Hello Agung

Tentu saja ini bukan cerita cinta karna ada lelaki baru dalam hidup saya bernama Agung. Ini cerita suddenly Bali kemaren yang diisi dengan mendaki Gunung Agung.

Saat nafas saya mulai habis sementara mencapai puncak gunung masih jauh, yang ada dalam pikiran saya saat itu, ah, saya kangen blog ini. Saya kangen dataran. Sekali lagi, dataran dengan kemiringan nol derajat. Bukan kemiringan 50 – 70 derajat yang seolah tak berujung itu. Saya kangen menghirup aroma kopi di coffee shop langganan sambil cetak cetik ntah apa. Dan saya harus cerita soal ini. Soal pengalaman mendaki Gunung Agung, yang merupakan gunung tertinggi di Bali, 3.142 mdpl. Memang Gunung Agung tidak termasuk 10 gunung yang paling tinggi di Indonesia. Tapi, gunung ini gak boleh disepelekan. Apalagi bagi pendaki pemula seperti saya. Hehe. Continue reading

Advertisements

Rumitnya Kesederhanaan

Wamena, perjalanan yang bikin kangen. Malam itu, malam terakhir di Wamena. Selesai sudah target liputan kami.

Tujuh hari yang sangat berkesan bagi saya. Melihat kehidupan masyarakat sana, jauh dari apa yang orang-orang kira. Alhamdulillah, liputan berjalan lancar. Gak ada masalah berarti (mudah-mudahan, si)  yang kami timbulkan selama bikin dua episode Pahlawan Indonesia – MNCTV, tugas liputan kami.

Malam terakhir di Wamena, kami habiskan waktu untuk silaturahim, makan bakso, dan ngobrol ngalur ngidul. Bang Ipul (produser) memilih untuk menghabiskan malam itu dengan taraweh di salah satu masjid yang gak jauh dari hotel tempat kami menginap.

Barulah saya tau, banyak cerita tentang Wamena. Sebelum berangkat, saya sempet googling tentang Wamena. Memang ada berita soal kerusuhan Wamena. Tapi denger cerita langsung, jauh lebih, lebih, yaa, lebih gimana yaa.

Hari pertama sampai di sana, sempat merasa asing dengan suasananya, tapi ternyata tidak mencekam seperti yang dibayangkan. Ketika turun dari pesawat kecil penerbangan Jayapura – Wamena, ramai kurir lokal mendekat hendak membantu. Sliweran tentang Wamena membuat saya agak siaga sore itu. Tapi, dalam beberapa jam saja saya mulai bisa menikmati sejuknya alam Wamena.

7 hari di Wamena saya bertemu banyak orang yang ramah dan toh, baik-baik saja.

Obrolan malam itu cukup membuat saya bergidik. Karena, walaupun mereka bilang selamat menikmati Wamena tapi harus tetap waspada. Ya, orang sini memang tak segan-segan berbuat kejam. Main tusuk itu sudah biasa di Wamena. Mmmh, untung cerita itu baru saya dengar di hari terakhir kami di sana yaa.

Rasa kesukuan mereka masih sangat besar ternyata. Yang pedalaman, tak begitu ramah dengan pendatang. Kecuali, memang ada distrik tertentu yang memang sudah biasa kedatangan turis.

Bahkan dulu, mereka tak segan dengan aparat. Mereka jauh lebih tunduk dengan aturan adat. Jadi, percuma saja sebenarnya kalau berbeking aparat di sana. Lebih baik lakukan pendekatan personal, pesan salah satu aparat pada saya malam itu. Mereka jauh lebih menghargai. Intinya, ya pintar-pintar.

Tapi, yang bikin kangen Wamena itu sebenarnya adalah kesederhanaan masyarakatnya. Di Jakarta, hampir sulit ditemukan kehidupan seperti itu. Mereka biasa, berjalan tanpa sandal, kaki berlumur lumpur kering, dan baju yang sudah bernoda sana sini.

Saya pun, tak perlu merasa dekil ketika harus berlumur lumpur di sana. Toh, warga sana semua begittu. Dekil-dekilan di Jakarta? Mmmh, mungkin bisa dilirik dari atas sampa bawah. Bagaimana mereka pun punya harta yang sederhana. Tak ada itu koleksi sepatu keren, atau baju-baju bermerek. Seadanya saja. Seriusli, kalau kita liat di bandara Soekarno-Hatta orang-orang dengan gaya mentereng mau naik pesawat, jauh dengan yang kita liat di bandara Wamena. Mereka naik pesawat kaya mau naik angkot aja. Malah ada yang bawa-bawa sayuran. Hehe.

Sebagian, bekerja, menerima uang bertahan untuk dapat makan. Begitu saja. Ya, walaupun, jika dilihat lagi masih banyak dari mereka yang lebih senang minta atau merampas untuk mendapatkan sesuatu.

Pikiran mereka sederhana saja. Tidak ada pikiran-pikiran kompleks seperti yang banyak terjadi di kota-kota besar lainnya. Tak harus ada bagi mereka pertimbangan ini itu ini itu. Gak ada yang rumit. Jalani saja.

Beberapa pendatang pun, mengatakan betah tinggal di Wamena. Disuruh balik ke Jawa mereka enggan. Begitu pula saya hari ini. Meski sudah punya sederet rencana yang harus dilakukan di Jakarta, rasanya, berat sekali untuk meninggalkan Wamena. Like I wanna stay a little longer.

Kembali ke rutinitas dengan segala proses rumitnya. Menghadapi kemacetan jalanan ibu kota. Menghadapi segala macam bentuk sikap orang sekitar yang penuh dengan teori ini itu. Oh. Bagaimana kesederhanaan pun akan menjadi rumit di ibukota.

Di Jakarta, saya hampir gak pernah melewatkan hari saya dengan pergaulan liwat twitter. Tidak di Wamena, rasanya social media hanya menambah rumit saja. Hidup dalam dunia nyata yang penuh kesederhanaan, jauh lebih menyenangkan. Tidak ada sesuatu yang perlu dipaksakan. Terpaksa harus ini, terpaksa harus begitu. Tidak perlu begitu di Wamena.

Well, Terima kasih Wamena. Untuk hari-hari yang sederhana.

Lion Air, dari Jayapura ke Jakarta. 

Wah! Wah! Yali Mabel

Image

Kurulu. Desa itu yang menjadi tujuan perjalanan saya hari ini. Gak jauh dari Kota Wamena, sekitar 45 menit perjalanan dengan mobil saja. Ya, tentu dengan kecepatan yang santai-santai saja. Karena memang, selain ada target liputan, sebenarnya saya dan teman-teman seperjalanan begitu menikmati perjalanan di desa ini. Bagaimana tidak? Ini kunjungan pertama kami ke sini.

Yali Mabel, Kepala Suku Dani inilah yang akan saya temui di sini. Menuju ke Osilimo Mabel (sebutan untuk kampung), kami harus berjalan kaki, yaa, sekitar 20 menit. Tidak jauh, tapi jalanan setapaknya yang sedikit berbatu dan lapisan tanah liatnya yang lengket, membuat saya harus sedikit berhati-hati melangkah. Bisa sampai tujuan dengan kaki bersih, jangan harap. Karena warga sana pun, bahkan berjalan tanpa alas kaki.

Sampai di tempat tinggal Pak Yali, kami disambut hangat oleh Pak Yali dan keluarganya. Karena Pak Yali Mabel memang sudah menerima kunjungan dari para turis. Kedatangan kami pun tidak lagi asing bagi mereka. Beberapa media pun sudah ada yang meliput tempat ini.

Awalnya, yang saya tau, rumah adat orang Papua adalah Honai. Tapi ternyata, Honai pun macam-macam. Pilamo, adalah rumah khusus laki-laki. Uma, rumah khusus perempuan, Hunila merupakan dapurnya, dan Wamdabu adalah kandang babi. Jika dalam satu kawasan itu ada ke empat jenis ‘rumah’ tersebut, maka lengkaplah itu disebut osilimo bagi suku Dani. Perempuan tidak boleh masuk ke dalam Pilamo. Jika ada ‘kepentingan’ laki-laki lah yang berkunjung ke Uma. Honai ini sebenarnya bukan tanpa alasan dibuat dengan bentuk seperti ini. Karena sebenarnya, honai yang terbuat dari kulit-kulit kayu ini memberikan kehangatan di dalamnya. Ini pas jika dibangun di wilayah Wamena yang umumnya bersuhu sejuk. Kelihatannya mungkin tidak telalu besar, tapi percaya atau tidak Pilamo itu bisa memmuat sekitar 50 – 70 laki-laki. Mmmh, sulit dipercaya, ya?

