Dengan Istri Tentara

Here I go again! Di tengah kegalauan, mau ngapain. Banyak yang harus dilakuin tapi kehalang sama ini itu. Harus nunggu ini itu.

Well, pingin ngomongin ini sebenarnya. Agak-agak terharu dengan postingan saya di kategori ‘kehidupan tentara’ yang mendapat respon luar biasa (untuk ukuran blog sepi) ini. Postingan di kategori itu yang kayanya terakhir update tahun 2009? Atau 2008, masih mendapat komentar dari googlers sampai sekarang. Iya, sekarang, di awal tahun 2015. Padahal saya udah update sih, bahwa saya ga bergelut lagi di dunia itu. Hehe. Tapi tetep aja, update-an nya ga dihiraukan karna yang penting bukan itu. Mungkin bagi mereka seru aja baca curhatan dari senasib sepenanggungan. Hehe.

Seneng juga sii, karna beberapa postingan bisa jadi ajang diskusi bagi sesama (calon atau) ibu PERSIT. Mudah-mudahan ada yang lanjut jadi kenalan dan mempererat tali silaturahim, ya. Amiin. Syukur syukur ada yang calon istri jenderal atau malah udah jadi istri jenderal beneran. Hehe, ngayal ketinggian (gapapa). Mang ada istri jenderal sempet mampir ke blog beginian? Wallahualam. Ngimpi aja dulu. Continue reading

Advertisements

Kepentingan

Hidup dengan kepentingan. Begitulah memang. Sehingga, banyak orang-orang yang menjalani hidup ini dengan kepentingannya masing-masing yang pastinya berbeda pula. Kepentingan diri kita sendiri, jelas penting. Kepentingan orang lain? Kadang ga penting bagi kita.

Tapi, kita hidup bersama orang lain, begitulah seharusnya. Kepentingan orang lain mungkin terpaksa menjadi kepentingan juga bagi kita. Dan sebaliknya. Hanya saja, sedikit kita harus memilah-milah. Bagaimana berbagi kepentingan itu.

Pagi ini, satu cerita tentang kepentingan seseorang. Panjang lebar dia curhat sama saya. Begini kira-kira, kisah pagi si empunya curhat.

“Mba, kita bareng ya berangkatnya pagi ini, aku sekalian mau ke _____ (menyebut nama salah satu mini market)”

“Oke” Kata si empunya curhatan pagi ini yang sehari-hari berangkat ke tempat kerjanya.

Beberapa saat. Si tante yang ngajak bareng, nanyain kenapa dia belum siap juga. Dan berkomentar.

“Lama banget sih!” Dengan sedikit kesal.

Kalau kita lihat, mungkin memang bikin kesal jika si empunya curhat ini, yang minta bareng, kemudian telat, atau dengan alasan entah itu apa, malah lelet. Tapi, kemudian dengan panjang lebar si empunya curhat bercerita pada saya. Bahwa pada kenyataannya dia gak minta bareng si tante, toh? Dia merasa punya kepentingan sendiri, kenapa dia terlambat. Sebisa mungkin dia tidak merepotkan orang lain, di tengah hamil tua nya itu. Dia butuh waktu, karna dia tak bisa terlalu cekatan dengan kondisinya saat ini. Toh, sehari-hari pun dia merasa tidak perlu bareng si tante hanya untuk berangkat ke tempat kerjanya.

Merasa sedikit tau diri, si empunya curhat bilang.

“Mba, supirnya ga usah jemput di rumah yaa” Berhubung rumah si empunya curhat harus masuk gang yang sempit.

Si tante dengan emosi panjang lebar menanggapi.

“Siapa juga yang pengen jemput kamu sampai depan, sopan banget kamu.” Setengah menyindir, dia suruh supirnya untuk menjemput si empunya curhat sampai depan rumah, sekalian bukain gerbangnya.

Dia kontan kaget. Saya yang biasa hidup di kota Jakarta dengan kehidupan semena-mena seperti itu rasanya pengen bilang dengan sederhana. “Ya, udah ga usah bareng”

Tapi, kenyataannya si empunya curhat hidup di tengah-tengah birokrasi militan. Sebaiknya saya tidak sebut birokrasi macam apa itu. Bahwa, secara mau gak mau, si tante adalah atasan yang tidak bisa dikatakan boleh dikatakan tidak. Ya, karena di sebagian kelompok memang masih ada yang begitu meski gak masuk akal bagi orang macam saya.

