Temennya Roti

Belakangan, muncul beragam kreativitas produk sebagai temen makannya roti tawar. Mulai dari yang bermerk, yang gada di Indonesia, yang home made, sampe yang konsisten healthy food. Semuanya bikin makan roti tawar makin seru dan ga ngebosenin. Bahkan sampe ada yang bisa ngerubah kita jadi anak ‘kekinian’ karena udah nyobain selai/olesan roti merk tertentu. Hehe.

Saya sendiri, termasuk salah satu yang senang membeli. Digaris bawahi, senang membeli. Entah karena selera makan yang lagi menyedihkan akhir-akhir ini, sering kali olesan-olesan itu hanya mengendap di kulkas atau di meja dapur. Ga dicicip sedikitpun. Padahal kemasannya udah didesign semenarik mungkin apalagi racikannya. Super super kreatif. Katanya sii soal rasa boleh diadu satu sama lain. Semua bisa jadi kesukaan tergantung selera masing-masing. 

Beruntung, Zandi termasuk penikmat segala. Dia penganut teori makan pake otak bukan hati. Jadi beberapa selai/olesan yang saya beli, masih terselamatkan gak terbuang percuma karna keburu expired. Kata Zandi, semuanya enak. Emang sii, hampir semua makanan enak bagi doi. Yang dia ga suka cuma makanan yang ga bersih. *kontra banget sama saya, pencinta makanan pinggir jalan, hehe.*

Jadi, kalo ditanya, apa teman makan roti tawar favorit saya? Jawaban saya masih sama seperti pas saya masih kecil. Roti tawar dioles mentega (blu*band) ditabur meses (c*res). Yes, untuk beberapa hal, saya ini masi konvensional dan bisa dianggap cukup setia kan. Whehehe. 



Advertisements

Makan Siangnya, Incredible!

Hampir setiap akhir pekan, mall ramai pengunjung. Mmh, bakal berkurang sedikit pengunjungnya, kalau lagi tanggal tua, ya kan. Itu pun kurangnya cuma sedikit. Karena mall memang menjadi hiburan paling sederhana, murah dan mudah (bagi yang pandai menyiasatinya, hehe).

Yaa, seperti kebanyakan, biasanya kalo ke mall, wajib, buat makan. Kalau cuma iseng untuk isi perut, biasanya saya memilih foodcourt untuk menghilangkan rasa lapar. Selain pilihannya yang banyak, harganya pun lebih masuk akal sesuai porsinya.

Siang itu, kita (sebut saja, saya dan dia, ya) kelaparan luar biasa. Yang jadi sasaran pastinya adalah makanan-makanan standar dan udah pasti rasanya sesuai selera. Biasanya makanan cepat saji semacam fried chicken itu menjadi salah satu pilihan yang udah dijamin kenyang. Kalau harus coba-coba menu baru, kawatir rasanya aneh dan akhirnya jadi makin lapar.

Oke, kebiasaan itu berbeda sedikit di Minggu siang kali ini. Kita pilih makanan yang belum pernah kita coba sebelumnya, tapiii, rame yang mesan. Mudah-mudahan si selera kebanyakan orang itu ga jauh beda dengan selera kita.

Little Wok. Namanya. Dengan penyajiannya yang pake kuali panas begitu, membuat sajiannya jadi lebih menarik. Liat penampakan menunya juga lumayan.

Pertanyaan standar ketika mencoba makanan baru adalah apa yang jadi menu favorit kios makan itu. Pramusaji menawarkan beberapa pilihan. Berhubung saya sedang diet nasi, saya pilih menu mi goreng dengan ayam krispi di atasnya. Keliatannya enak.

Dan siang itu menjadi siang yang ‘sweet’ menurut pendapat saya sendiri. Lunchdate, tidak harus makan di tempat-tempat mewah dengan dandanan all-out, kok. Ala kadarnya, lunch kali ini bisa bikin saya yang berangkat manyun karena kelaparan bisa jadi senyum-senyum sendiri.

Kesalahan pertama saya adalah lupa bilang kalau mi gorengnya jangan pake sayur. Well, saya memang bukan penggemar sayuran untuk beberapa jenis makanan tertentu. Menurut saya, mi goreng yang dicampur dengan sayur, merusak cita rasa mi itu sendiri. Hehe. Yaa, kebayang aja ind*mie yang enak banget, kalau harus dicampur sayuran sawi rasanya pasti jadi beda. Peraturan ini pun menjadi berlaku untuk jenis mi yang lain.

Selera dan rasa lapar saya seketika pupus, waktu mi goreng yang saya pesan jadi. Hiks, sayurnya, polll, banyaknya. Bingung kalau mau disisihin juga. Lupa total, order tanpa sayur. Alhamdulillah.