Oh, budaya Suku Dani adalah budaya ter-unik yang pernah saya liat sepanjang perjalanan saya. Berbagai aktivitas dilakukan di sana. Ketika datang, biasanya turis disambut dengan tari-tarian dan acara bakar batu. Bakar batu, adalah cara mereka memasak jika ada perayaan tertentu. Biasanya yang dibakar adalah babi. Tapi, kadang mereka juga membakar ubi dengan cara bakar batu ini.

Suku Dani, bertahan hidup dengan kebiasaan yang mereka punya. Mereka jauh dari pengaruh teknologi luar. Ya, karena Pak Yali Mabel, adalah seorang pelestari budaya Wamena. Meski sudah kemana-mana bahkan sampai luar negeri, Pak Yali tetap cinta budayanya. Kemana-mana ia selalu menggunakan pakaian khas Papua, Koteka. Bahkan ia bilang kepada kami, sampai kapan pun ia akan seperti ini, karena budaya ini berasal dari nenek moyangnya. Harus dipertahankan.

Keluarga Mabel punya berbagai kerajinan tangan yang unik. Sederhana, tapi ini adalah budaya yang membanggakan. Mereka punya harmonika khas mereka sendiri, pikon. Pikon dibuat dari bambu, dibentuk memanjang, kemudian ketika digesek-gesekkan ke bibir, mengeluarkan bunyinya yang khas. Biasanya laki-laki bagian membuat pikon. 

Beda lagi yang dikerjakan perempuan. Mereka membuat Su. Semacam tas anyaman dari kulit kayu. Saya sempat belajar membuatnya, yaa, lumayan njlimet. Mungkin karena saya bukan tipe perempuan yang betah dengan pekerjaan yang membutuhkan kesabaran tinggi seperti itu. Jadi mending, pengerjaan Su dilanjutkan oleh Helena, perempuan yang mengajarkan saya waktu itu. Ngobrol-ngobrol dengan Helena, ia sudah menikah dan masih menggunakan Sali. Padahal sali itu adalah pakaian khusus perempuan yang belum menikah. Rupanya, perempuan yang sudah menikah pun tetap menggunakan sali kalau perayaan pernikahannya tidak pakai potong babi. Ooh! Beruntung Helena ramah sekali bercerita dengan saya. Bahasa Indonesia nya cukup dimengerti. Su yang saya bikin pun tidak rapi, ia bilang, tidak apa-apa namanya saja belajar. 😉

Salut, setelah kenal dengan Yali Mabel. Meski mempertahankan ke asli an sukunya, ternyata ia punya selera humor dan ramah sekali. Sejak meresmikan kampungnya menjadi pusat wisata tahun 1986 lalu, Yali Mabel selalu menjaga keaslian budaya sana. Anak-anak yang sudah memakai baju, tidak boleh masuk. Koteka adalah syarat masuk osilimo.

Benar kata orang. Kalau ke sana, mending persiapan yang matang dulu lah. Misalnya, punya guide yang sudah paham betul budaya orang sana. Karena mereka paham betul uang. Asal jepret saja, mereka bisa minta uang. Sebelum masuk kampung Mabel, seorang ibu dengan akrab menyapa saya. Oh, ternyata, dia minta duit. Untungnya, saya atas nama undangan tamu Pak Yali. Jadi, tinggal geleng kepala saja, meski si ibu sedikit kesal, saya tak perlu mengeluarkan rupiah. Sekilas mereka ramah, tapi memang kita harus hati-hati. Jangan menyamakan budaya kita dengan mereka. Karena kita di kampung orang, kita lah yang harus menyesesuaikan. Hari sebelum liputan, saya sudah ke sana untuk survei lokasi terlebih dahulu. Karena jalanan sedikit becek dan berbatu, ditampah saya tidak pakai sepatu yang nyaman buat dipakai becek-becekan, seorang perempuan membantu saya, sepanjang perjalanan. Baik sekali. Saya cukup terbantu melangkah menuju osilimo Pak Yali. Ups, ternyata sampai sana saya dimintai uang. Ya, kita gak boleh polos-polos amat lah. Hehe.

Well, seharian bersama Pak Mabel, membuat saya belajar banyak sekali. Belajar budaya suku Dani yang sama sekali berbeda itu sudah pasti. Tapi, dibalik itu, saya pun belajar kehidupan mereka yang sangat alami. Bagaimana memahami apa yang ada di pikiran mereka. Salut dengan Pak Mabel, punya keinginan untuk tetap mempertahankan budayanya. Sambil menunjukkan fotonya, Pak Yali pun dengan bangga menceritakan bahwa kini dua putranya sedang mengenyam pendidikan di Akademi Kepolisian di Semarang. Wuih, hebat! Mudah-mudahan nantinya bisa mengabdi pada negara ya.

Pak Yali pun begitu yakin berseru, bahwa dia adalah warga negara Indonesia. Jadi? 🙂

 

 

Selamat Datang di Papua

Yaiy! Selamat Datang di Papua.

Alhamdulillah, akhirnya saya dan teman-teman menginjakkan kaki juga di Papua. Setelah melalui perjalanan panjang. Jakarta – Makkasar, dua setengah jam. Transit 15 menit, lanjut. Makassar – Jayapura tiga jam.

Selalu ada yang menarik di tempat baru. Sentani, Bandar Udara di Jayapura ini terletak di tepi pegunungan. Dari pintu utama Sentani, kita bisa liat deretan bukit milik pegunungan Cyclops.

Suasana ramai pagi itu, ketika sampai di sana. Seperti kebanyakan bandara di Nusantara, Sentani tak seluas Bandara Soekarno – Hatta tentu saja. Tak sedikit pun terasa suasana Ramadan di sana. Semua orang bebas makan, minum dan merokok. Jika di mana-mana kita lazim melihat tulisan ‘Dilarang Merokok’ di Sentani, pun diramaikan dengan tulisan ‘Dilarang Makan Pinang’.

Cuma Papua yang punya larangan begini, karena cuma Papua yang masyarakatnya punya kebiasaan makan pinang. Pun, di sana sudah disediakan tempat sampah khusus untuk membuang sisa pinang yang dikunyah. Ya, kebayang saja kalau di tempat ini bebas makan pinang. Wuih, petugas cleaning service pasti kewalahan membersihkan pinang yang dibuang sembarang. Dan, jorok tentu saja.

Jangan kaget dengan tarif jajanan yang mahal di sini. Nasi putih, telor mata sapi, dan sayur singkong, dilengkapi dengan air mineral, harganya idr 60.000. Widiww, di Jakarta? Segitu paling cuma idr 8000.

Glesotan hampir tujuh jam di Sentani, bikin mati gaya. Karena kita harus melanjutkan penerbangan menuju Wamena. Walaupun penerbangan Jayapura – Wamena cukup banyak, tak mudah peroleh tiket di sana. Sebagian besar tiket sudah dikuasai calo. Mmh, bukan gak mau menggunakan jasa calo, tapi tiket bukan atas nama sendiri ga akan dapat re-imburse-an dari kantor. Jadilah, kita menunggu selama itu.

Tapi, penantian selama itu, gak sia-sia. Akhirnya saya ngerasain juga naik pesawat kecil. Sebelum naik, bukan cuma barang bagasi yang ditimbang. Tapi berat badan penumpang juga ditimbang termasuk hand luggage – nya. Ini nih, yang bikin bete. Jadi ketauan deh, berat badan belum juga turun di bulan puasa ini.

Wuih, menuju Wamena kita tebang rendah. Bisa ngeliat langsung gimana pilot mengendalikan kemudi, menunetukan arah pun masih menggunakan ‘teknologi’ peta. Yoih, biar jetlag perjalanan panjang, saya dan teman-teman excited banget naik pesawat berpenumpang 15 orang itu.

