Harus. Sepatu Roda.

Kisah ini berawal dari keinginan aneh saya yang lain. Setelah, macam-macam pengen beli ini itu, ini itu, akhirnya saya punya satu keinginan (lagi). Tiba-tiba saya pengen punya sepatu roda.

Ingat beberapa tahun lalu, saya masih SD kala itu. Ketika teman-teman saya udah punya sepatu roda, saya ngotot minta dibeliin sepatu roda juga sama orangtua. Awalnya, orangtua saya keberatan. Kemudian, itu mendadak bikin saya dan Imim, ngambek mendep di kamar. Tapi, kejutan, karena pada sore yang sama, orang tua saya datang bawa sepatu roda. Jadilah, saya kembali semangat, menghadapi sore hari di masa anak-anak saya itu. Saya tak lagi perlu merasa iri dengan teman-teman sebaya. Karena saya, juga sudah punya sepatu roda. Meski, tetap harus gantian sama Imim pakainya. Ya, nasib punya saudara kembar. Apa-apa harus sharing. Hehe 😀

Memang, masa anak-anak itu masa yang paling indah, yaa. Gak ada beban apa pun kayanya. Kebetulan, saya tidak tinggal di Ibukota yang semrawut seperti sekarang. Hampir setiap sore, dihabiskan untuk main sepatu roda keliling kompleks. Tak kenal waktu, bahkan. Janji, untuk tidak meninggalkan bikin PR atau belajar karna besok akan ujian pun pupus sudah. Bermain-main itu jauh lebih menyenangkan. Ah, seandainya menjadi anak-anak itu bisa selamanya, ya.

Rupa-rupanya, sepatu roda bukan lagi olahraga yang sedang tren di tahun 2012 ini. Ya, karena tak mudah mendapatkan sepatu roda baru. Belakangan, saya sempatkan untuk browsing-browsing soal sepatu roda. Tak banyak yang bisa saya temukan. Selain, saya memang tak begitu paham sepatu roda seperti apa yang bagus. Dulu, sepatu roda yang saya punya, bukan sepatu roda mahal tentu saja. Karena pakenya tak senyaman punya teman-teman saya. Tapi, gapapalah, yang penting punya.

Beberapa waktu lalu, saya coba titip teman, yang sedang Dinas Luar Negeri ke Dallas, USA. Karena saya ingat, sepatu roda punya teman saya, yang nyaman dan empuk itu, dia beli di Benua Amerika sana. Tapi, teman saya kontan protes dititipi barang begituan. Katanya berat bawanya. Dan, susah nyarinya. Mmhh, mungkin sepatu roda pun sudah tidak tren lagi di negara itu.

Saya kembali browsing. Niatan belanja di Ebay membuat saya lemas. Harganya bikin saya pengen pingsan. Dan belum lagi spesifikasinya yang gak pasti. Saya batal berburu di dunia maya itu. Keinginan untuk punya pun tak berkurang. Saya berniat untuk ngubek-ngubek pasar di seluruh pelosok Jakarta. Saya yakin, pasti ada.

Weekend lalu adalah waktu kabur saya. Kabur pada kepenatan hidup. Ya, saya selalu punya masa-masa itu. Masa-masa saya tak ingin terganggu. Mmh, mungkin kedengarannya aneh ya? Tapi, saya rasa, bukan cuma saya yang perlu masa-masa seperti ini. Namanya saja kabur. Temanya bisa apa saja. Kabur keluar dari Jakarta atau sekedar mendem di kamar, itu juga kabur kan? Yang penting kabur dengan segala urusan dunia.

Dan kabur saya kali ini, berbeda. Dalam misi, mengabulkan keinginan saya yang (ke)terlalu(an) itu. Weekend ini, saya harus punya sepatu roda baru. Kemana pun schedule yang sudah direncanakan, saya harus tetap sempat untuk mencari sepatu roda baru.

Dan itu tidak mudah. Saya nyaris putus asa dibuatnya. Bertandang ke sebuah toko olahraga yang ada di Mall besar, tak bisa mengakhiri pencarian saya begitu saja. Tak tertarik, dengan sepatu roda yang dipajang di sana. Harganya mahal, merknya tak terkenal. Tapi, saya tetap coba sepatu roda ituu. Ya, kalau-kalau pas dipakai tak seburuk penampilannya.

Ya, ternyata benar, memang tak separah itu. Sepatu roda yang dijual di situ boleh lahhh. Saya bandingkan dengan sepatu roda yang dulu saya punya, jauhh. Yang ini memang lebih nyaman. Tapi, bentuknya? Haduh, kurang keren gimana gitu. Hehe. Dari penjaga toko, dia menuliskan secarik kertas untuk saya. Alamat skateshop, jika ingin yang lebih lengkap. Oke, tanpa basa-basi, walaupun saya gak tau sama sekali itu di mana, saya, tetap meluncur ke sana. Tebak-tebak jalan tentu saja.