Pertama, tanpa harus manyun berlama-lama, saya disuruh pesan lagi. Tentu dengan catatan kaki ‘tanpa sayur’. Oh, saya haru penuh terima kasih. Dan acara makan siang itu menjadi istimewa. Dia yang sebenarnya juga ga begitu suka menu mi goreng dengan sayur, rela menyantap menu saya yang salah. Hehe, saya jahat ya? Yaa, sayang dong, daripada dibuang, ga tega banget di saat orang susah-susah cari makan.Image

Jadi, ini lah makanan yang tersaji di meja. Untuk dua orang. Hehe.

Image

Dan ini, bagaimana dia berusaha meng-combine makanan yang ia pesan dengan pesanan saya yang salah itu. Enjoy? Am lil bit guilty anyway. Ups!

Image

Saya lupa memesan telor mata sapi, salah satu lauk favorite kita. Dan dia berbagi separuhnya untuk saya. Boleh saya terharu dulu?

Image

Nah, saya begitu. Begitu menikmati menu pesanan saya ini. Sempurna. Mi goreng tanpa sayur dengan ayam crispy yang gurih, separuh telor matasapi dengan pembagian kuning dan putih telurnya yang pas, dan bumbu-bumbu cinta.

Image

Es teh tarik? Oh, segarnya!

Image

Lalu, dalam sekejap, saya mampu menghabiskan menu sempurna siang itu. Sedangkan dia? Sedang berjuang menghabiskan pesanannya (dan pesanan saya yang salah, tentu saja). Nasi putih dengan taburan blackpepper beef? Yaa, memang perlu perjuangan cukup keras untuk menikmati rasa blackpepper nya yang sangat menyengat itu, apalagi bagi yang tidak biasa. Semangat!

Dan, makan siang kita dilanjutkan dengan jalan-jalan setengah penting di mall paling happening di kota itu. Berjuang, untuk tetap menjadi smartshopper.

Makan siangnya, Incredible! Makasih, yaa. Saya tau, dia gak cukup puas dengan pesanannya siang itu. Padahal, kita sama-sama lapar. Nanti, saya masakin nasi goreng andalan saya. Janji!

Dan saya memenuhi janji saya, untuk dinner-nya. Dinner kamu.

Image

Ini diaa, nasi gorengnya. Suka? Hehe.

Es Teh. Manis

Es teh manis sering banget jadi pilihan saya kalo lagi makan di mana-mana. Dari warung kelas tegal, sampe warung kelas sosialita. Rasanya pun beda beda dari tempat makan yang satu ke tempat makan yang lain. Kalau sampe ada tempat makan yang menyediakan es teh manis yang ga enak, serius, saya bisa tiba tiba ilfil, ogah makan di restoran itu. Apalagi kalo sampe ada yang ga nyediain es teh manis. Tapi jarang banget, sii. Wong es teh manis itu menu standar banget kann.

Harganya, pun macam-macam. Saya yakin, bukan perkara daun teh yang dipetik. Daun emas atau daun layu. Tapi, karna tempatnya. Ya, saya bisa menikmati es teh manis seharga 500 rupiah sampe ada 35000 rupiah. Wow! Pernah ada yang ngerasain es teh manis yang lebih mahal? Plis share di mana. I won’t drink there. Hehe.

Bahkan, es teh manis bisa mengalahkan kecintaan saya pada minuman minuman tinggi lemak yang lain. Coffee blended atau milkshake yang maknyus itu misalnya.

Bayangin, lagi panas-panas terik, atau udara pengap ibukota, apa lagi yang nikmat selain es teh manis?

Oke, deh. ‘Bang, pesen es teh manis satu, ya.’

20120309-052429.jpg

Kopi Segelas di Sabang Enam Belas

Jenis kehilangan apa lagi yang harus saya hadapi di awal tahun 2012 ini. Setelah masalah demi masalah datangnya berbarengan. Setelah saya harus galau tingkat dewa, merasa tidak ada lagi teman yang sanggup menjadi teman saya bercerita saya (kecuali blog ini), saya harus kehilangan a place for escape, sebuah warung kopi, yang menjadi tempat mampir saya, kapan saja saya mau.

Dan kegalauan pun dimulai. Saat warung kopi andalan saya itu, mengalami error terhadap koneksi internetnya. Saya seperti kehilangan, tempat mampir. Jadi bingung mau ke mana, saat saya butuh cetak cetik laptop untuk menumpah ruahkan segala onderdil isi kepala, air di pelupuk mata, dan sampah-sampah dalam hati.