Mungkin punya mungkin, yang ada di pikiran si tante adalah “Ini anak, udah ditebengin malah telat. Ga tau diri amat sih”

Tapi, siapa yang minta ditebengin? Itulah pembelaan yang punya curhat.

Jadi, mengapa kita harus bersikap seperti si tante? Ada yang tau alasannya kenapa?

Dalam kehidupan sehari-hari, saya pun bukan tidak pernah mengalami kehidupan seperti itu. Ya, mungkin saya dan si empunya curhat punya pikiran yang setipe. Kebaikan orang lain, kadang terasa sebagai beban bukannya justru malah meringankan.

Mungkin itu satu alasan. Kenapa? Saya lebih senang menghabiskan waktu senggang, sendirian di depan layar. Ditemani kopi dan media sosial seadanya. Seperti saat ini.

Berbagi kepentingan menjadi hal yang susah-susah gampang. Bagaimana dengan berbagi hidup, keseharian, atau masalah? Oh, bahkan saya tidak berani membayangkan.

Bismillah saja untuk menghargai kepentingan orang lain. Dan menjalani kepentingan diri.

Bukan Lagi

Postingan tentara, ternyata menarik bagi sebagian kalangan. Tentu kalangan yang dalam kehidupannya berkaitan erat dengan ketentaraan, entah kalangan apa itu namanya.

Beberapa postingan ku di Incredible Dinna ini, menulis tentang kehidupan tentara. Lebih tepatnya kisah ku dengan seorang tentara. hehe. Walaupun postingan yang kutulis ga banyak, tanggapan yang masuk relatif lebih banyak dibanding postingan ku yang lain.

Terus terang saja, selain memang belakangan blog ini jarang ter update, comment yang masuk pun jadi jarang ditanggapi. Walaupun hampir pasti setiap comment yang masuk, kubaca dan kupahami dengan baik. Hanya saja, belum kutanggapi secara online.

Padahal sebenarnya, aku seneng banget kalo ada yang mampir dan meninggalkan comment di setiap postingan ku. Thanks for sharing, all.

Comment yang masuk dalam postingan ku di kategori ‘army’s spouse’ lebih berupa sharing, dan sebagian supporting. What am i supposed to say. Saat ini aku bukan lagi bagian dari mereka. Pacar Tentara. Lebih dari setahun, aku tidak lagi bersamanya. Komunikasi tentu masi ada, tapi tak lebih dari sekedar teman biasa. Rasa cinta pun sudah melebur untuk menghargai sebuah silaturahmi.

Dia pun, menurut informasi terbaru yang aku tau, sedang menjalin hubungan yang serius dengan seseorang. So, am not in the gank for more, all.

Sekarang, aku bisa jadi sedang jatuh cinta. Bisa jadi juga sedang patahati. Bisa jadi sedang tidak peduli. Tapi tidak dengan tentara. Am just very welcome to be your friend, for everyone.

Date at Brussel Spring

13122008005Bandung, Dec 13

Finally, long time i’ve waited for, i feel just like another normal couple in town! 

Gak ada gangguan harus siaga terhadap tugas, malam itu dia meluangkan waktu nya (walopun bentar, 7.30 pm – 10.00 pm) untukku. Malam mingguan bersama pacar, kaya nya kisah lama, ya. Tapi ini menjadi sangat spesial kalo punya pacar seorang aparat negara. Sejak dia masuk satuan, ini untuk pertama kali nya, malam minggu aku lewati bersama nya. Malam minggu yang lainnya, kulewati baca novel di rumah, blogging, writing, or for better, i do hang out wit siblings. Not cheating for sure. Ini akan lebih menyedihkan kalau mengetahui orang-orang di luar sana tentu menghabiskan malam minggunya bersama pacar. *ngiri dengan nasib orang lain itu gak baik

