sebenarnya. Hanya saja, sempat ngobrol tadi dengan salah satu biarawati di sana bahwa dalam katolik itu ada dua pilihan, mengabdikan diri ke laki laki (suami) atau ke Tuhan. Dan biarawati adalah mereka yang mengabdikan dirinya ke Tuhan. Dan mereka memutuskan untuk tidak menikah.

Oke, Pak Parman. Bertemu pertama kali dengannya, satu kesimpulan awal adalah ia sosok yang sangat bersemangat. Entah, karena bertubuh kecil sehingga dia menjadi mampu bergerak ke sana ke mari, begitu aktif. Ya, dia begitu penuh semangat menjalani setiap aktifitasnya.

Lalu, apa yang diajarkan Pak Parman di sekolahnya? Ia mengajarkan segala yang berbau seni. Terutama menari dan drama teater. Bisa dibayangkan bagaimana Pak Parman mengajar tari? Bukan hanya melatih dan memberi komando. Tapi, bayangkan. Bahwa Pak Parman juga mempraktekkan nya. Ia memberi contoh bagaimana gerakan tarinya dan bagaimana menghayati ekspresi dalam drama. Mengikuti kegiatannya seharian, banyak kesimpulan lain yang di dapat. Bahwa ia sosok guru yang tegas dan berbakat. Ya, dibalik kekurangannya darah seni mengalir hebat dalam dirinya. Semua anak didiknya sayang padanya. Begitu juga di daerah tempat tinggalnya, yang tak jauh dari tempat dia mengajar. Ia menjadi sahabat, bagi semua.

Menurut pandangan saya, tak sedikit pun ia menjadikan kekurangannya sebagai halangannya. Dan, semata, ia ingin bermanfaat bagi orang lain. Itulah yang menjadi alasan, mengapa ia memilih untuk menjadi guru. Ia seorang pahlawan, tanpa tanda jasa.

Kemudian, saya berkaca pada diri saya sendiri. Seringkali kita mengeluhkan banyak hal dalam hidup. Padahal kita dilahirkan ‘normal’ bukan? Pak Parman tak sedikitpun mengeluhkan takdir yang Tuhan berikan untuknya? Bagaimana dengan saya. Kalau mau dibandingkan, oh, rasanya saya ga mau ngaca. Malu.

Hidup ditengah tengah lingkungan yang berbeda agama, pun tak terasa perbedaannya. Saya menangkap satu kesan. Ketika saya datang ke asrama itu, tak terasa ada batas. Biarawati atau sering disebut suster, begitu hangat menyambut saya. Padahal, jelas, bahwa saya berbeda dengan mereka. Saya datang dengan pakaian muslim, menutup aurat. Seperti pakaian yang biasa saya kenakan sehari-hari. Dan sambutan itu gambaran awal, bahwa perbedaan lah yang menyatukan kita. Perbedaan lantas tak membuat kita harus pecah. Setuju?

Mereka mampu hidup rukun, dengan sesamanya. Atau dengan tidak sesamanya. Bisa dinilai dalam konteks apa pun.

Ini seharusnya mengetuk hati dan isi pikiran kita. Inilah sinergi atas sebuah perbedaan. Perbedaan agama atau bentuk fisik.

Bagaimana pun kita menyamakan, tak ada manusia yang benar benar serupa. Sekalipun kembar. Yaa, seperti saya dan Imim saja. Meski terlahir kembar, banyak perbedaan saya dan Imim. Banyak sekali. Nanti dibahas di postingan lain yaa. Hehe.

Satu hal, bahwa perbedaan bisa menjadi pelajaran agar kita lebih legowo. Menerima setiap perbedaan itu.

Jadi, mengapa kita begitu takut akan perbedaan? Meski susah, ikhlas lah yang harus kita usahakan. Ini pesan moral yang bisa berlaku general yaa. Untuk sahabat saya yang ada dihadapan saya saat ini salah satunya. Yang sedang galau akan perbedaan. Mungkin itu bisa menyatukan? Ya, apa pun itu, bagaimana pun, toh di mana-mana kita akan menemukan perbedaan, kan? Mudah-mudahan yang terbaik yaa.

Mmhh, bagaimana dengan saya. Atau kamu? karena hidup ini penuh dengan pilihan, ayoo, kita sama-sama ikhlas. Perbedaan itu bisa menjadi sinergi sempurna. Yang indah. Bismillah ya, Sayang.

Menulis Hebat dari Negeri 5 Menara

Kelar liputan bersama A. Fuadi, penulis novel Best Seller ‘Negeri 5 Menara’ rasa rasanya saya sudah tak sabar untuk buka laptop, klik blog, dan posting di sini. Aselii, banyak banget yang ada di kepala, yang rasanya sayang kalau ga saya simpen di sini.