Positifnya, saya jadi lebih cepat pulang ke rumah, sabar menghadapi jalanan yang masih tersendat, dan fokus bersujud.

Dan sampailah saya sore ini, di sini. Lokasi nya juga tak jauh-jauh, dari kantor.

Sabang 16.

Image

Untuk ukuran warung kopi, tempatnya tidak terlalu mewah dan ukurannya tidak luas. Tapi nyaman. Rasanya pas lah untuk menyebutnya sebagai tempat ngopi. Kalau cuma untuk mampir dan ngopi bareng teman-teman, yaa, tempat ini bisa jadi pilihan. Untuk penggemar kopi serius, bisa menikmati aneka kopi spesial khas Indonesia, seperti Aceh Gayo, Sumatera Lintang, Sidikalang, Bali Kintamani, Toraja Kalosi, dan Papua Nabire.

Sayangnya, sebagian penikmat kopi, biasanya memasangkan kopi dengan rokok. Dan tempat ini, tidak menyediakan tempat yang nyaman untuk merokok. Smoking Area, tersedia, cuma sedikit. Sekitar 3 bangku di luar. Berjejer rapi di pinggir trotoar. Dan, yaa, warung kopi ini, pas bagi penikmat kopi saja, tanpa rokok. Hehe.

Jika kelaparan, bukan di sini tempatnya. Karena di warung kopi ini, tidak disediakan menu-menu yang ngenyangin. Hanya tersedia camilan-camilan ringan, well, rekomendasi di sini adalah roti bakar srikayanya.

Saya pesan satu kalau begitu. Yoi. Gigitan pertamanyaaa, mmmhh, okeeeyy. Gurih. Dan manis. Boleh laahh dicoba.

Variasi menu es krimnya juga lumayan. Tapi saya tidak pesan. Berhubung lagi diet dan sudah kenyang. Menu-menu disediakan dengan sederhana, dan agak mahal untuk ukuran yang sederhana. Tapi, toh pengunjung membayar kenyamanannya. Segelas kopi pasang harga IDR 16000. Mahal ga si?

Saya. Sambil ngopi.

Yaa, setidaknya saya jadi punya pilihan kedua setelah warung kopi kesayangan saya itu. Lumayan. Saya berhasil menghabiskan separuh hari saya di sini. Berarti? Saya betah. Tempat ini mampu menjadi tempat kabur sejenak, dari betapa memuakkannya lika liku hubungan sesama manusia. Saya berada di tempat yang tepat. Memilih bertahan dengan benda-benda ini, tanpa harus merasa dimusuhi, membebani diri segala prasangka tak punya hati, dan menikmati menjadi sendiri. Di sini.

Enjoy the coffee, guys!

Waktu dan Kopi

Menghabiskan waktu di warung kopi.

Ada yang senang menghabiskan waktu di warung kopi? Mungkin sebagian di antara kita  setuju. Lihat saja, hampir setiap saat warung kopi ramai pengunjung. Sebagian menganggap, menghabiskan waktu di warung kopi itu semacam buang-buang waktu. Coba, kita telaah lagi. Menghabiskan waktu, artinya, waktu yang tersisa kemudian dihabiskan, dan bagi saya, lebih baik dihabiskan daripada dibuang-buang. Bener ga? Gimana? Masih ada anggapan bahwa menghabiskan waktu di warung kopi itu buang-buang waktu?

Ya, mungkin ada maksud lain dibalik, pilihan kata ‘buang-buang waktu’ itu. Banyak yang bisa dilakukan daripada menghabiskan waktu di warung kopi. Bukankah, lebih baik pulang ke rumah kemudian beristirahat? Atau berkumpul bersama keluarga? Itu sebagian komentar dari teman-teman saya.

Dan kembali lagi, itu adalah pilihan. Setiap orang punya hak untuk memilih apa yang harus dilakukannya untuk menghabiskan waktu.

Saya, bukan penggemar kopi. Saya penggemar duduk santai di warung kopi. Karena gemar duduk-duduk di tempat itu, kemudian lidah saya menjadi akrab dengan kopi. Saya menjadi punya jenis-jenis kopi favorit meskipun saya tak ingin mengkategorikan diri saya sebagai penggila kopi.

Bagi saya, duduk duduk santai begini, adalah salah satu pilihan refreshing bagi saya. Tak mampu, setiap akhir pekan untuk liburan ke luar dari ibukota. Saya memilih, untuk menghabiskan waktu di warung kopi. Bersama teman (-teman) atau sendiri. Keduanya punya kenikmatan yang berbeda.