Ya, hampir putus asa. Alamat yang dituliskan seperti alamat sebuah perumahan. Saya hampir sangsi, apa ada skateshop di daerah seperti itu. Yuhuuuii, berbinar mata saya ketika melihat toko itu. Siapa sangka, ada toko begini di perumahan entah dimana ini.

Ketika masuk, mmhhh, saya mencium aroma rollerblade yang saya cari. Ah, semakin tak sabar, sebentar lagi saya punya sepatu roda baru. Dan, ternyata tidak. Ketika saya hampir membeli salah satu sepatu roda yang dipajang, penjaga tokonya bilang. Kalau mau pilihan yang lebih banyak, bisa mampir ke ___________ sambil menunjukkan alamat toko di sebuah mall besar lainnya. Saya tarik nafas sedikit. Jangan terburu-buru. Mungkin punya beberapa pilihan bisa jadi pertimbangan rollerblade mana yang lebih baik saya beli. Okelah, dengan lelah sedikit, saya tetap ke mall itu. Dan seperti saya duga. Tak ada pilihan. Kurang lebih saja.

Singkat cerita, dari penjaga toko olahraga di mall itu, saya dikasih tau untuk ke mall lainnya, ada dua toko di sana, yang juga menjual rollerblade. Dan tak jauh beda, sudah saya duga. Tak banyak pilihan. Mall-mall itu memang sedang tidak menjual banyak rupa rollerblade, dengan kualitas bagus. Kualitas yang saya inginkan. Lemas tentu saja. Ini hampir larut.

Bayangkan, ketika saya begitu ingin besok pagi bangun, main sepatu roda. Jam segitu, saya belum juga dapat sepatu rodanya. Oke, saya putuskan untuk putar kemudi kembali ke skateshop di perumahan itu. Saya berharap saya memang berjodoh dengan salah satu sepatu roda yang dijual di sana.

Dan! Dang! Ketika saya sudah begitu yakin untuk memilih satu, Si penjaga toko mulai aneh. Seolah gak mau barang yang dia jual, saya beli. Dia bilang, dia ga warranty, dan ga punya sparepart, dan seterusnya, seterusnya. Dan, membuat saya ragu. Lalu. Lalu. Lalu. Dia bilang, dia punya referensi satu toko lagi. Tapi jauh, letaknya saja gak di ibukota. Saya?? Harus berkomentar apa?? Dia gak tau betapa persoalan rollerblade ini adalah harus. Saya ngotot setengah mati. Dalam hati. Kenapa gak bilang dari tadi, si? Saya lirik jam tangan. Nyaris jam delapan malam waktu setempat. Perjalanan ke pinggiran ibukota itu butuh waktu, mmh, 45 menit, kalau ga nyasar, kalau ga macet.

Dan malam itu hening. Saya tak lagi semangat. Satu-satunya, saya ingin pulang. Melupakan perjuangan saya hari ini. Kekhilafan saya malam itu, tak lagi tertarik dengan yang mendinginkan hati saya. Bahkan sebotol minuman kaleng untuk melepas dahaga pun, tak ingin. Saya kesal. Tapi, ini berlebihan. Setelah saya pikir-pikir.

Hanya untuk sebuah rollerblade. Jujur saya haru. Karena kendaraan itu masih berusaha. Menerobos jalan bebas hambatan menuju pinggiran ibukota. Gemuruh, tak lagi yakin. Saya gak mungkin dapat sepatu rodanya malam ini. Tahukah, saya kesal. Kesal dengan entah apa. Sesuatu yang tak beralasan. Atau getaran iPhone yang bukan milik saya itu. Sejujurnya itu menambah deras air mata. Bahwa karena sebenarnya, kesalnya bukan semacam bocah 11 tahun yang ngambek di kamar karena ga dapet sepatu roda yang baru. Saya kesal, karena tidak boleh kesal. Pikiran pun isinya macam-macam. Hopeless, bukan karena sepatu roda.

Sepanjang perjalanan, ketika kesabaran dan amarah memenuhi kendaraan buatan lokal itu, saya hanya mampu memandang kosong jalanan yang saya gak tau itu di mana. Saya mau ke mana malam ini? Saya perlu satu rengkuh, yang meyakinkan. Tapi apa ada?

Dan malam itu, menjadi cerita. Satu lagi cerita. Tanpa kata-kata. Apa arti kata? Jika tidak akan menjadi nyata? Tanggal dua lima. Saya menutup malam, dengan perintah berharga. Menghargai. Katanya, saya punya teori sejuta. Dan sekedar sejuta teori itu, buat apa? Gak mau, katanya. Dan malam itu, meski belum punya rollerblade baru, saya menjadi wanita paling beruntung karena mampu tak peduli dengan yang tak visual. Andai, bahagia malam itu selamanya. Saya tidur dengan Bismillah.