Jayapura – Wamena kira-kira satu setengah jam saja. Dan, sampailah di Wamena. Papua sebenarnya.

Brrrr!

Gimana gak panik waktu denger kalau daerah liputan saya kali ini, dinginnya ampun-ampunan. Alhamdulillah, meski harus dalam kondisi Ramadan seperti ini, saya dapat kesempatan untuk liputan ke Wamena, Papua.

Jujur aja, saya gak punya persiapan matang buat liputan kali ini. Semuanya serba dadakan. Tanggal keberangkatan sudah ditentukan sedangkan kerjaan di Jakarta masih mepet deadline. Gimana cara saya mengatur waktu untuk persiapan? Terbayang terus di pikiran saya dinginnya Wamena. Saya takut hipotermia. Kapok dengan kedinginan.

Sepanjang hidup saya, saya cuma sekali punya jaket yang ‘bener-bener’ jaket untuk menghangatkan. Itu juga akhirnya ketinggalan di tempat liburan beberapa bulan lalu. Artinya, sudahlah ikhlaskan saja jaket itu. Setelah itu, saya gak berminat lagi beli jaket baru, karena ya, jujur aja saya kurang betah pake jaket. Apalagi udara Jakarta seakan gak membutuhkannya, toh?

Kurang persiapan sebenernya udah biasa, si. Karena selama hidup, saya memang tipikal orang yang bisa menyelesaikan masalah dalam masa-masa mepet. Sombong dikit, nih. Hehe. Tapi, yang ini, saya kehabisan akal deh. Saya gak punya jaket tebal, yang ada cuma cardigan-cardigan warna-warni itu, semata buat gaya kalau dipake di Jakarta.

Katanya, di Wamena semua serba susah (baca: mahal), lalu gimana caranya saya bisa dapat jaket tebal di sana? Seorang teman mengingatkan saya, bahwa ini bukan liburan ke Paris. Tapi, Wamena. Gak semuanya tersedia dengan mudah di sana. Lalu, saya pasrah. Packing pun buru-buru. Benar-benar seadanya. Karena, meski dengan penerbangan malam menuju Jayapura, paginya saya masih harus liputan yang dimulai sejak pagi. Pagi sekali. Saya cari-cari, gimana caranya saya bisa mendapatkan jaket tebal itu, dalam waktu singkat.

Really, saya masih belum sanggup membayangkan seperti apa dinginnya kota Wamena itu.

21.40. Penerbangan malam dengan pesawat ‘singa terbang’ itu dingin banget. Padahal AC yang di atas kepala sudah dimatikan. Bukan lebay, nih. Tapi, saat itu saya merasa beruntung banget. Mama membekali saya sebuah selimut kecil. Keluarga kami, menyebutnya dengan selimut Bharra. Tidak seperti rekan perjalanan saya yang lain, mereka bermodal jaket yang lumayan tebal. Tak tahan dengan dinginnya yang menusuk, akhirnya saya, dengan pede sejuta mengeluarkan selimut itu.

Voila! Saya merasa jadi orang yang paling beruntung dalam penerbangan itu. Sengaja, saya memenuhi tas ransel dengan selimut itu agar mudah diambil. Asli, itu selimut berjasa banget. Maaf sejuta maaf, jika yang lain pun jadi agak sirik, karena mereka hanya berlapis jaket. Hehe. Perjalanan dari Jakarta menuju Jayapura pun, menjadi penerbangan malam yang menyenangkan, hampir seluruh waktu perjalanan (kurang lebih enam jam) itu saya habis kan dengan tidur pules berlapis selimut Bharra.

Benar saja, Wamena dingin banget (bagi saya). Ini pasti, AC ga bakal laku di Wamena. Tidak seperti di Jakarta, AC gak jadi kebutuhan wajib. Bahkan gak butuh sama sekali. Apalagi, saya orang yang gampang banget kedinginan. Hampir tiap pagi, gak di jakarta gak dimana, saya pasti pilek akibat kedinginan. Saya? Sepertinya alergi dingin.

Dan malam pertama sampai di Wamena, selimut hotel pun tak dapat membunuh kedinginan saya. Sulit tidur kambuh. Untungnya perjalanan Jakarta – Makassar – Jayapura – Wamena cukup melelahkan. Saya ambil selimut Bharra, saya mulai mencoba tidur. Melupakan segala yang dingin. Termasuk dinginnya kamu. #eaa.

Jadi, seriusli, ini ide bagus untuk bawa selimut Bharra untuk perjalanan ke daerah yang dingin. Ada yang pengen punya selimut Bharra juga? Nanti saya bilang mama deh, untuk bikinin buat kamu juga. 😉

Makasih, Mom.

Menunggu, Kemewahan Kuala Namu.

Yuuhuuuu,

Jalan-jalan lagii. Kali untuk kesempatan yang berbeda.

Setiap kota, setiap tempat, punya cerita sendiri. Setiap perjalanan, mesti ada ‘sesuatu’. Seperti kali ini, kembali Kota Medan yang menjadi tujuan liputan. Dititipi 8 paket, tentunya lebih dari cukup untuk mengambil kesempatan bekerja sambil berlibur di Kota ini.

Jelas, ini bukan kali pertamanya saya ke Kota Medan. Sebelumnya, pernah juga jalan-jalan ke kota ini. Dalam rangka kerjaan atau liburan sama keluarga (waktu masi pitik banget si). Sebagai salah satu Kota Besar di Indonesia, tak jauh berbeda dengan Jakarta. Medan bisa dibilang kota yang tak kalah sibuk. Mobilitas penduduknya cukup gila-gilan. Macetnya jugaa, sebelas dua belas lah sama Jakarta. Walau percayalah, tak akan se gila Jakarta.

Mendarat di Bandara Polonia Medan, susut sudah pandangan saya yang menganggap Medan sebagai Kota Metropolitan lengkap dengan gaya hidup hedonisme nya. Jauh, sudah. Bandara Polonia, kalau boleh jujur, lebih mirip pasar atau terminal yang padat dengan calon penumpang saat musim mudik tiba. Ah, rasanya ini tak layak disebut Bandara Internasional. Letaknya yang di pusat kota, membuat Bandara ini jauh dari mewah karena tak mungkin dibuat luas. Bandara Polonia harus bersaing dengan bangunan-bangunan di sekitarnya, perkantoran, pusat perbelanjaan, dan perumahan. Tempat penerimaan bagasi dan ruang tunggunya pun sangat kecil.

Syukurlah, sudah ada rencana bahwa Bandara Polonia akan dipindahkan ke Deli Serdang. Bandara Kuala Namu namanya, sekitar 40 km dari Kota Medan. Meski jauh dari pusat kota, saya rasa ini memang sudah saatnya mengganti bandara Polonia yang sudah berusia lebih dari setengah abad itu. Dan, begayaan dikit nih, bahwa sepertinya saya salah satu orang yang duluan bisa masuk Bandara Kuala Namu dong. Tentunya, ini untuk kepentingan liputan yaa. Bandara ini belum rampung betul, rencananya baru siap operasi di awal tahun 2013.

Menengok ke Bandara ini, meski pembangunannya baru mencapai 80 persen, saya sudah membayangkan Bandara ini akan menjadi Bandara paling mewah di Indonesia. Arsitekturnya mengikuti gaya Narita atau Haneda airport yang ada di Jepang. Meski, tak meninggalkan gaya khas Indonesianya. Yang paling penting, segala arsitekturnya dikerjakan oleh putra Bangsa Indonesia, well, mari kita berbangga.

Bandara ini sudah dirancang sangat nyaman bagi para penumpangnya. Kekawatiran akan jaraknya yang jauh, bandara ini akan menyediakan train dan jalan bebas hambatan menuju Bandara.

Sebagai salah satu kota, dengan tingkat lalu lintas udara yang tinggi, di sini dimungkinkan bagi para penumpang yang hanya ingin transit sebentar, bertemu dengan kolega, dan lanjut terbang lagi. Mereka dapat bertemu di coffee shop, cafe, atau restoran yang ada di sana. Bagi keluarga, atau traveller, Bandara ini juga akan menjadi semi Mall. Bayangan saya, kita bisa belanja-belanja baju atau aksesoris lainnya di sini. hehe.