Mungkin tak banyak yang mampu menyaingi kemampuan saya untuk bertahan dan bermalas-malasan di sebuah warung kopi favorite saya di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat itu. Jika ada, hai, hai, salam kenal. Senang rasanya punya teman yang senasib.

Untuk itu, kadang saya lebih senang menghabiskan waktu sendirian. Jika begitu, mengapa saya tidak memilih untuk menghabiskan waktu sendirian saja di kamar? Ya, karena menghabiskan waktu di warung kopi ini punya sensasi yang berbeda. Boleh lah, kemudian saya menobatkan tempat ini sebagai rumah ke dua saya. Setelah, mobil. Haha. Ya, rasanya kok hidup di Jakarta, jadi lebih sering dihabiskan di jalanan, ya. Bukan karna jaraknya yang jauh tentu saja, tapi karena volume kendaraan yang padat.

Saya punya cara sendiri menikmati waktu-waktu di warung kopi ini. Saya mampu menghabiskan waktu 24 jam yang saya punya, jika ada. Ditemani dengan berbagai teknologi terkini tentu saja. Untuk itu, kadang, saya menyangsikan apakah ada di antara teman-teman saya yang sanggup seperti saya. (*nyengir*) Itu salah satu alasan mengapa saya seringkali memilih sendiri di tempat ini. Percayalah, bukan karena tempat ini cukup bergengsi di Ibukota. Atau, karena privilege yang saya dapatkan dari para baristanya. Tapi semata saya senang menghabiskan waktu saya di sini.

Di sini, kita bisa se bodo amat an dengan apa yang orang-orang lakukan di sekitar kita. Terkadang saya mengamati pengunjung yang datang silih berganti. Mereka tak peduli. Dan tak ada kekawatiran, akan di usir. Warung kopi ini beroperasi 24 jam. Seolah memang disediakan untuk orang-orang seperti saya.

Jika sebagian berpikir, untuk apa buang buang waktu (juga uang) di sini. Mereka beranggapan ini tidak produktif. Wahh, jelass, bahwa saya punya pendapat yang berbeda. Ini jelas, lebih produktif dari pada menghabiskan waktu di jalanan padat yang membuat mesin mobil tua saya semakin ngadat. Jika mau dibandingkan dengan biaya nya? Ini sekedar ‘ngeles’ kali yaa. Daripada saya membiarkan mesin mobil bekerja lebih keras saat macet atau bahan bakar yang lebih boros ketika kopling terus ditahan, belum lagi stress kelelahan bersaing dengan kendaraan lain, ini tentu jauh lebih irit. Sekali lagi, yang protes tidak setuju, feel free lohh. Karena ini cuma nge les.

Saya tetap merasa lebih produktif di sini. Saya senang mengamati berbagai karakter pengunjung yang datang. Dari mulai orangtua yang berkumpul bersama anak-anaknya, para bikers dengan peluh setelah menyusuri ibukota, sampe beberapa wanita dengan dandanan seronok tampak sedang menunggu, entah apa. Ya, begitu beragam gaya hidup yang bisa saya amati di sini.

Di tempat ini, saya pun bisa seakan lepas dari kepenatan hidup (pasti dianggap lebay deh, nih). Saya merasa bisa menikmati dunia saya sendiri. Tersambung dengan koneksi internet membuat saya dapat terus meng-update berita terkini, yang menarik menurut pandangan saya. Saya merasa bisa begitu seru dengan diri saya sendiri.

Di sini, saya tidak peduli, ketika ingin marah atau menangis pada diri sendiri. Pekerja dan pengunjung di sini, punya urusan masing-masing. Dan mereka dapat dengan leluasa membiarkan saya. Walaupun sesekali saya dapat bocoran bahwa mereka juga suka ngomongin customer di backroom. Wkwkk, tapi ya sutralaaahh. Toh, dibelakang kan? Saya ga denger.

Sebagian inspirasi dan buah pikir, bisa muncul di tempat ini. Dari yang wajib macam #naskah dan #thesis, sampai tulisan-tulisan yang di-publish (di blog dan twitter) dan yang tidak di-publish. Browsing, web walking, dan socializing. 

Pada suatu masa, saya menjadi khawatir apakah ada yang mau menyesuaikan gaya hidup yang saya pilih seperti ini. Atau mungkin nanti saya lah yang harus mengalah, meninggalkan kebiasaan ini karena masih banyak prioritas yang perlu diurus daripada sekedar duduk santai dan malas-malasan di tempat ini. Menentukan calon suami mungkin salah satunya. 😉

Jika mencari saya, seringkali saya didapati di sini. Ya, karena hampir sebagian waktu saya habiskan di sini. Bukannya, tak pernah jenuh, saya juga bisa untuk absen ga mampir dulu ke sini. Itu, sudah pernah saya lakukan. Saya lebih senang pulang ke rumah lebih cepat atau menghabiskan waktu lebih lama di kantor untuk berkumpul bersama teman-teman. Tapi, jika jenuh itu sudah lampau, saya kembali lagi dengan kebiasaan menghabiskan waktu di sini.