Mudah-mudahan besok punya rollerblade baru. *tetep*

Hey, hey. Tanggal dua lima itu berlalu. Sudah tanggal dua enam. Dan ini Minggu pagi. Minggu pagi, yang seharusnya saya sudah meluncur bersama si sepatu roda. Saya bangun dengan semangat. Tak punya rencana apa-apa pagi ini. Hari ini. Ya, selain berbururollerblade.

Pagi itu, saya langsung menuju daerah pinggiran ibu kota. Dan jauh. Saya merasa perjalanan ini tak kan kunjung sampai. Serius, saya belum pernah ke sini. Sama sekali. Saya memasuki kota yang katanya pusat pemerintahan.Well,perjalanan ini begitu menyenangkan. Karena saya punya sejuta semangat untuk berbururollerblade.Sedikit malu, kalau ingat kejadian semalam. Oh, saya merasa seperti anak kecil. Tahukah, memasuki kota itu, jujur saya agak pesimis menemukan rollerblade itu. Bayangkan, kota itu minim pusat perbelanjaan. Hanya gedung-gedung pemerintah yang ada.

Menelusuri, saya sampai juga di tempat yang mereka sebut skatepark. Argh, ini bukan tempat jualannya. Tapi tempat muda muda ngumpul memamerkan kebolehannya. Dan Alhamdulillah, meski sempat pesimis, kemudian, kemudian, tempat ini, adalah saksi perjodohan saya dengan si rollerblade. Hehe, lebay yaa. Dan jodoh itu begitu dekat. Saya dapat rollerblade keren. Dengan harga yang, ya, sedikit tidak masuk akal. Hehe. Tapi gakpapa deh. Itung-itung ini buah perjuangan saya. Penuh cinta. Tak bisa menahan senyum. Saya resmi, punya rollerblade baru.

Tak sabar rasanya saya meninggalkan kota dengan struktur bangunan yang keren itu. Saya menunggu sore. Dengan sebuah pelukan. Meluncur mengelilingi taman. Penuh cinta. Sore itu, saya menjadi cewek paling keren menurut penilaian saya sendiri. Hehe. Saya merasa lengkap, penuh syukur. Saya punya rem hebat ketika jalur di taman itu meluncur, dan punya semangat mengagumkan ketika harus menanjak. Apalagi yang saya inginkan sore itu? Saya. Dan sepatu roda. Dan rem. Dan semangat. Dan cinta. Dan apalagi. Bukankah kita begitu serasi?

Dan hanya Bismillah. Yang sanggup saya katakan.

It’s you. The Incredible.

Ku. Lit.

Salahkah jika saya menjadi penggemar kulit?

Belakangan, saya sedang menikmati menjadi penggemar kulit. Lah, istilahnya agak susah ditebak ke mana arahnya ga si? Tapi, sejujurnya ini bisa menjadi apa saja. Kulit apa saja.

Niat nge post tentang ini, berawal karena saya mendadak jadi penggemar berbagai aksesoris fashion kulit, ber tag ‘genuine leather’. Jika kemudian kulit kulit ini melebar kemana-mana jadi kulit lainnya, yaa, boleh lahh. Saya juga penggemar kulit lainnya.

Sebenarnya, ada perang perasaan juga, ketika menyukai fashion serba kulit ini. Rasanya ga tega, jika hewan-hewan itu dikuliti. Tapi berusaha berpikir positif bahwa sebagian memang hewan yang diternakkan. Semacam pembelaan diri yaa. Kemudian, semakin lama, sebagai wanita normal, saya menjadi tergila-gila dengan produk kulit. Asli. bukan yang imitasi tentu saja.

Ya, meski berbandrol harga yang cukup tinggi, saya dengan pikiran pendek, rela merogoh kocek lebih dalam. Oh, tidak. Plisss, maafkan yaa. Tapi, produk produk ini begitu menggoda saya. Ini, bagian dari kesenangan dunia, menurut saya. Mudah-mudahan saja, saya ga sampai harus ber status ‘kalap’ yaa.

Dan, bagaimana dengan pembahasan kulit lainnya? Ini perkara kulit ayam crispy, yang tidak sehat itu. Saya suka. Sekian. hehe. ketika makan, ayam goreng crispy ini, saya mendadak menjadikannya GONG ketika makan. Kulitnya disisakan untuk kenikmatan terakhir saat makan. Mmhhh, rasanya sedihh banget saat kunyahan terakhir tiba. Mau nambah lagi, ya, saya harus ingat berat badan. Dan kesehatan tentu saja. Semua udah tau pastinya, bahwa kulit ayam itu jauh dari gizi dan makanan sehat.

Dan saya jadi menyimpulkan, bahwa memang yang enak, tak selamanya baik. Hehe. Okee, batere nya kian menipis. Ini dipublish dulu, ya.

Your color, You are coloring my day. Thanks, dear!

 

Waktu dan Kopi

Menghabiskan waktu di warung kopi.