Meski membawa identitas wartawan, tak mudah bisa masuk ke Bandara yang masih dalam tahap pembangunan ini. Bandara ini dijaga ketat oleh pasukan pengamanan, yang sangarnya khas Abang Abang Medan. Hehe, ampun Bang. Wajar lah, tak boleh sembarang orang masuk ke dalam kawasan ini.

Sempat perang sengit dengan satpam nya. Kewartawanan saya diuji disini. Dengan panas terik, ditambah suasana gersang penuh debu, siapa yang tak panas, jauh-jauh dari Jakarta, malah ga boleh masuk. Toh, kepentingan kita ke sini murni untuk meliput. Apa saya ada muka maling yaa, sampe dilarang masuk dengan segala ke angkuhan pasukan pengamanan itu? Buruknya sambutan selamat datang itu kemudian adem seketika saat komandannya, menyambut kami dengan sangat terbuka.

Jadilah, kita keliling Bandara siang itu. Di antar oleh salah satu kordinator Proyek Bandara Kuala Namu ini.

Wow. Wow. Rasanya tak sabar menunggu Bandara ini jadi. Mudah-mudahan gak akan kumuh yaa. Rancangannya yang dibuat mewah ini seharusnya diimbangi dengan menghilangkan kebiasaan jorok masyarakat kita. Entah buang sampah sembarangan, melangkah becek becek, dan lain lain. Demi nama baik Indonesia juga kan? 😉

 

 

Tertarik, Batik Cantik

20110929-125929.jpg

Rupa-rupa nya, saya tergolong orang yang mudah jatuh cinta ya. Hari ini saya mulai jatuh cinta pada batik. Kalau biasa nya saya menganggap batik adalah seragam SMA yang dipakai setiap hari Jumat atau seragam Pegawai Negeri, pandangan itu seketika berubah. Mungkin hal yang sama juga akan Anda rasakan jika berkunjung ke World Batik Summit 2011 yang diselenggarakan selama 5 hari hingga tanggal 2 Oktober 2011, bertepatan dengan hari Batik Sedunia.

Mungkin ini yang mereka sebut, warisan budaya nusantara untuk dunia. Tak terpungkiri lah bahwa kain batik memang pantas menjadi kebanggaan negeri.

Tidak melulu bernuansa tradisional, batik justru bergeser dengan gayanya yang tidak hanya modern, tetapi benar-benar keren.

20110929-011125.jpg

Ah. Tak henti berdecak kagum dengan beragam karya corak batik yang dipamerkan. Segalanya bisa dibatikkan. Dari mulai furniture rumah, mobil dan sepeda motor, sampai aksesoris seperti gelang, kalung, dan cincin. Pengen, pengen punya semua. Hehe.

20110929-010522.jpg

Selayaknya wanita, aku naksir berat pada koleksi tas dengan corak batik alami berwarna lembut. Bahan untuk melukisnya seratus persen alami. Terbuat dari tumbuh-tumbuhan. Dipadukan dengan kulit binatang asli. Gimana ga makin naksir??

20110929-010856.jpg

Dan naksir tinggal naksir, benar juga filosofi kita tentang belanja. Ada barang, ada uang. Layaknya pria lajang patah arang. Saya harus urungkan niatan untuk naksir pada koleksi batik cantik itu. Tak tegalah saya melirik pundi pundi di dompet, yang berteriak minta dipertahankan hingga gajian selanjutnya tiba. Fyi, gajian baru saja turun 4 hari lalu. Artinya? Jawab sendiri. ;(

Harga yang dipatok juga cukup (atau sangat?) tinggi. Kain batik berkisar antara IDR 600.000 hingga IDR 20.000.000. Tas – tas nya sudah berekor kata jutaan. Aih. Itu juga berdasarkan tanya tanya dan hasil pandangan mata loh. Entah ada yang terlewat.

Pantas lah harganya mahal. Mungkin bentuk penghargaan terhadap karya seni para pengrajin batik ini. Apalagi batiknya batik tulis. Berbeda pengrajin, berbeda pula karyanya. Mereka punya gaya masing-masing dengan keunikan tersendiri.

Well, hari jatuh cinta pada batik ini pun ditutup dengan kemenangan kebanggaan ku Muhammad Cipta Suhada sebagai Putra Batik Nusantara 2011.

20110929-011436.jpg

20110929-011654.jpgRasa haru dan seru menyemarakkan malam penobatan yang diselenggarakan pada 28 September 2011 ini, di Balai Kartini. Tak sia sialah, saya mengarungi macetnya Jalan Sudirman menuju Gatot Subroto. Meski tak membawa groupies seperti finalis lainnya, Hada atau kita biasa memanggilnya dengan Denya tampil luar biasa.

Tak jadi punya tas batik baru pun terobati dengan euphoria kemenangan Denya. *norak dikit lah ya* dan cukuplah aku menuangkannya pada tulisan ini.

Tanpa mengurangi rasa syukur. Tak punya tas batik cantik dengan harga selangit, cukuplah kini saya punya postingan tentang batik. Dan Putra Batik, si lelek.

Happy Batik, Guys!

Mengayuh Sepeda ke Utara Kota Jakarta

Kebingungan mau kemana lagi sepedaan akhir pekan ini. Car Free Day di Sudirman Thamrin, hanya ada di hari Minggu. Hari itu, hari Sabtu yang mendung dan sedikit gerimis. Kondisi tubuh sudah mulai gak enak. Mungkin memang pas nya tidur tidur seharian di kamar. Tapi akhirnya itu tidak menjadi pilihan ku. Aku tergoda untuk mengayuh sepeda ku yang hampir kulupakan itu.

Aku memutuskan untuk mengayuh sepeda ku menerobos gerimis menuju utara Kota Jakarta. Bersaing dengan kendaraan-kendaraan yang sebagian masih giat menjalani aktivitasnya. Bersepeda, selalu menumbuhkan excited tersendiri bagi ku. Ketika melaju kencang di jalanan kosong, terhembus angin di jalan turunan, ngos ngos an di tanjakan, atau berhenti menunggu detik-detik lampu merah berubah menjadi hijau. Quite fun!!

Aku menuju pusat wisata Ancol. Untuk masuk, aku tidak perlu membayar biaya kendaraan bermotor. Cukup orang nya saja. Seharusnya per orang dikenai IDR 13000, beruntung, aku sampai sebelum jam 7 pagi, sehingga  hanya perlu membayar setengahnya 🙂

Kawasan Ancol, mempunyai jalur khusus untuk bersepeda sehingga kita tidak perlu merasa terintimidasi dengan mobil atau motor yang liwat, mereka punya jalur sendiri.

Di sini, kita bersepeda sambil menikmati udara laut. Beruntung cuaca tidak terlalu terik pagi itu. Tak perlu merasakan kulit tersengat terik matahari. Aku mengayuh menuju dermaga yang memang sengaja dibangun untuk pengunjung yang ingin bersantai menikmati suasana pantai.Kelaparan, kusempatkan untuk sarapan di warung warung pinggir pantai yang tersedia.

Aku bertemu dengan pedagang ikan yang berjualan dari perahu. Ikan yang dijual tidak begitu banyak, wajar saja, hasil pancingan di sana mungkin sudah tidak kaya lagi. Pantai utara kota Jakarta ini memang sudah tidak begitu segar lagi, banyak pencemaran yang terjadi. Tapi satu hal, bahwa harga ikan di sini jauh lebih murah dibandingkan harga ikan di pasar modern dan tradisional, apalagi di restoran restoran seafood yang kita temukan di Jakarta.

Tidak kehabisan ide, kita memutuskan untuk berlayar. Sepeda diangkut ke perahu. Menyenangkan juga menjadi nelayan. Meskipun tak ada ikan yang berhasil dipancing, tapi berada di lautan membuat ku merasa tenang, lepas dari hiruk pikuk ibu kota. Aku tidak melupakan, bagaimana, aku membiarkan wajahku tertiup hembusan angin pagi itu. Mengamati buliran air yang terbentuk ketika perahu ku melaju. Lautnya tidak biru. Coklat saja. Tapi lumayan lah, daripada kita harus menambah protes protes yang sudah banyak kita teriakkan untuk pemerintah Jakarta. Lagi pula, itu bukan karena lautnya yang kotor (meskipun ku temukan banyak sampah mengapung) tapi karena dasar lautnya adalah lumpur.