Kita memilih Brussel Spring (sebuah cafe dengan menu khas Brussel, just like the name seperti waffles, pancakes, any kind pasta, etc) untuk makan malam yang merupakan rekomendasi seorang teman. Walau pun perut udah kenyang karena seharian aku udah makan banyak sekali potongan bagelen, tapi malam itu tentu saja sangat beda. Waffle witt strawberry icecream scoop dan sampler fries yang ku pesen terasa lebih lezat. Jadi mungkin sebaiknya aku gak kasi info tentang bagaimana taste makanan di situ karena komentar ku pasti akan menjadi sangat subjektif. *jatuh cinta berjuta rasanya :mrgreen:

Hal normal lainnya adalah malam itu, aku dijemput, dianter (maklum biasanya kita lebih sering ketemuan untuk efisien waktu), dan yang paling penting dibayarin 😉

Then, lets the photograph tell,, 🙂 we’re look so in to each other, rite?*envious forbid, THAT’s the thing you did to me when YOU hang out with your boy/girlfriend every saturday night!

Cerita dari Istri Tentara

181558180l

Obrolan ku dimulai ketika aku terjebak di rumah seorang tentara. Wuih, kesannya kaya lagi di medan perang aja ya? hehe. Saat itu aku sedang berkunjung sebuah asrama markas tempur angkatan darat. Misi ku kali itu, berkunjung. Ya, berkunjung saja! Pengen tau gimana suasana tempat para militarian itu berkumpul.

Namun, ketika berkunjung, seorang yang seharusnya menemani ku, tiba-tiba dipanggil. Judulnya, kumpul data katanya. Entah apa yang diobrolkan dalam perkumpulan itu, tetapi, inilah hal pertama yang aku simpulkan. Kegiatan militer itu ternyata tidak selalu dengan schedule yang rapih. Bahkan cenderung dadakan semuanya. Jadi harus monitor dan siaga terus kemana-mana. Mungkin itu terkait juga dengan senior atau junior nya tentara tersebut dalam sebuah satuan. Kalau masih junior, yah pasti selalu jadi sasaran tugas-tugas dan perintah ini itu. Tapi, katanya si ini gak berlangsung lama (stahun gak lama, kan?) Setelah memiliki junior lagi, tugas-tugas akan menjadi lebih ringan. *nasib jadi junior*

Well, kurang lebih 4 jam aku menghabiskan waktu ngobrol dengan ibu itu. Lebih tepatnya mendengarkan banyak cerita tentang pengalamannya menjadi istri tentara, layaknya memberikan tips pada calon pengantin yang akan menikah dengan seorang tentara (padahal, berulang kali aku menekankan bahwa rencana itu tidak dalam waktu dekat ini).

Buat para wanita, jangan mengharapkan materi dari tentara. Mereka gak punya itu. Harus terima apa adanya, gaji tentara yang ‘katanya’ pas-pas an itu. Tinggal di rumah sederhana juga. Kalo mau  istri yang berfoya-foya sebaiknya jangan jadi istri tentara, mending jadi istri pengusaha sukses aja. Kata ibu itu, pinter-pinterlah mengatur uang belanja, karena yang ada, ya, cuma segitu. Seberapa dikitnya, aku sendiri juga kurang tau, selain itu juga ga enak ngomongin gaji pacar sendiri 😉 (anyhow itu tergantung dari cara kita mensyukurinya, sedikit, tapi bersyukur, mungkin gak akan jadi masalah). Selain itu, adalah wajib hukumnya, untuk turut peduli dengan kesejahteraan anggota. Maka, tak jarang, kocek pribadi pun turut ambil andil.

Sedikit ngomongin tentang enak nya, katanya jarang tentara yang kawin lagi (kawin lagi jarang, tapi selingkuh? Mmmhh meragukan 😉 ), kecuali masalah nya udah parah banget. Jadi, sedikit tenang kalo jadi istri tentara, sedikit sekali yang kawin cerai walaupun ada. Untuk kasus-kasus asusila yang dilakukan tentara, akan sangat mempengaruhi karir si tentara tersebut. So, biasanya tentara (yang waras) lebih memilih untuk tidak bermain api daripada karir militer nya hancur. Tentunya siapa yang mau menghancur kan karir  dengan segala perjuangan yang udah susah payah di dapat (untuk menjadi tentara, banyak banget seleksi nya, hanya yang pantas, yang menang).