Ada yang senang menghabiskan waktu di warung kopi? Mungkin sebagian di antara kita  setuju. Lihat saja, hampir setiap saat warung kopi ramai pengunjung. Sebagian menganggap, menghabiskan waktu di warung kopi itu semacam buang-buang waktu. Coba, kita telaah lagi. Menghabiskan waktu, artinya, waktu yang tersisa kemudian dihabiskan, dan bagi saya, lebih baik dihabiskan daripada dibuang-buang. Bener ga? Gimana? Masih ada anggapan bahwa menghabiskan waktu di warung kopi itu buang-buang waktu?

Ya, mungkin ada maksud lain dibalik, pilihan kata ‘buang-buang waktu’ itu. Banyak yang bisa dilakukan daripada menghabiskan waktu di warung kopi. Bukankah, lebih baik pulang ke rumah kemudian beristirahat? Atau berkumpul bersama keluarga? Itu sebagian komentar dari teman-teman saya.

Dan kembali lagi, itu adalah pilihan. Setiap orang punya hak untuk memilih apa yang harus dilakukannya untuk menghabiskan waktu.

Saya, bukan penggemar kopi. Saya penggemar duduk santai di warung kopi. Karena gemar duduk-duduk di tempat itu, kemudian lidah saya menjadi akrab dengan kopi. Saya menjadi punya jenis-jenis kopi favorit meskipun saya tak ingin mengkategorikan diri saya sebagai penggila kopi.

Bagi saya, duduk duduk santai begini, adalah salah satu pilihan refreshing bagi saya. Tak mampu, setiap akhir pekan untuk liburan ke luar dari ibukota. Saya memilih, untuk menghabiskan waktu di warung kopi. Bersama teman (-teman) atau sendiri. Keduanya punya kenikmatan yang berbeda.

Mungkin tak banyak yang mampu menyaingi kemampuan saya untuk bertahan dan bermalas-malasan di sebuah warung kopi favorite saya di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat itu. Jika ada, hai, hai, salam kenal. Senang rasanya punya teman yang senasib.

Untuk itu, kadang saya lebih senang menghabiskan waktu sendirian. Jika begitu, mengapa saya tidak memilih untuk menghabiskan waktu sendirian saja di kamar? Ya, karena menghabiskan waktu di warung kopi ini punya sensasi yang berbeda. Boleh lah, kemudian saya menobatkan tempat ini sebagai rumah ke dua saya. Setelah, mobil. Haha. Ya, rasanya kok hidup di Jakarta, jadi lebih sering dihabiskan di jalanan, ya. Bukan karna jaraknya yang jauh tentu saja, tapi karena volume kendaraan yang padat.

Saya punya cara sendiri menikmati waktu-waktu di warung kopi ini. Saya mampu menghabiskan waktu 24 jam yang saya punya, jika ada. Ditemani dengan berbagai teknologi terkini tentu saja. Untuk itu, kadang, saya menyangsikan apakah ada di antara teman-teman saya yang sanggup seperti saya. (*nyengir*) Itu salah satu alasan mengapa saya seringkali memilih sendiri di tempat ini. Percayalah, bukan karena tempat ini cukup bergengsi di Ibukota. Atau, karena privilege yang saya dapatkan dari para baristanya. Tapi semata saya senang menghabiskan waktu saya di sini.

Di sini, kita bisa se bodo amat an dengan apa yang orang-orang lakukan di sekitar kita. Terkadang saya mengamati pengunjung yang datang silih berganti. Mereka tak peduli. Dan tak ada kekawatiran, akan di usir. Warung kopi ini beroperasi 24 jam. Seolah memang disediakan untuk orang-orang seperti saya.

Jika sebagian berpikir, untuk apa buang buang waktu (juga uang) di sini. Mereka beranggapan ini tidak produktif. Wahh, jelass, bahwa saya punya pendapat yang berbeda. Ini jelas, lebih produktif dari pada menghabiskan waktu di jalanan padat yang membuat mesin mobil tua saya semakin ngadat. Jika mau dibandingkan dengan biaya nya? Ini sekedar ‘ngeles’ kali yaa. Daripada saya membiarkan mesin mobil bekerja lebih keras saat macet atau bahan bakar yang lebih boros ketika kopling terus ditahan, belum lagi stress kelelahan bersaing dengan kendaraan lain, ini tentu jauh lebih irit. Sekali lagi, yang protes tidak setuju, feel free lohh. Karena ini cuma nge les.

Saya tetap merasa lebih produktif di sini. Saya senang mengamati berbagai karakter pengunjung yang datang. Dari mulai orangtua yang berkumpul bersama anak-anaknya, para bikers dengan peluh setelah menyusuri ibukota, sampe beberapa wanita dengan dandanan seronok tampak sedang menunggu, entah apa. Ya, begitu beragam gaya hidup yang bisa saya amati di sini.

Di tempat ini, saya pun bisa seakan lepas dari kepenatan hidup (pasti dianggap lebay deh, nih). Saya merasa bisa menikmati dunia saya sendiri. Tersambung dengan koneksi internet membuat saya dapat terus meng-update berita terkini, yang menarik menurut pandangan saya. Saya merasa bisa begitu seru dengan diri saya sendiri.