Begitulah Sabtu pagi ku terlewati saat itu. Dengan semangat yang masih tersisa, aku mengayuh sepeda ku kembali ke perkotaan. Lelah, tapi senang. Mungkin ada hubungannya dengan psikologi ku karena harus kembali ke perkotaan.

Tapi belum lagi sampai beberapa meter aku meninggalkan kawasan Ancol.  aku tak sanggup lagi mengayuh sepeda ku ke Perkotaan. Sudahlah, mari kita ‘grab‘ taksi. Sabtu siang, sore, dan malam. Aku tepar di kamar.

Sabtu ini, memang tidak terlalu sehat, tapi bersyukur karena masih ada yang membantu ku untuk melipat sepeda, mengangkat nya ke taksi, dan terutama membayari argo taksi menuju pusat kota. Tererengkyuuhhh 😀

Liburan, Tidak Perlu Kabur dari Jakarta

Liburan di Jakarta saja, tidak selamanya menjadi ide buruk. Dengan kantong tipis dan waktu libur yang singkat di akhir pekan, rasanya adalah pilihan yang tepat jika kita memilih untuk stay saja di Ibukota ini.

Sabtu itu, setelah menghadiri beberapa undangan yang diwajibkan, kami memilih untuk main air di Waterbom, Pantai Indah Kapuk. Menurutku, wahana main air di sini adalah main air paling worth dibandingkan main air – main air lain di Jakarta. Walaupun aku ga pernah membandingkan langsung dengan tempat main air yang lain, tapi kira-kira begitulah bunyi rekomendasi dari beberapa teman yang pernah ke tempat main air lainnya.

Untuk masuknya IDR 180000 per orang. Beruntung bagi kita yang punya kartu kredit yang sedang promo karena bisa dapet ‘buy 1 get 1 free’. Aku suka dengan suasana bersih, nyaman, dan eksklusif yang ditawarkan. Tempat nya juga luas, sehingga kita tidak perlu (terlalu) berdesak desakan dengan pengunjung yang lain. Warung warung makan di sana pun menawarkan rasa yang bukan main-main. Menyenangkan untuk bersantai, untuk sekedar duduk duduk melihat tua muda, laki perempuan, ceria bermain air.

Kunjungan ku sore itu, serasa benar-benar pas. Sore Jakarta yang biasanya hujan, saat itu begitu ramah. Pengunjungnya juga tidak sedang peak. Kita merasa berjodoh dengan waktu juga dan promo kartu kredit nya. 😉

Seluncuran airnya, rupa-rupa. Mereka menamainya dengan ‘aquatube’, seluncuran air terbuka, separuh tertutup dan tertutup. Yang paling berkesan, kita meluncur di dalam lorong gelap, membiarkan tubuh menabrak dinding gelap ditemani gema berteriak dari diri sendiri. Hanya dua menit mungkin, kemudian kita kecebur dalam terang lagi.

Raut muka temanku lalu berubah ketika meluncur di wahana yang disebut speedslide. Seluncuran tercepat di sana. Dua detik saja (lebay) drashhh!! Ia mendarat cengo di alur seluncur itu.

Seperti wahana arung jeram di Ancol, begitulah kira-kira wahana hairpin ini. Disebut hairpin karena alur meluncurnya mirip kepangan rambut baby Khalisha. Dengan beramadakan tube besar bundar bermuatan 2 – 4 orang, kita meluncur dengan histeria lebay paling seru.

Di kolam ombak kita terombang-ambing seakan bertarung dengan hantaman gelombang yang heboh setiap dua puluh menit. Ketika ombak tenang, romantis juga sambil curhat-curhatan mengalir mengikuti arus kolam dengan suasana alam nya yang teduh. Mengenang masa kecil, kita bisa bergabung dengan anak-anak kecil di Bombblazter dan Kiddy Slide. Woohooo, serrruuuuuu!!!!

Cape main air, saatnya menikmati suasana malam minggu yang sudah menjelang senja itu. Satu pan pizza, habis sekejap mata. Air putih dingin adalah air paling nikmat sore itu. Kalau mandi adalah aktivitas paling malas dalam keseharian ku, berbeda dengan sore itu. Fasilitas mandinya yang nyaman, membuatku lebih bersemangat untuk bebersih demi melanjutkan malam minggu an kali ini.

Kabur dari hectic nya malam minggu di pusat pusat hiburan Kota Jakarta, kita memilih untuk berputar-putar saja di kawasan dengan deretan rumah-rumah (apa istana, ya?) super mewah ini. Sejujurnya, tak perlu ke Hongkong kalau hanya untuk menikmati suasananya. Kami, sangat minoritas di sini. Tapi sudahlah, toh kita sama-sama Indonesia. Satu jua. Yihhiiiyy!

Ngemil kerang dan ikan bakar dengan menyeruput Es Jeruk Kelapa di Muara Karang menjadi pilihan kami untuk menutup kesempurnaan hari ini. Alhamdulillah, porsi yang dipesan pun tak berlebihan, tak sedikitpun makanan tersisa dari apa yang disajikan. Kelaparan karena main air, mungkin masi tersisa saat menikmati aneka seafood itu.

Well, jam malam sudah tiba, saatnya pulang. Mama sudah menunggu di rumah. Hari ini, yang wajib dan yang foya foya pun terpenuhi. Ngidam main air akhirnya kesampean juga. Sayang, karena perjalanan ini tidak sepenuhnya ‘legal’ (emangnya maling ya? hem!) gak banyak foto-foto yang bisa di publish. Tapi, kamera waterproof kuning ku cukuplah menangkap moment keceriaan hari itu. Thanks, camera. Thousand kisses :*

Ntang Bontang

Akhirnya, kerjaan ‘ini’ membuat ku keluar kota juga. Lumayan, sambil menyelam minum air. Lumayan lama, aku tidak menghirup ‘kerjaan’ luar kota seperti ini. Walaupun, tetap aja sii kerjaan ku yang ini sangaatt berbeda dari kerjaan jalan-jalan ku yang lalu.

Tidak banyak yang dapat dilakukan di Kota Bontang, yang selentingan ku dengar merupakan kota dengan pendapatan tertinggi di seluruh Indonesia. Hal ini dapat dipastikan karena adanya 2 perusahaan besar yaitu PT Badak NGL dan Pupuk Kaltim yang beroperasi di sana. Bontang, jauh dari kegiatan hura-hura, tentu saja. Sekitar 6 jam melalui jalan darat dari Balikpapan. Sebenarnya, untuk mempersingkat waktu dari Balikpapan, bisa menggunakan pesawat kecil untuk ke Bontang. Tapi sayang sekali, pesawat kecil tersebut prioritas untuk pegawai PT Badak dan Pupuk Kaltim. Aku, sebagai tamu, memilih jalan aman melalui darat saja. Dari pada tiba-tiba ga jadi naik karena kepenuhan antrian 😀

Menjelang sore, kusempatkan untuk mengunjungi Bontang Kuala, konon merupakan kampung tertua di Bontang. Tata kampung ini tergolong unik. Rumah berbaris rapi beralaskan kayu di atas perairan. Mobil tak bisa melewati jalan kayu itu (kecuali darurat, katanya). Kami menyusuri perkampungan tersebut. Selainnya, perkampungan tersebut hampir sama dengan perkampungan di Indonesia lainnya. Kehidupan yang sederhana, tapi tak selalu prihatin 😉 Di ujung kampung tersebut, kami duduk di warung-warung, beristirahat sebentar, disuguhi kopi susu hangat dan setangkup roti bakar. Semilir angin.

Katanya, ga lengkap ke Bontang kalo ga makan kepiting. Udara dingin malam itu membuat kami lapar, dan tak malu-malu melahap kepiting lada hitam dengan porsi seadanya. Hari pertama di Bontang, di tutup dengan tangan dan perut yang panas karena kepedasan.