Beda. Liputan kali ini berbeda. Dan, apa pun, saya mau dibilang lebay atau enggak, yang pasti, saya beruntung bisa mengenal dan liputan bareng Bang Fuad, sapaan akrabnya.

Jika, biasanya saya yang harus mengumpulkan sekian banyak pertanyaan untuk digali dari seorang narasumber, kali ini, saya dibalas satu pertanyaan sederhana, semacam siapa idola saya. Dan sepanjang seperempat abad hidup saya, saya selalu bingung mau jawab apa, ketika dapat pertanyaan begitu.

Sejujurnya saya hanya punya jawaban standar semacam, Nabi Muhammad SAW, yang seharusnya menjadi idola semua umat muslim. Dalam pikiran saya, terlintas bahwa saya mengidolai Ayah saya. Meski tak sempurna, ayah saya adalah The Greatest Dad, menurut pandangan saya. Lagi, ini juga jawaban standar, bagi kebanyakan anak perempuan di muka bumi ini.

Namun, siang itu, saya paham bahwa yang Bang Fuad maksud bukan idola itu. Ini mengenai penulis idola. Well, saya harus diam beberapa detik kemudian memberi jawaban atas satu nama. Sebut sajalah, novel yang tetraloginya sedang saya baca saat ini. Pramoedya Ananta Toer. Lalu, sederhana saya sebut nama itu. Memang, juara rasanya pantas buat sastrawan itu. Setiap kalimat yang ditulisnya, tidak belebihan, sederhana, dan keren. Sekali lagi, per kalimat yang ditulisnya keren. Beberapa bilang, itu novel berat, tapi saya menikmatinya. Meski tak bisa dilahap abis dalam satu malam. Mengingat saya punya banyak gimmick yang harus dikerjakan. Sebut aja itu penciteraan bernama naskah, atau thesis, yang keduanya pun tak mendekati kemajuan pesat.

Apakah, untuk menjadi penulis hebat, harus punya idola? Mmhh, saya mulai pikir pikir, saya harus mengidolai siapa meski tak terobsesi jadi hebat dong, tentu saja. Tapi, jujur, saya bukan tipikal pembaca yang murahan suka sama seorang penulis. Banyak penulis penulis luar biasa, best seller pula, tapi bagi saya biasa. Dan lagi, bukan karena selera saya luar biasa yaa, tapi mungkin karna saya memang ga terlalu murahan soal ini. Atau beberapa penulis hebat itu tak sanggup dijangkau untuk isi kepala saya. Silakan artikan sendiri maksud kalimat saya ini apa, ya ๐Ÿ˜‰

Dan, Bang Fuad, salah satu penulis yang karya nya bisa saya nikmati. Novel nya sangat ringan, dan menyenangkan untuk dibaca. Sarat makna serta penuh semangat.

Jika, di antara kita menyukai karyanya. Mungkin, mengenalnya bisa membuat kita jatuh cinta. Jelas, Bang Fuad cerdas, cemerlang, dan pintar. Itu sepanjang perkenalan saya waktu liputan. Kepribadiannya sederhana, dengan pengalamannya yang luar biasa. Jauh dari kesan jumawa, Bang Fuad bersahaja. Lagi, itu menurut pandangan saya. Mudah-mudahan Bang Fuad bisa seperti itu seterusnya yaa. Kalau ga percaya, kenalan sendiri, ya. Nanti bisa sharing di sini.

Sebagai wartawan kemarin sore, agak grogi boleh dong, berhadapan dengan jurnalis handal. Handal asal kata yang dikutip dari anak anak kantor ya.

Cerita ceritanya, membuat saya terdiam, dan hanya bisa puji dalam hati, karena ga mau lebay. Mungkin rasa penasaran saya, berbeda dengan teman-teman lain, atau apa yang pemirsa pertanyakan. Saya menikmati rasa ingin tahu saya. Apa pun itu.

Bang Fuad begitu antusias dengan pengalaman hidupnya, namun tak berbekas kesan sombong. Dan siapa lah yang tak iri hati dengan keberuntungan yang diperolehnya sebagai penerima 8 beasiswa. Luar negeri. Saya, satu saja susah.

Seperti yang ada dalam novel pertamanya, Negeri 5 Menara, Bang Fuad selalu mengingatkan agar selalu bersungguh-sungguh. Bersungguh sungguh lah lebih dari rata-rata, walaupun lebih nya sedikit. Dari sekian kalimat motivasi yang diucapkan Bang Fuad, itulah yang saya ingat.

Dan dari obrolan saya dengan Bang Fuad, saya rangkum secara singkat trik dari Bang Fuad soal menulis.