Menjadi istri tentara, jangan berharap terlalu banyak untuk dipuji, atau digombal2in (walaupun udah jadi naluri setiap lelaki, untuk jadi penggombal). Karena seringkali mereka buruk untuk itu, sekalinya ngegombal, rasanya kok garing dan ketauan ‘basi’ nya. Hehe, lingkungan pergaulan membuat mereka terlalu asik dengan dunia mereka sendiri *autis*, jadi kadang gak ngerti how to treat his princess well.

Si ibu menekankan bahwa yang penting bisa volley, tennis, dan nyanyi! Aku mengkerutkan dahiku. Ya, ternyata di sebuah batalyon (semacam markas TNI) ada tips khusus agar selamat menjadi istri tentara. Bisa melakukan ketiga aktivitas itu. Hualah, aku sendiri agak bingung apa hubungannya menjadi istri tentara dengan volley, tennis, dan nyanyi. Ternyata bukan straight to the activity, tapi lebih kepada relationship nya. Sangat penting, bisa membawa diri dan menjalin hubungan yang baik dengan sesama istri-istri tentara (Ibu-ibu PERSIT) baik atasan maupun bawahan. Mungkin saat itu, ibu komandan suka dengan 3 aktivitas itu. Anyway, kalau suatu saat aku jadi ibu komandan (aminnn) anggotanya harus bisa berenang dan berkuda. Walahhhh, heboh benerr! 😀 Dan ternyata, bukan hanya para suami (tentara) yang banyak kegiatannya. Ibu-ibu nya pun gak kalah banyak. Kalo suami-suami bisa rapat atau latian sampai tengah malam, ibu-ibu nya gak mau kalah, bisa arisan (ngobrol2, sorry to say ‘gossip’!) sampe tengah malam juga. Itu semua tergantung dari istri komandan nya. Jadi, nasibbb, kalo dapet komandan (dan ibu komandan) yang insomnia (penyakit susah tidur), bisa-bisa kebagian gak boleh tidur juga. Bah!

Hati-hati bercanda dengan ibu komandan, jangan pernah merasa sok akrab. Salah-salah bisa kena tegoran. Wah, serem juga yah, seperti ada barrier dalam bergaul. Padahal sering kali bercanda itu sangat ampuh untuk mencairkan suasana dan menciptakan kehangatan. Dari obrolanku, menjadi istri tentara memang banyak sekali aturannya. Kadang kita harus melakukan yang gak kita suka. Tapi, mungkin, ada baiknya jangan terlalu parno duluan menjadi istri tentara. Sebenarnya menjadi istri siapa pun, atau peran apa pun yang kita miliki di dunia ini, terdapat keadaan memaksa yang sebenarnya gak kita inginkan, tapi harus. Mungkin lebih baik, kita gak boleh berhenti belajar untuk ikhlas.

Yang harus menjadi perhatian juga, karena biasanya keluarga tentara tinggal di asrama militer, jadi, hubungan dengan tetangga akan sangat dekat. Mungkin agak berbeda dengan sebagian lingkungan tempat tinggal di Jakarta atau kota besar lainnya yang tidak memiliki kehidupan bertetangga (sebagian pasti mengalami hal itu, kan?). Karena hubungan ketetanggaan yang cukup erat, maka berhati-hatilah dengan bisik-bisik tetangga (lah kaya lagu dangdut ya 😉 )

Untuk melengkapi, menjadi istri tentara kita harus siap untuk berbagai risiko menyangkut profesi suami. Termasuk menjadi yang kesekian karena harus berbagi cinta dengan negara. Oh, tidakkkkk!!

Semoga sukses, sayang!

letda-czi-septian-hermawan-saputraSurat Perintah untuknya sudah turun. Sekarang resmi menjadi Danton III, Kompi B Batalyon Zeni Tempur 3/Yudha Wyogrha, Kodam III Siliwangi.

Di sini lah awal karir nya dimulai. Mudah-mudahan menjadi awal yang baik untuk nya. Sukses ya sayang.. Jangan lupa untuk terus memegang teguh integritas tinggi, ok.

Aku doain kamu terus di sini. Yang terbaik buat kamu. Raih cita-cita sebaik yang kamu mampu.