Tak ada lagi yang bisa kami lihat di Bontang ini. Selain kompleks perumahan PT Badak, yang terkesan eksklusif dari wilayah sekitarnya (lebay dikit). Ujung bagian (mana) Bontang, terdapat pelabuhan. Pun, tak ada yang unik. Hanya kapal-kapal layar, sederhana. Tanker bukan, ya? Sepertinya bukan. Dalam bayangan ku kapal tanker jauh lebih gagah dari yang kulihat di Pelabuhan Loktuan itu.

Tak berlama-lama di sana. Sudah saatnya kembali ke ‘keras’nya hidup Jakarta. Menghadapi keseharian yang ‘megah’ dan ‘gerah’ Seperti rute pergi, untuk pulangnya, kita harus jalan darat lagi ke Balikpapan. Beruntung, memilih flight paling akhir. Kami sempat mampir untuk keliling kota Balikpapan yang didominasi oleh beberapa Perusahaan Minyak besar di Indonesia, seperti Total E & P, Chevron, dan Pertamina. Pasar Kebun Sayur menjadi sasaran kami untuk belanja souvenir dan titipan mama. Hem, maaf, aku tak belanja banyak kali, ini. Titipan langka mama pun tak berhasil kutemukan. Maaf, ya, ma 😦 Lapar lagi, kami ngemil seafood bakar khas Banjar. Aku memilih cumi bakarnya. Nyuummmm 😀

Sambil menunggu waktu boarding tiba, kami sempatkan untuk menikmati angin pantai Lamaru. Indomie dan Kelapa muda ikut memanjakan perut ku. Sedikit bosan memang, andai ke sana bersama pasangan mungkin jauh lebih menyenangkan (yeah!). Setidaknya ‘fun better’ dari pada dengan rekan kerja yang brawel ini (maaf Bang Jul, hehe).

Waktu berangkat benar-benar hampir tiba. Kepiting kenari lada hitam khas Tarakan sudah ditangan. Walaupun dikemas rapat, baunya, menggoda! Hajar aja apa niiihhh. Mengingat flight kita belum dipanggil-panggil. Nice to see you Bontang. Nice to see you again Balikpapan :*

Kurang dari 24 jam di Bali

Semua juga tau, kalo Bali sangat kaya dengan keindahan alamnya. Setiap sudut pulaunya, punya keunikannya masing-masing. Berapa hari yang kita perlu untuk menelusuri barisan keindahannya? Yang pasti sehari, itu kurang.

Bergaya ala orang sibuk, aku memutuskan untuk berlibur ke Bali dalam waktu kurang dari 24 jam. Rasanya sudah lama sekali tidak mencium aroma penerbangan, sejak terakhir kali jalan-jalan bersama tim Perjalanan 3 Wanita. Udah lama banget ga liburan, karena load kewajiban mencari macem-macem (jati diri, mungkin) lagi tinggi. Kalo aroma bandara si, sering, cuma buat nganter jemput keluarga dan pacar di Bandara. hehe. Mulai norak, deh ini.

Cerita ku kali ini benar-benar bukan liburan yang oke buat ditiru. Bukan tips liburan murah, atau tips liburan puas dalam sehari. Liburan dibuat tanpa perencanaan. Pesawat di booking hanya H minus sekian keberangkatan. Alhasil, dapat harga tiket PP Jakarta Denpasar yang agak mahal (menurutku mahal banget bgt sebenarnya).

Jumat malam itu, Jakarta diguyur hujan deras. Setelah sebelumnya, Bandara Soekarno Hatta rusuh karena sempet mati lampu. Jalanan menuju Bandara macet bukan main. Suasana Bandara padat, pengap, dan becek. Penerbangan pun delay. Flight ku yang seharusnya berangkat jam 20.40, baru berangkat pukul 21.30. Lumayan, karena malam itu badan sudah gerah dan mood hampir berantakan karena suasana Bandara yang semrawut bukan main. Tapi, tak apalah, aku beruntung karena partner seperjalanan ku dapat menghadapi ku dengan baik. Mood ku yang payah ini dapat diatasinya.

Di pesawat ekonomi yang tempat duduknya sempit plus suhu udara yang anget, dengan harga yang mahal itu, kita berhasil menghabiskan waktu dengan tidur. Saking capenya. Harapannya, sampe Bali kita tidak perlu tidur, untuk efektif waktu dan biaya, maksutnya. Se excited apa pun dengan Bali, ternyata ga berbanding lurus dengan kebutuhan tubuh. Tubuh kita pun tetap meminta untuk tidur.

Tidak mudah mencari hotel di Bali yang sesuai kantong di akhir pekan seperti ini. Semua hotel serentak mengatakan full booked. Alhasil, lagi-lagi, kita dapat hotel kemahalan (menurut kantongku). Keliling liling, setelah akhirnya memutuskan untuk ngemil ayam goreng di KFC, kemudian pada pukul setengah enam waktu sana kita kembali ke hotel, dan kontan, langsung tepar.

Aku bangun lebih pagi dari yang lainnya. Maklum ga mau rugi. Tapi, yaa, bangun pagi ternyata ga membuatku beranjak dari kamar kemahalan itu. Cukup menikmati langit Bali, pagi itu di teras kamar. Sambil menunggu yang lain bangun.

Syukurlah, jam setengah 10 waktu sana, kita sudah siap untuk breakfast. Oke, cukup roti plus butternya, karena menu disediakan untuk penggemar daging babi. Kebetulan, aku sedang tidak mau makan babi pagi itu (selain memang diharamkan di agama).

Selesai sarapan, kita pun bingung, mau kemana dalam waktu sesingkat itu. Kalau ke Tj Benoa untuk watersport, pasti waktunya bakal abis seharian. Akhirnya, kita duduk-duduk dulu, di pantai di depan Hotel. Pantai apa ya, namanya? Mungkin bukan Kuta, tapi pasti masi segaris dengan Pantai Kuta. karena hotel tempat kita menginap berada di perbatasan Legian dan Seminyak.

Duduk-duduk, udah. Sekarang saatnya jalan-jalan menyisiri pasar tradisional Seminyak. Berkali-kali ke Bali, kerajinan tangan yang dibeli, jaraaangggg dipake lagi setelah kembali ke Jakarta. Akhirnya cuma menuh2in kamar doang. Lalu kedatangan singkat ku ke Bali kali ini, membuat ku lebih bijaksana untuk menghabiskan uang. Tak banyak pernak pernik yang kubeli. Walaupun tetap ada. 😉

Siangnya, kita lunch di Flapjacks. Bukan lunch juga kali, ya. Late breakfast tepatnya. Menunya sejenis pancakes dan kawan-kawan. Kalo di Jakarta seperti Pancious atau Nanny’s Pavilion. Rasanyaaa, well, honestly, lebih enak. Buat yang udah nyobain, setuju ga? Need second opinion 😀

Sambil menunggu sore, mengikuti kebiasaan para turis lainnya, kita ‘nongkrong’ di Pantai Kuta. Berhubung, aku bukan bule yang betah menikmati sunbathing, aku memilih untuk menjadi ratu sesorean. Massage, temporary tattoo dan manicure – pedicure sambil menikmati pemandangan dan hawa pantai. Main air bukan pilihan ku sore itu. Karena males buat bersih-bersihnya mengingat ntar malem kita sudah harus kembali ke Jakarta. Teman-teman ku yang lain, sibuk dengan aktivitasnya masing-masing; surfing, hunting foto, ngambek, dan makan indomie. 😀

Menjelang sore, kita ngebut menuju Rockbar. Dengan niat baik untuk menikmati sunset di sana. Yang dapat, gelap. hehe, tapi tempat itu benar-benar keren. Sampe susah deskripsiin liwat kata-kata.

Well, walaupun kurang dari 24 jam, ke Bali pasti kurang kalo kita ga dinner romantis di Jimbaran.

Dari Rockbar, pas banget perut udah laper. Ikan bakar, kerang bakar, Cumi goreng tepung, udang bakar, dan cah kangkung, siap di santap malam itu, dihiasi ratusan lilin nyala di pinggir pantai malam yang gelap. Bali, masih cantik, sama ketika pertama kali aku ke sana.