1. Jika kebanyakan mengira, bahwa untuk menjadi penulis harus punya hobi membaca, ternyata tidak sepenuhnya berlaku kok. Bang Fuad mengaku bukan orang yang senang membaca. Dan ini kabar baik bagi kita yang tidak senang membaca, tapi punya cita-cita jadi penulis. Kabar buruknya, membaca itu sangat penting. Membaca bisa menjadi sumber inspirasi. Dengan membaca kita bisa memilih sendiri gaya menulis yang kita sukai. Berkreasi tanpa batas. Kosakata pun bertambah. Nah, jika Bang Fuad bukan lah salah satu orang yang senang membaca, bukan berarti ia tak membaca. Beruntungnya, ia punya seorang istri, akrab disapa Mba Yayi, yang sangat ‘gila’ buku. Mba Yayi, adalah wanita dibalik kesuksesan karya karya Bang Fuad. Lagi pula, jika Bang Fuad mengaku bukan orang yang senang membaca, boleh dong saya ragu sedikit, jika menemukan ruang baca dengan rak rak tinggi penuh koleksi buku di salah satu sudut rumahnya. Maaf, foto tidak diposting, liat tayangannya aja, ya. Hehe.

2. Why? Kenapa menulis? Kata Bang Fuad, untuk mulai menulis, penting bagi kita untuk punya alasan, mengapa kita merasa perlu menulis. Bang Fuad sendiri menganggap karya karya nya adalah titik balik atas apa yang sudah dicapainya selama ini. Tak pernah ia membayangkan bahwa bukunya akan menjadi Best Seller. Ia hanya merasa perlu menulis, berbagi manfaat kepada orang lain. Mungkin, orang lain juga bisa seperti dirinya, terkait dengan keberhasilannya meraih beasiswa. Lalu, bagaimana dengan saya? Secara kebetulan, saya bukan penulis memang, tapi saya punya alasan kenapa saya nulis di blog ini. Jauh dari yang orang-orang pikir penciteraan. Menulis disini jadi aktivitas menyenangkan, karena kita bisa menulis bebas, tanpa ada beban editing, jika tulisan kita ngaco. Hehe. (curcol dikit). Skip lah tentang saya. Kita balik lagi ke Bang Fuad.

3. Mulailah menulis dari yang paling mudah. Biasanya, menulis akan jadi sangat menyenangkan jika berhubungan dengan segala sesuatu yang menarik bagi kita. Bisa dari pengalaman sendiri, keadaan sekeliling kita, atau sesuatu yang membuat kita peduli. Bang Fuad, berhasil mengemas pengalaman hidupnya menjadi triogi (soon to be) yang mengagumkan. Bagaimana dengan kita?

4. Fokus dan menulislah. Menulis, butuh inspirasi. Terlalu banyak ide, juga tidak selamanya baik. Fokus juga merupakan kuncian agar kita bisa menyelesaikan tulisan. Untuk itu, kita harus tetap menulis. Bang Fuad menyelesaikan novel Negeri 5 Menara, selama 1.5 tahun. Dan ia tetap menulis. Sehari, pasti ada kalimat yang ditulis untuk novelnya. Menulis setiap hari, setiap ada kesempatan membuat kita fokus dan tidak berhenti menulis. Pasti ada jenuhnya, dan jika jenuh itu datang, biarkan pikiran kita fresh, sebelum akhirnya tetap menulis lagi. Sedikit demi sedikit lama-lama jadi buku, begitu kata bang Fuad.

Jadi, ada yang mulai menulis hari ini?

Saya lanjut lagi cerita kunjungan saya ke Rumah Bang Fuad siang itu. Dan saya pun beruntung bisa mengenal Sang istri. Wanita dibalik kesuksesan Bang Fuad. Ngobrol dengan Mba Yayi, barulah saya mengerti. Memang, Mba Yayi seorang yang pintar dan penuh ide. Dukungan penuh ia persembahkan untuk suaminya. Bang Fuad menulis, Mba Yayi yang ngedit. Begitulah salah satu cara Mba Yayi mendukung Bang Fuad.

Mari kita mengengok ke sisi lain Rumah Bang Fuad, yang terletak di bilangan Jakarta Selatan ini. Okelah, Mba Yayi pencinta travelling around the world. Sangat. Tak koleksi bermewah mewahan, Mba Yayi mengoleksi magnet dari berbagai negara. Dan jumlahnya, tak hanya 8 atau 20. Mungkin sudah ratusan. Kulkas, jelas tidak cukup untuk menempel magnet magnet itu. Jadilah dua buah dinding besar yang menjadi sandaran koleksi magnet nya. Aslii. Lucu bangett. Dan travelling menjadi wishlist tiap tahun bagi pasangan ini. What a life. Sungguh unik dan seru yaa.