Bismillahirrohmannirrohiiimm,,,

Dulu, aku jatuh cinta dengan seorang taruna

Septian Hermawan Saputra

Si Ganteng 😉

Apa artinya taruna? Karang Taruna? Sejenis hewan laut? atau makanan?

Pernah, aku menemui seorang teman, aku dan teman-temanku menyebutnya dengan “pecinta taruna”. Dan bukan cuma seorang teman, tapi banyak sekali wanita di seluruh pelosok ini, (akui saja), juga mencintai taruna.

Bahkan ada di antara kalian, mungkin, punya prinsip “pacarku harus seorang taruna”.

Liat-liat di friendster, aku juga menemukan komunitas pecinta taruna. Dan sejenisnya.

Taruna, merupakan lulusan SMA yang melalui seleksi ketat (entah pake duit atau tidak), diterima di AKADEMI POLISI, AKADEMI MILITER, AKADEMI ANGKATAN LAUT, dan AKADEMI ANGKATAN UDARA dan dibentuk agar memiliki mental militer, dididik dengan cara-cara khusus, agar nantinya bisa mengabdi untuk negara jadi polisi atau tentara. (gitu kurang lebih dengan definisi yang aku bikin sendiri)

Apa yang menarik dari seorang taruna? Seragamnya kah? Saat itu aku berpikir, kenapa mau jalan-jalan aja harus pake seragam. Apa gak punya baju lain, atau gak punya sense of fashion yang ok? Terus apa?

Their tanned skin? boleh lah. Tapi, itu bukan satu-satunya ukuran kan, untuk kita jadi jatuh cinta dengan seorang taruna.

Aku pernah ngobrol dengan seorang teman “Punya kebanggaan tersendiri menjadi seorang taruna”

Lalu apa kebanggaan itu?

Yang jelas, (harus ku akui), dulu, aku pernah sangat jatuh cinta dengan seorang taruna. Karena dia pintar, baik (smua cowo pasti baik kalo ada maunya), wise, ganteng, dan membuatku (mau ga mau) selalu kepikiran dia.

Tapi, sayang, dia seorang taruna.

Begitulah, bulan-bulan awal aku punya pacar taruna, aku merasakan amat sangat banyak kendala yang aku hadapi. Terutama dengan kesibukannya. Ketika dia masih menjalani pendidikan di Akademi Militer, Magelang.

Aku semakin tak habis pikir “lalu apa yang mereka suka dari seorang taruna?”

*Sekarang, aku masih jatuh cinta dengan taruna itu, yang sekarang sedang mengabdi untuk negara sebagai seorang perwira. Semangat ya, sayang.

Curhatt, buuuuu.

Dia tidak lagi mengucapkan “mimpi indah, ya, sayang” sekarang. Dia tidak mengatakan kangen lagi kecuali ditanya. Gak pernah cerita apa-apa. Gak pernah mendengar ceritaku lagi. Ketika aku bilang “aku pengen cerita, ini deh, gak sabar pengen sharing ke kamu” dia cuma bilang “nanti ya, aku lagi sibuk” sesekali dengan nada ketus. Kadang aku menunggu, mungkin nanti malam dia akan menelponku, berharap dia ingat janjinya untuk mendengar ceritaku. Tapi, tentu saja dengan alasan sibuk, cape dan ngantuk, dia tidak menghubungiku.

Huh, aku hanya bisa menelan ludah, karena jujur saja, aku malas memperdebatkan janjinya. Saking seringnya. Baginya itu tentu saja tidak penting. Dia hanya akan menganggapku tidak bisa memahami dirinya, kondisinya, kerjaannya, kalau aku menuntut hal-hal yang dia anggap sepele itu.

Aku berpikir positif mungkin ini risiko menjadi pacar tentara. Yang dia bilang, bahkan aku gak mungkin untuk menjadi nomor dua setelah ketentaraannya itu. Aku mungkin bisa jadi nomor ke seratus sekian.

Apa ada ya wanita yang seperti itu? Selalu jadi nomor sekian dalam kehidupan pasangannya. Bagi ku, wanita itu pasti wanita hebat dan luar biasa. Two thumbs up for all army’s spouse in this entire world.

Jatuh Cinta Berjuta Rasanyaaaaaaa. Hhhaaahahhh!