Di sini, saya tidak peduli, ketika ingin marah atau menangis pada diri sendiri. Pekerja dan pengunjung di sini, punya urusan masing-masing. Dan mereka dapat dengan leluasa membiarkan saya. Walaupun sesekali saya dapat bocoran bahwa mereka juga suka ngomongin customer di backroom. Wkwkk, tapi ya sutralaaahh. Toh, dibelakang kan? Saya ga denger.

Sebagian inspirasi dan buah pikir, bisa muncul di tempat ini. Dari yang wajib macam #naskah dan #thesis, sampai tulisan-tulisan yang di-publish (di blog dan twitter) dan yang tidak di-publish. Browsing, web walking, dan socializing. 

Pada suatu masa, saya menjadi khawatir apakah ada yang mau menyesuaikan gaya hidup yang saya pilih seperti ini. Atau mungkin nanti saya lah yang harus mengalah, meninggalkan kebiasaan ini karena masih banyak prioritas yang perlu diurus daripada sekedar duduk santai dan malas-malasan di tempat ini. Menentukan calon suami mungkin salah satunya. 😉

Jika mencari saya, seringkali saya didapati di sini. Ya, karena hampir sebagian waktu saya habiskan di sini. Bukannya, tak pernah jenuh, saya juga bisa untuk absen ga mampir dulu ke sini. Itu, sudah pernah saya lakukan. Saya lebih senang pulang ke rumah lebih cepat atau menghabiskan waktu lebih lama di kantor untuk berkumpul bersama teman-teman. Tapi, jika jenuh itu sudah lampau, saya kembali lagi dengan kebiasaan menghabiskan waktu di sini.

Selain karena tempatnya yang dekat kemana-mana karena terletak di pusat di ibukota, tempat ini juga punya pelayanan menyenangkan. Barista-barista nya ramah dan tampak akrab. Meski, akhir-akhir ini mulai muncul barista-barista baru yang masih asing dalam pandangan saya. Entah, karena kebiasaan, ramuan kopinya pun menjadi berbeda dibandingkan dengan store se brand, di tempat lain.

Kalau mau tau diri sedikit, saya termasuk customer yang ‘high complaining’ loh terhadap pelayanan sebuah cafe, restoran, atau coffeeshop. Tapi di sini, mereka dengan sabar (di depan) melayani. Rasa minuman yang tidak sesuai dengan pesanan pasti diganti baru. Tak jarang, saya mendapat compliment (walaupun sekedar air putih) dari barista-baristanya yang sudah berubah status menjadi teman-teman saya. Tapi soal gratisan ini rahasia yaa. 🙂 Terlebih, saya tak perlu malu-malu minta tolong untuk mencuci tumbler saya, sampai-sampai dinobatkan sebagai tumbler purbakala. Haha, ini lucu. Sangat lucu melihat ekspresi mereka ketika harus mencuci tumbler yang sering dalam jangka waktu lama lupa dicuci itu. Thanks, guys! 😉

Smoking dan non smoking area nya juga dipisah. Selain untuk menjaga kenyamanan pengunjung, juga untuk tetap menjaga kualitas biji kopinya. Mungkin ini juga alasan yang membuat banyak orang yang menyukai beragam kopi di sini.

Bukan, sepenuhnya saya menghabiskan waktu sendiri di sini, kok. Bersama teman-teman juga ga kalah seru. Bahkan, sebagian juga setuju kalau tempat ini bikin malas gerak. Embuerrrann, deh. Hehe. Kita bisa baca novel, wifi an, bikin #naskah atau nge gossip bareng-bareng ditempat ini.

Jadi, selamat menikmati, yaa. Menikmati tulisan ini. Menikmati waktu. Ayoo, kita lebih produktif, anak pintar 😀

 

Saat Dia Mengauuummm

Entah kenapa, satwa jenis Felidae ini selalu menarik perhatian saya. Harimau, singa bahkan kucing. Dari yang penampakannya sangar sampai yang lucu.

Bahkan, sempat terlintas dalam pikiran, saya ingin punya peliharaan semacam harimau atau singa. Tapi, realitanya, pilihan tetap jatuh pada kucing turunan persia, Simba namanya. Yaa, balik lagi, toh itulah yang paling masuk akal dipelihara. Bayangkan saja, jika saya akhirnya memelihara harimau atau singa. Bayangkan jika hewan itu ada di kamar saya? Lalu, apa yang harus saya lakukan untuk merawatnya? Bagaimana memandikannya, bagaimana saya harus menyanggupi kebutuhan makannya. Selintas, saya senang mengimajinasikannya, jika hewan hewan itu menjadi peliharaan saya, pastinya dia akan menjadi bodyguard dalam keseharian saya. Siapa yang berani macam-macam dengan wanita berkawal hewan buas? Hehe.