Waktu mulai bergegas menunjuk pukul 21.00 wita. Kita semua mulai merasa berat untuk kembali ke Jakarta. Surga dunia itu, begitu berat kita tinggalkan. Rasanya pengen extend, sehariiii, aja. Atau dua hari ya? Seminggu. Ah, pengen ngelunjak rasanya.

Yah, akhirnya Bandara Ngurah Rai juga ujung dari liburan sehari ku di Bali. Lelah tersisa. Pesawat (masih saja) delay. Walaupun kurang dari 24 jam, liburan ini cukup banget buat refresh dari rutinitas sehari-hari. Setelah kemaren-kemaren begadang tiap malam buat mencapai target tepat waktu ngumpulin tugas kuliah yang sudah deadline.

Unforgettable vacation! Thank you for treat me like a one day princess. We’re also have a great time with a newly wed!

Tari Kecak Kala Matahari Tenggelam

Sore itu, aku, dila dan silvi berkumpul di Uluwatu. Seperti kebanyakan tempat wisata di Bali, di sana pun ramai wisatawan, terutama dari mancanegara. Banyak monyet yang mengiringi perjalanan menuju Pura Uluwatu tersebut. Untuk kesana, kita harus memakai ‘selendang’ yang merupakan simbol suci. Mereka menyebut nya selendang. Tapi kalo yang aku lihat bentuk nya lebih kaya tali kain. Untuk yang memakai celana pendek, disediakan kain panjang untuk menutupi paha dan tungkai kaki. Karena di sini tempat ibadah, memang diharuskan berpakaian tertutup dan sopan.

Kami menuju tribun. Semakin sore semakin ramai. Harus buru-buru duduk Ramaiagar kebagian tempat yang nyaman. Di sini lah atraksi tari kecak akan berlangsung. Keeelokan budaya Indonesia dibuktikan di sini. Keunikan tari kecak dipadukan dengan indahnya matahari terbenam. Tarian ini tanpa diiringi alat musik. Suara-suara dari para penarinyalah yang menambah semarak atraksi ini. Luar Biasa. Gelak tawa dan ketakjuban berpadu di segala sudut pandang.

Apalagi saat lingkaran api dinyalakan. Sempet kaget juga, tapi ternyata kobaran api itu menambah keunikan atraksi tersebut. Keren. Keren.

Aku kutip cerita cerita tarian ini, ya.

Atraksi Api

Karena akal jahat Dewi Kakayi (ibu tiri) Sri Rama, putra mahkota yang sah dari kerajaan Ayodya diasingkan dari istana ayahandanya Sang Prabu Dasarata, dengan ditemani adik laki-lakinya ( Laksmana) serta Istrinya (Dewi Sita) yang setia. Sri Rama pergi kehutan Dandaka, pada saat mereka berada di hutan, mereka di ketahui oleh Prabu Dasamuka (Rahwana) seorang raja yang lalim, dan Rahwana pun terpikat oleh kecantikan Dewi Sita, Ia lalu membuat upaya untuk menculik Dewi Sita dan ia di bantu oleh Patihnya Marica. Dengan kesaktiannya, raksasa Marica menjelma menjadi kijang emas yang cantik dan lincah. Dengan demikian mereka berhasil memisahkan Dewi Sita dari Rama dan Laksmana. Rahwana lalu menggunakan kesempatan ini untuk menculik Dewi Sita dan membawanya kabur ke Alengkapura. Sri raman raja yang Rama dan Laksmana berusaha menolong Dewi Sita dari cengkkejam itu, atas bantuan bala tentara kera di bawah pimpinan Hanoman maka mereka berhasil mengalahkan bala raksasa Rahwana yang dipimpin oleh Megananda, putranya sendiri. Akhirnya Sri Rama berhasil merebut kembali istrinya dengan selamat.

Perjalanan Segerombol Sahabat

Setiap awal pasti ada akhir. Setiap pertemuan akan ada perpisahan. Tapi ini bukan masalah awal dan akhir dengan pertemuan yang berujung perpisahan. Ini perjalanan segerombol sahabat.

Malam itu, untuk pertama kali nya aku melihat Bapak (Produser Perjalanan 3 Wanita) dan Mas Jagat (P.A) bergelinang air mata. Entah kata apa yang bisa menggambarkan perasaan kita semua malam itu. Malam yang seharusnya romantis di sebuah restoran di Jimbaran, Bali berubah mengharukan ketika Bapak memulai kata-kematanya.

Mas Jagat, Mba Fista, Mas Angga, Dila, Silvi, Mas Sakti, A ii, Ceu Epa dan aku pun berkeras membiarkan air mata tetap berada di pelupuk. Jangan lah jatuh, tapi mungkin di antara kita memang sudah tak sanggup menahan nya ketika mendengarkan apa yang disampai kan oleh Bapak.

Ini akan menjadi malam terakhir untuk Perjalanan 3 Wanita.

Satu per satu dari kita mulai menyampaikan kesan perjalanan ini. Perjalanan ini begitu dicintai bagi siapa-siapa yang terlibat di dalamnya. Mungkin juga bagi para pemirsa setia nya. Tapi memang kenyataannya, Perjalanan 3 Wanita tetaplah bagian dari sistem yang sudah mengaturnya.

Pengalaman yang tak bisa dinilai dengan uang. Berapa banyak pun jumlahnya (atau seberapa sedikit pun jumlahnya). Bukan sekedar petualangan, jalan-jalan, senang-senang, tapi kita semua mendapatkan sebuah keluarga baru dalam perjalanan ini. Masing-masing kita memberikan warna dalam kebersamaan ini. Mereka semua orang yang hebat dan luar biasa.

Bapak, dibalik kalimat-kalimat nya yang kadang nyelekit, beliau menyimpan banyak sekali ruang bijaksana dalam kepala juga hati nya. Begitu hebatnya karena selalu seru di tengah tekanan hebat yang datang.  Begitu tabahnya menerima setumpuk kekurangan yang ada di host nya. Terutama host gendut ini. Apa ada produser lain yang kaya gini? *thinking

Mas Jagat, P.A luar biasa yang mengaku dirinya baik. Merasa ga bisa bikin script, but he has unlimited fabulous words! Selalu menanggung beban berat baik fisik mau pun mental, baik pra, pas, dan pasca syuting. Kata-kata yang keluar dari mulutnya, selalui menjadi trendsetter. Ah, tapi dilarang keras untuk membuat nya besar kepala. He’s my gank mate (or maid? :p ). For Always.

Mba Fista, dengan keceriaan dan perhatiannya (kaya pacar ya). Teman nyela, mencela, hampa-hampaan. Selalu punya struktur kalimat baik hati untuk membuat orang lain merasa lebih nyaman. ‘Kreatif’ yang benar-benar kreatif. Dia punya segudang ‘support’ dan ‘encourage’ untuk sahabat-sahabatnya. Cerita yang ga akan abis-abis, bisa sampe besok pagi nya lagi. Take VO sejam bisa jadi 4 jam. O, gonna miss that time.

Mas Angga, gak jauh-jauh dari ‘sek’. Bikin sakit perut kalau ada dan ga ada dia. Bikin sakit perut karena suting dan perjalanan jadi ketawa mulu. Kalau ga ada, kita juga sakit perut karena makan-makan dan camil-camil kuranggggg.

Mas Sakti, cameraman kesayangan perjalanan 3 wanita. Tabah menghadapi ribuan retake, syuting perdana dan syuting pamungkas Perjalanan 3 wanita. Mas Sakti pasti ngerti banget perubahan (atau ga adanya perubahan) dari kita –Dinna, Dila, Silvi-  Hiks jadi sedih. Apalagi tio dan aria. Jagoannya yang ganteng-ganteng itu.

A ii. Hoho. Iya, a ii, ga bakal lupa. U are so helpful and soooo swittt. Pasti lucu inget becanda-becandaan kita itu, a.