Rasanya, belum cukup seribu kata untuk menceritakan pertemuan saya dengan Bang Fuad, tapi toh jika postingan terlalu panjang, kawatir yang bacanya jadi bosen. Hehe.

Anyway, nice to know Bang Fuad dan Mba Yayi. May Allah swt always bless you a greatest!

Kalau mau nonton Ngobrol ngobrol saya dan Bang Fuad, Di Antara Kita di MNCTV Senin, 19 Desember 2011, jam 10.30 yaa.

Yang Keliling Datang, Yang Baca Nyerang

Sederhananya. Ternyata hari gini masih ada yang begini.

Begitulah, ketika saya berkenalan dengan Ibu Kiswanti, di Desa Lebakwangi, Parung, Jawa Barat.

Berkunjung ke rumahnya. Siapa yang menyangka bahwa tempat ini didirikannya dengan sukarela. Sebuah perpustakaan dan tempat bermain. Ketika saya ke sana, anak-anak bolak balik mampir, datang dan pergi. Jika dibandingkan dengan tempat tinggal nya yang (sangat) sederhana, tak perlu heran lah, saya cuma bisa berkata ‘masih ada yang begini’

Di tengah, egois nya dan kerasnya kehidupan, masih ada yang lebih mementingkan orang lain dari pada dirinya sendiri. Dia lah, Ibu Kiswanti. Sosoknya sangat ramah, ceria dan apa adanya. Jika beberapa orang ‘kebiasaan’ mengumbar kesusahannya, tidak begitu pada Ibu Kiswanti. Tidak sedikitpun ia tergurat susahnya. Hanya semangat yang ada pada dirinya. Jelas, dia punya ketulusan yang sangat besar untuk menumbuhkan minat baca pada warga Kampung di sekitar tempat tinggalnya.

Meski tak sempat mengenyam pendidikan tinggi, tekad kuat untuk menyekolahkan anak anaknya. Setinggi mungkin. Putranya yang pertama kini, tengah mengenyam pendidikan untk memperoleh gelar sarjana di Universitas Indonesia. Putrinya yang kedua, masih di bangku SMA.

Dulu, ia mengayuh sepedanya. Berkeliling kampung, sejak 15 tahun lalu. Setahun lalu, tidak lagi. Sudah ada sukarelawan tetap Pak Fatah namanya. Upah 15000 diterima Pak Fatah sehari. Bisa kah dikatakan upah? Tak sebanding dengan lelah yang dikeluarkannya.

Koleksi buku yang ada di perpustakaannya sudah lebih dari 5000 buku. Setiap hari buku dan majalah yang dibawa, diganti, sehingga tak bosan lah yang membacanya. Memang, tak semua buku buku baru dan bagus yang dibawa berkeliling. Takut rusak atau hilang. Jika ingin yang baru baru, bisa mampir langsung ke Perpustakaannya.

Sekilas, mungkin ada kesan biasa saja. Tapi, saya dibuat cukup kaget, dengan semangat anak-anak dan ibu-ibu ketika Pak Fatah datang. Biasanya, setiap sore mereka sudah berkumpul menunggu Pak Fatah datang. Buku dongeng menjadi rebutan, sedangkan buku resep memasak biasanya yang paling dicari ibu ibu.

Coba kita menilik pada pusat ibu kota di Jakarta. Apakah masih ada yang begitu? Rasanya buku buku sudah tidak dilirik lagi. Kita lebih senang browsing atau update dari Twitter aja, yaa. Kadang, belanja buku buku best seller memang masih dijadikan alah satu kegiatan seru. Tapi, membacanya? Rasanya hampir tidak punya waktu. Habis, kebanyakan menghadapi kemacetan jalanan. Well, ini pengalaman pribadi si. Pasti, ga semuanya seperti saya, dong. Ya kan?

Warabal (Warung Baca Lebakwangi), selalu ramai dengan berbagai aktivitas. Kata Ibu Kiswanti biar anak-anak semangat belajar dan ngumpul di perpustakaannya. Berbagai kegiatan diadakan, belajar sambil bermain.

Yang lebih bikin haru, anak anak di sana, sopan-sopan. Hihi, ketemu saya, semuanya cium tangan. Wihihi, berasa Ibu Guru, deh. Agak malu juga pas gabung ngajarin ngaji. Rasanya kok kebalik, yaa. Harusnya saya ikut diajarin ngaji nih. Wupsss!

Ada ga ya, Ibu Kiswanti Ibu Kiswanti lain di Indonesia?

Sengaja nih, ga nyelipin gambar dulu. Jadi, nonton ya, Bagaimana kisah Ibu Kiswanti menyebarkan minat baca untuk warga di kampungnya. Senin, 14 November 2011, 10.30 WIB di MNC TV. Jangan lupaa, hehe ๐Ÿ˜‰ See you there Guys!