Selain memang, harimau atau singa, adalah hewan yang dilindungi. Kalau saya beli, waduhh, saya berani bayar berapa si?

Tapi, keseharian saya ternyata tidak se ekstrim itu. Saya menjadi biasa hanya berkawalkan, kucing manja (yang jauh lebih manja dari saya), si Simba itu.

Hari ini, saya euphoria! Untuk pertama kalinya sepanjang lebih dari seperempat abad saya hidup di dunia, dan sepanjang dasawarsa saya tinggal di ibukota, saya berkunjung ke Taman Margasatwa Ragunan. Itu juga bukan kepentingan liburan, tentu saja. Ga jauh-jauh, yaa, rencana liputan. Apa lagi?

Mulanya, yaa, Ragunan. Image Taman Margasatwa ini masih tak bergejolak dalam benak saya. Jauh pasti dibandingkan Taman Safari di Cisarua, Bogor itu. Karena ini kunjungan pertama saya, maka tak bisa lah saya membandingkan suasana dan kondisinya dengan Ragunan yang dulu. Katanya, si, Ragunan sekarang jauh lebih bagus. Okelah, saya terima saja opini itu.

Berkeliling, sesederhana apa pun, kehidupan satwa selalu menarik. Yaa, meski dari fasilitas, sana sini, masih banyak yang perlu diperbaiki.

Harimau putih. OKE! Kita harus melipir ke sini. Woohoo! Ayu, namanya. Dia mengaumm. Ada apaaa? Kebanyakan kunjungan ke kebun binatang, hewan-hewan buas ini biasanya tampak tenang. Tak jarang, hanya tertidur. Bener kan? Hehe.

Excited! Entah apa lagi kata, saat saya mendengar aum an si Ayu, yang menggelegar seantero kebon. Jika biasanya saya benci suara yang menggelegar semacam makian manusia, tidak dengan harimau putih ini.

Terima kasih, untuk mobil logo TV kali ini. Pawang harimau, pak Sofyan membukakan pintu untuk kami. Dan saya menjadi hanya sejarak 10 cm dengan harimau-harimau ini. Besar, percayalah hewan ini sangat besar dan sangar. Deg-deg an! Saya bertemu Srikandi, harimau tertua di Ragunan. Lahir tahun 1998, sudah 13 tahun usianya, dan dia sedang mengandung anaknya yang ke, – mmmh, lupa nanya – Well, Ragunan sendiri merawat 9 ekor harimau putih, meski saat itu saya tidak sempat bertemu dengan semuanya.

Kata Pak Sofyan, aum an itu karena dia lapar. Tapi, Pak Sofyan sengaja menunda memberinya makan. Yaa, harus antri. Gantian dengan yang lain. Sabar ya, Ayu. Hehe. Setiap harinya, harimau harimau ini diberi makan 6 kg daging. Daging apa saja, sesuai selera si satwa. Ada yang suka ayam, sapi, bahkan celeng. Ya, hampir sama kaya kita bukan? Selera mereka pun beda-beda.

Meski sudah lebih dari 20 tahun bercengkerama dengan harimau, pak Sofyan tak pernah sekalipun, bersentuhan langsung dengan harimau-harimau ini. Ini buas. Benar benar buas. Salah-salah. habislah.

Dan, kita tak akan terlalu lama di sini. Tak tahan dengan bau makanan harimau-harimau ini. Meski sama-sama penyuka daging dagingan, tapi saya tidak suka yang tidak matang. Kudu, digoreng, direbus, apalagi digulai. Suka. Saya tak suka makanan harimau-harimau ini, apalagi tak berbumbu sama sekali.

Hey, hey, dear Ayu, Srikandi, and team. Be good and be awesome yaa. Nice to see you. 😉

Kenapa iPad

” Ah, gw ga bakal beli iPad, fungsinya tanggung. “

” Emang buat apaan? Ga penting, kalau cuma buat gaya. “

” Gw tunggu iPad dua aja. Katanya bisa camera dan telepon. “

” Haha, gw rasa yang terlanjur beli iPad sekarang pada nyesel. Sekarang kan ada ****** *** lebih keren, bisa macem-macem”

Begitu komen beberapa teman yang kontra dengan sebuah teknologi komputer tablet bernama iPad yang sedang marak akhir akhir ini. Nama nya saja teknologi, ada yang secara fanatik menentang, di sisi lain malah ada yang sampai ‘keranjingan’. Sekadar info, iPad merupakan produk baru buatan Apple dengan layar sentuh 9,7 inci dan menggunakan sistem operasi iPhone OS.