Dila dan Silvi. Sangat pengertian dengan aku yang egois dan manja. Berangkat dari awal sama-sama culun (ups, silvi cantik dan dila pemberani, deh), dengan ribuan retake. Sekarang? Udah jadi presenter professional (dengan jutaan retake, kah? Hehe) Mana ada lagi host yang begini, ya. Dila yang ga bisa nahan sendawa dan nyanyi-nyanyi tanpa melodi di bandara. Silvi yang ga bisa matiin TV kalau tidur dan selalu ‘dikecengin’ pacar-ku. Keep this incredible friendship, girls.

framed at Jimbaran-Bali, dengan muka sembab

framed at Jimbaran-Bali, dengan muka sembab

Begitulah malam itu berakhir, malam yang begitu indah dengan deburan ombak, aroma pasir pantai, dan kilauan fireworks. Memang masing-masing kita sudah ditentukan jalannya. Kita lah yang melangkah di garis-Nya.

Dengan pelupuk mata yang basah, nadi leher yang tercekat, perut ‘begag’ karena seafood, dan senyum beruntai kasih. Kita meninggalkan malam itu, Jimbaran – Bali, 16 Agustus 2009.

Berenang Bareng Hiu – Karimun Jawa

Berenang, memang olahraga yang menyenangkan. Bagi kita yang suka mengeluhkan treadmill yang bikin napas ngos-ngosan, berenang bisa jadi pilihan yang tepat untuk sekedar meregangkan otot yang letih bekerja atau bahkan membakar kalori. Dan lebih seru lagi, kalau sambil seru-seruan bareng sahabat. Tapi, gimana kalau berenang sama hiu? Perjalanan ku kali ini menuju Pulau Karimun Jawa. Kami sampai sekitar pukul 1 dini hari di Jepara dan harus berangkat pagi-pagi menuju pelabuhan Kartini. Kantuk yang tersisa di pagi harinya, membuat ku harus bergegas dan ga sempat mandi. Tapi percaya de, aku udah sikat gigi kok. Mudah-mudahan bau nya ga sampai ke layar kaca pemirsa, ya :p Kami menaiki kapal nelayan, karena pada hari itu ga ada satu pun kapal motor yang beroperasi. KMC Kartini I hanya beroperasi pada hari Senin, pukul 10.00. Kapal yang lain , yaitu Kapal Motor Muria berangkat setiap Sabtu dan Rabu, pukul 9.00. Hari itu, hari Jumat, entah jam berapa, yang pasti matahari sudah cukup terik. avoid 'mabok laut'Aku langsung memilih blokingan paling aman di kapal nelayan itu. Tapi ternyata ga ada posisi duduk yang benar-benar aman.  Di satu sisi panas, di sisi lain kebasahan, di dalam deck agak pengap. Perjalanan ini awalnya menyenangkan. Masih excited dengan pemandangan laut yang memukau. Mengarungi laut semakin jauh, gelombang nya pun mulai tidak bersahabat. Kapal bergoncang hebat. Membuat perut bergejolak. Beruntung aku adalah ‘si mata busuk’, mengambil istilah teman-teman Perjalanan 3 Wanita. Aku tipikal traveller yang mudah terlelap walau pun beberapa kali sempat terbangun dikagetkan oleh ombak yang menampar kapal. Rasanya ga percaya bahwa kita akan menempuh guncangan ini selama 7 jam. Belum lagi suara mesin kapal yang memekakkan telinga. Sumpelan earphone pun ga mampu mengalahkan suaranya. Andai ada mesin waktu yang bisa nge-skip waktu sampe 7 jam ke depan. Sampai lah kami di pelabuhan Karimun Jawa. Salah satu teman perjalanan ku bahkan ada yang sujud syukur saking haru dan lega nya. Banjir peluh, muka kusut, dan kulit berminyak.

Kami menginap di sebuah penginapan khas pinggir laut. Pagi ini, aku kebagian berenang sama hiu. Dila diving dan Silvi melepas tukik (anak penyu). Sempatada rasa takut, apakah hiu itu akan menggigit ku. Ah deg-deg an rasanya.lihat bagaimana hiu mencintaiku ;)

Sebelum masuk kolam hiu yang terletak di pinggir laut itu, aku mendengarkan berbagai tips ini itu agar selamat dari serangan hiu-hiu tersebut. Jangan mengayun-ayunkan kaki di dalam kolam seolah memancing untuk digigit. Dan betapa kagetnya aku ketika memasukkan kaki ku, hiu-hiu itu seolah ingin menyerangku. Syukurlah, hiu-hiu itu hanya menggertak saja. Bermain-main bersama hiu seru juga.Walau pun giginya yang tajam membuat ku tak berani bercengkerama dengan mereka. Ternyata diantara puluhan hiu-hiu itu, ada penyu tua yang panjangnya mencapai 1 meter. Beratnya mencapai 1 kwintal. Ah Pantas saja aku gak sanggup mengangkatnya. Aku unggah foto-fotonya ya.

Jangan bilang ‘cape’ lagi – Kawah Ijen

Ya, dia bilang “saya akan datang kalau ga cape”. Ah, masi ada ya cape dalam hidup ini. Kalau semua manusia di muka bumi ini ga perlu lagi bersabar, tentu kita semua akan teriak ‘cape’. Tapi, karena kita punya tanggung jawab, at least buat diri kita sendiri, maka cape itu udah ga laku lagi.

Kalau bicara cape, saya, dia, mereka, pun juga cape. Kalo kita pikir kita adalah orang yang paling cape di dunia ini? Lebih baik kita pastikan bahwa kita udah bener-bener ‘melek’ bahwa masih ada yang lebih cape dari kita. Pelajaran ini aku dapat ketika aku melakukan perjalanan ke kawah ijen.

Menyusuri jalanan mendaki menuju kawah ijen, aku melihat bapak-bapak separuh baya dengan langkah tergopoh membawa beban sekitar 80 kg, yang akan kita sebut sebagai penambang belerang. Menuju bibir Kawah Ijen, kita harus berjalan mendaki sekitar 3.2 km. Di kilometer pertama, perjalanan tak terasa terlalu berat, pendakian tidak terlalu curam. Hanya saja terik matahari dan dinginnya hawa pegunungan membangkitkan dahaga kami.

IMG_3111Jalan tanah menuju kawah Ijen bisa dikategorikan kelas ringan, Jalanannya berupa tanah kering, tak ada lumpur, semak, sungai, batu-batu, yang merintangi perjalanan. Sepanjang perjalanan, disediakan 5 shelter tempat beristirahat. Semakin mendekati bibir kawah, pendakian semakin curam. Langkah pun terasa semakin berat. Tetapi, beratnya langkah dihargai dengan sajian panorama yang luar biasa indah. Serasa berada di negeri dongeng.

Tapi ga kebayang gimana cape nya para penambang belerang tersebut. Karena setelah berjalan 3.2 km menuju bibir kawah, mereka masih harus menuruni kawah sekitar 1 km dengan kontur bebatuan yang sangat berisiko. Dan itu bisa mereka lakukan 3 kali bolak-balik dalam sehari. Ahhh, membayangkannya pun aku ga sanggup.

Saat aku ke sana, pada saat yang bersamaan aku mendapat kabar dari para penambang bahwa belerang baru saja terbakar. Bau belerang tak tertahankan lagi saat itu. Nafasku menjadi sangat sesak. Kami pun tidak bisa meneruskan perjalanan menuruni kawah, menyaksikan bagaimana para penambang tersebut bekerja.bengek in frame :D

Ngobrol-ngobrol dengan penambang belerang di sana, baru aku mengetahui bahwa setiap satu kilo belerang yang mereka bawa, dihargai 600 rupiah (ajjja, gituhhh). Ya Allah, benar-benar tak terbayang kan oleh ku, berat nya beban mereka. Tapi, apakah semua itu menjadi beban dalam keseharian mereka? Ternyata tidak juga, sebagian tampak sudah sangat ‘menikmati’ pekerjaan itu. Semua nya dilakukan demi membahagiakan orang-orang yang mereka cintai. Apakah ada pamrih, protes, dan berontak yang bergejolak  di diri mereka?

Lalu bagaimana dengan kita? Seringkali kita protes menjadi orang yang paling cape di muka bumi ini. Merasa seolah semua dibebankan pada kita. Tapi adakah letih itu menjadi begitu penting, jika karena letih itu mereka (yang kita sayang) menjadi bahagia?

*pikir-pikir