Kangen

Kangen

Jatuh cinta berjuta rasa nya. Haha. Tenang saja. Aku bukan sedang punya pacar baru. Tapi yah, rasa yang berjuta itu, alhamdulillah, masih aku rasakan sampai sekarang. Sudah lebih dari setahun aku kenal dia, tepat tanggal 29 September 2007, aku memutuskan untuk menerima dia jadi pacarku. Siapa yang sangka, dia seorang taruna angkatan darat saat itu (sebutan untuk calon perwira angkatan darat). Tak pernah terlintas dalam pikiranku bahwa aku akan mengenal bahkan dekat dengan seorang aparat di Republik Indonesia ini. Setelah mengalami patah hati (yang juga berjuta rasa nya) dengan pacarku yang sebelumnya, akhirnya aku memutuskan untuk jatuh cinta lagi. Dan punya pacar lagi. Jujur saja awalnya tidak tertarik untuk mengenal orang dari kalangan seperti itu. Maklum, aku juga bukan orang yang lahir dari kalangan militer seperti itu. Bagiku, (maaf) mereka cuma pasukan-pasukan yang suka tembak-tembakan di hutan dengan helm kacang ijo, daun-daun di ransel, dan muka dicoreng-coreng pake arang. Padahal Indonesia kan udah merdeka dan udah gak ada perang lagi. Itu yang ada dipikiranku saat itu. Tapi kehidupan memang rupa-rupa saja jalannya. Akhirnya aku punya pacar seorang tentara dan lebih parahnya, i’m so in love with armyman. With him.

Sekedar ingin berbagi (curhat lebih tepatnya), punya pacar tentara, kita hanya nomor dua setelah aturan-aturan dari ketentaraannya itu. Lebih baik jangan bermimpi jadi ‘the princess’ kalau punya pacar tentara (jadi, kalo suatu saat pacar treat us like a princess, haha, it’s damn romantic!). Jangan pernah bermimpi untuk dijemput pulang kuliah, karena mereka gak punya waktu untuk itu. Bermimpi untuk date setiap malam minggu, mereka bisa jadi bertugas di malam itu. Bagaimana dengan kejutan jam 12 malam di hari ulang tahun kita? Boro-boro untuk face his face malam itu, bisa jadi mereka sedang latihan di hutan antah barantah, yang untuk menelepon kita pun mereka gak bisa. Pernah ngamuk-ngamuk karena pacar gak ada kabar dalam waktu yang menurut kita udah gak bisa ditolerir lagi? Rasanya udah gak perlu sekarang, karena keadaan ga akan berubah. Mereka tetap akan dengan keadaan seperti itu. Kita akan selalu jadi nomor dua setelah kewajiban-kewajiban militer itu. Bagaimana rasanya melihat teman-teman kita mengajak pacar-pacar mereka di malam reunian sementara kita tidak mengajak siapa-siapa, bukan berarti kita sedang jomblo tapi hanya karena, ya, “pacarku tentara dan sedang bertugas”. Parah lagi, pernah ngalamin masalah dengan putri Komandan? Itu menyakitkan dan lebih baik ga usah dibahas.

Perbedaan prinsip juga sering kali dialami. Aku sering ngerasain kenapa si mereka suka ngeribetin ini-itu dengan aturan-aturan yang cuma bikin repot aja. Ternyata, mereka bukan cuma latihan perang di hutan aja, tapi mereka kayanya juga diajarin perang sama pacar masing-masing. Makin sering sms an, telponan, ketemuan, makin sering perang..

Masih banyak lagi duka nya. Mungkin aku harus bikin part 2, part 3, part 4, dst untuk blogging soal dukanya menjadi pacar tentara. Tapi, apa pun harus disyukuri. Have a little faith. Mereka juga gak menginginkan ini semua. I always in faith that he dying to do the best for me, for the princess that he loves most. Punya pacar tentara bikin aku belajar banyak hal. Banyak sekali. Dari mulai istilah-istilah tentara sampai bagaimana menjadi cewek tough. Kita tidak pernah tau jalan yang ditentukan Allah swt buat kita. Perasaan jatuh cinta pun tidak bisa memilih. Dibalik itu semua, tentara juga manusia biasa. Mereka bisa nangis. Mereka bisa romantis juga. So, dont need to worry.