Saya, sebagai bagian dari masyarakat yang biasa-biasa saja, memilih untuk berada di tengah-tengah. Keranjingan sudah pasti tidak. Tapi, untuk kontra atau bahkan antipati dengan komputer Tablet  keluaran Apple itu, jelas jelas tidak mungkin. Bagaimana, karena ‘Gagdet Keren’ itu sekarang telah menjadi anggota baru di tas ku. Mengikuti kebiasaan masyarakat Indonesia yang lain, ada barang kinclong dikit pengen punya. 😀

Sekitar 3 bulan sudah, aku menikmati hari hari dengan ‘kemudahan’ yang ditawarkan si iPad ini. Ya, anggap saja memang kemudahan, seperti:

1. Browsing lebih puas, karena layar yang lebih lebar dibandingkan dengan menggunakan smartphone atau blackberry yang kita kantongi sekarang. Bahkan lebih lebar dari netbook yang aku pakai sekarang 😀 Dengan layar nya yang luas, juga lebih enak untuk melihat lihat album foto. Tinggal geser, geser, untuk melihat foto selanjutnya.

2. Untuk pencinta games, jelas ini lebih menghibur. Games nya seru dan, kuakui, memang sempat bikin aku sedikit sibuk untuk mendapatkan score terbaik di beberapa games. Kalau orang-orang keranjingan Angry Birds, games sederhana semacam Fish Ball dan Unblocked Me cukup membuat ku geregetan.

3. Sebagai penikmat musik melalui iPod nano yang ga punya speaker, oke lah, iPad dapat memenuhinya. Aku ga perlu selalu menyumpel kuping dengan headset atau earphone.

4. Kalau dulu, blackberry dan iPod adalah teman anti mati gaya, iPad menjadi pelengkap untuk menghibur di saat mati gaya. Di saat menunggu antrian, atau menunggu orang yang telat datang pas janjian.

5. Dari pada bawa novel, majalah, atau buku setebal apaan, iPad jelas lebih memudahkan. Ukuran 9.7″ nya itu membuat kita lebih nyaman membaca. Buku dan majalah pun dapat langsung dibeli melalui aplikasi, kalau kita jeli, kita bisa dapat harga yang lebih murah daripada beli langsung hardcopy nya. Selain itu, e-books ini mengurangi kewajiban kita untuk membeli tambahan rak buku di kamar yang sudah kepenuhan. Satu lagi, bagi kita yang suka baca buku menjelang tidur, kita bisa membaca nya saat lampu kamar sudah mati. Ketika sudah kriyep-kriyep ketiduran, kita tidak perlu lagi susah payah untuk bangun mematikan lampu.

6. Bagi kita yang senang ber – Social Network melalui Facebook, Twitter, atau nge Blog, iPad dapat memuaskan kita. Walaupun sejujurnya, kenikmatan ber – Twitter melalui UberTwitter belum ada yang ngalahin 🙂

7. Terakhir, batere nya yang awet dan buat gaya, mungkin termasuk ‘kemudahan’ yang diberikan sebuah iPad.

Apa keribetannya?

1. Karena ukurannya yang ‘tidak kecil’ iPad tidak bisa sembarang kita masukkan ke kantong. Untuk sekedar pergi makan siang ke warung depan, iPad kayanya agak ribet kalau dibawa. Bandingkan dengan blackberry yang selalu kita bawa kemana-mana.

2. Aplikasi, segala bayar. Aplikasi keren dikit, bayar 😦 ini jelas bisa membuat ku, jika tidak bijaksana, perlahan bangkrut.

3. Ini yang paling berasa, karena OS nya bukan Windows, tidak mudah untuk melakukan pekerjaan dalam  word, power point, excel, dll. Jadi, iPad memang belum dapat menggantikan fungsi Laptop, PC, atau bahkan Netbook sekali pun dalam hal ini.

4. Oke, karena kebutuhan yang bertujuan untuk memudahkan komunikasi, pengeluaran rutin untuk berlangganan blackberry, sudah ku ikhlaskan. Dan memiliki iPad 3G, kita harus menambah satu list lagi tiap bulan nya, selain belanjaan semacam odol dan sabun.

Jadi, kenapa iPad? Nikmati saja, kemudahannya lengkap dengan kesulitannya 🙂

*penulis sama sekali bukan tim sales atau distributor dari iPad. Hanya pengguna.

Salah Kostum di Taman Kota

Jalur Pipa Gas Dua atau Taman Kota, Serpong.

Katanya ini jalur sepeda an yang baru. Karena termasuk cyclist baru yang masi excited, segala tempat yang mumpuni buat sepedaan dicoba. Atas promosi dari seorang teman, yang bilang kalo tempat nya asik banget buat sepedaan karena udaranya masi segar, teduh, dan ga terik kena polusi macem-macem, berangkat lah kita ke sana.

Sampai di sana, agak kaget juga, gak ada yang bawa folding bike. Dan seketika aku langsung merasa salah kostum. Wondering, di sini pasti jalur khusus buat montain bike. Padahal, sebelum berangkat, aku udah make sure dulu (cuma hasil tanya-tanya) apa jalur ini bisa buat sepeda lipet. Sebagian bilang ‘pake aja sepeda lipet, cuma yaaa, sayang sepedanya’.

Well, sepeda apa pun yang dipake gak mengurangi semangat ku untuk bersepeda, walaupun akhirnya pasrah kalo ga bisa sepedaan sepuas-puasnya di sini. Terbatas oleh track yang khusus dibuat untuk mountain bike.

Aku bersama dua partner yang keduanya pake mountain bike. Karena ga mau cuma manyun nunggu mereka, aku ngikut aja jalur mereka. Baru mulai aja, track nya udah ga compatible buat sepeda lipat. Jalannya turunan curam yang sebelahnya jurang. Atau tanjakan yang bikin napas ngos-ngosan sampe abis. Untungnya, di beberapa rute ada jalur yang bisa dipilih. Aku memilih jalur yang lebih bersahabat dengan sepeda ku. Tentunya di beberapa jalur, aku gak bisa lagi milih, karena mau ga mau harus liwat jalur itu.

Lagi-lagi aku beruntung bersama partner yang mau ngeloni sepedaku. Sesekali, partner-partnerku itu, terpaksa harus bolak balik, ngebawain sepeda ku. That’s just too sweet, actually 😉 hehe.

Sekali, aku mendapat komen ‘wuih, baru kali ini liat sepeda lipet nyampe sini, hebat, hebat.’ Dan aku yakin itu bukan pujian. Ya, terang aja nyampe, karena dikit-dikit sepedanya dijinjing. Dan aku semakin ngerasa salah kostum.

Over all, jalur sepeda di Jalur Pipa Gas dua ini kasi jempol empat, deh. Seru buat yang suka tantangan bersepeda. Tantangannya dapet, keringatnya ngucur, gosongnya juga jadi. Dan yang paling kudu banget, next visit, harus pake mountain bike ke sini. Ke sana lagi yuuk 🙂

What a (fun) bike!

Seperti kebanyakan ABG (ngaku-ngaku) lainnya yang selalu ngikutin trend, pas trend sepeda lagi booming, aku, salah satu yang dengan sengaja jadi ‘korban’nya.

2 tahun belakangan (atau lebih?) sempat rame istilah bike to work. Dimana orang-orang mulai membiasakan diri untuk ke kantor dengan menggunakan sepeda. Ide nya bagus, biar ga macet, ngurangin polusi dan yang paling penting bagus buat kesehatan pengendaranya.

Aku, bukan salah satu orang yang memilih untuk mengendarai sepeda ke kantor. Tapi menjadi salah satu orang yang sekarang gandrung bersepeda. Sudah 3 weekend belakangan kuhabiskan dengan bersepeda dan terbukti dengan perubahan kulitku yang berubah menjadi lebih gelap (kata orang-orang).

Kemaren, karena termasuk pesepeda yang baru dan masih semangat-semangatnya, aku dan 2 orang teman ku ikut an Funbike di Taman Bunga Mekar Sari Cibubur. Awalnya kita pikir, wah kayanya asik sepedaan keliling Taman Bunga. Pasti banyak yang bisa dilihat, bunga-bunga warna-warni dan buah-buahan segar yang ditanam diharapkan bisa menyejukkan pandangan mata saat akhir pekan.

Ternyata salah, rute funbike yang dipilih pantia bukan keliling taman wisata itu. Melainkan keliling kampung Cibubur. Awalnya santai sekedar berkomentar ‘rute apa ini? yaa, ngikut ajalah’  Sliweran terdengar kalo rute yang dilewati adalah sejauh 20 km. Agak kaget, ah ga mungkin, pesertanya aja dari yang lanjut usia sampe anak-anak. Rute yang dilewati pasti rute biasa yang bener-bener fun, ga bakalan terlalu cape.

Benar saja, aku hanya bisa bilang Watta a fun bike! Saat itu aku merasa mana ini garis finishnya, ga nyampe-nyampe. Kawasan Cibubur itu sama sekali ga akrab dari pandangan ku. Sekilo dua kilo tiga kilo, dan persepedaan itu ga menemukan ujungnya. Melewati jalan raya yang berdebu dan berlubang, bersaing dengan bis kota, truk, kontainer, dan mikrolet yang mengusai jalanan. Aku ketinggalan rombongan fun bike, juga meninggalkan dua orang temen ku. Sesekali aku melewati peserta lain yang beristirahat. ‘Hallo – hallo’ sebentar terus lanjut jalan lagi.

Melewati perumahan cluster, juga perdesaan. Dari jalan mulus beraspal, jalan aspal berlubang, jalan grudukan berbatu, jalan pasir berdebu, sampai jalan tanah becek an, semua ditelusuri dengan folding bike ku yang usianya belum sebulan itu (pamer sepeda baru 😉 )

Tidak banyak berkenalan dengan peserta yang lain. Mungkin terlalu cape, maklum pesepeda pemula, baru medan segitu doang udah kecapean. Tapi seruu. Thank’s to chika dan alfamart 🙂

Weekend ini sepedahan kemana??