Selain karena tempatnya yang dekat kemana-mana karena terletak di pusat di ibukota, tempat ini juga punya pelayanan menyenangkan. Barista-barista nya ramah dan tampak akrab. Meski, akhir-akhir ini mulai muncul barista-barista baru yang masih asing dalam pandangan saya. Entah, karena kebiasaan, ramuan kopinya pun menjadi berbeda dibandingkan dengan store se brand, di tempat lain.

Kalau mau tau diri sedikit, saya termasuk customer yang ‘high complaining’ loh terhadap pelayanan sebuah cafe, restoran, atau coffeeshop. Tapi di sini, mereka dengan sabar (di depan) melayani. Rasa minuman yang tidak sesuai dengan pesanan pasti diganti baru. Tak jarang, saya mendapat compliment (walaupun sekedar air putih) dari barista-baristanya yang sudah berubah status menjadi teman-teman saya. Tapi soal gratisan ini rahasia yaa. 🙂 Terlebih, saya tak perlu malu-malu minta tolong untuk mencuci tumbler saya, sampai-sampai dinobatkan sebagai tumbler purbakala. Haha, ini lucu. Sangat lucu melihat ekspresi mereka ketika harus mencuci tumbler yang sering dalam jangka waktu lama lupa dicuci itu. Thanks, guys! 😉

Smoking dan non smoking area nya juga dipisah. Selain untuk menjaga kenyamanan pengunjung, juga untuk tetap menjaga kualitas biji kopinya. Mungkin ini juga alasan yang membuat banyak orang yang menyukai beragam kopi di sini.

Bukan, sepenuhnya saya menghabiskan waktu sendiri di sini, kok. Bersama teman-teman juga ga kalah seru. Bahkan, sebagian juga setuju kalau tempat ini bikin malas gerak. Embuerrrann, deh. Hehe. Kita bisa baca novel, wifi an, bikin #naskah atau nge gossip bareng-bareng ditempat ini.

Jadi, selamat menikmati, yaa. Menikmati tulisan ini. Menikmati waktu. Ayoo, kita lebih produktif, anak pintar 😀

 

Coklatnya meleleh

Alammak, mantaaap!
Alammak, mantaaap!

Hah? Rp 62.000 (agak norak, untung dibayarin :surprise: )  Haagendazs, disudut Plaza Senayan, sambil menunggu ayah ku pangkas rambut, sekedar menebak pesanan apa yang akan kupesan, akhirnya pilihanku jatuh pada sebuah nama ‘brownie chocolate explosion’

Gak lama, datanglah 2 scoop ice cream (belgium chocolate and strawberry cheesecake) dilengkapi dadu-dadu brownies di siram sirup coklat.. Rasanya benar-benar mantap. Coklatnya juara! Sampe kebawa mimpi. Brownies dan siraman sirup coklatnya masih terasa hangat dipadukan dengan rasa eskrim sungguhan (aku pernah ngerasain eskrim-eskriman soalnya 😉 ) It taste was so perfect. Rich and smooth!
Biar ga eneg, penyajian dilengkapi free flow mineral water.
Emang harga juga gak boong kali ya. Coklat nya pasti kualitas super. No wonder, di situ rame yang beli. Take home atau sambil santai di sana.
Tapi, dengan harga segitu, worth ga ya, buat makan eskrim doang. Walah, harus punya penghasilan berapa untuk bayar lifestyle semacam itu?
*kambuh ngiritnya*
Akhirnya, Dinna kembali ke alam nyata :mrgreen:

Duren Medan

Makan Pulut Duren

Makan Pulut Duren

Katanya, kalo ke Medan kudu banget makan duren. Waha! Itu kesukaanku. Jadi, karena kebetulan ada waktu luang ditambah ada guide baik hati, Wina dan Yudi, yang nemenin jalan-jalan keliling Medan, jadilah aku dan silvi menyantap duren pada kesempatan itu. Jualannya berupa kaki lima. Tapi, yang beli, rame bukan main. Untung abang dan kakak penjual nya cekatan melayani pembeli. Letaknya di depan Kampus USU (Universitas Sumatra Utara), gak susah kan mencarinya.

Mmmm,, lezattt. Penyajiannya agak beda dari biasanya. Menu yang tersedia bermacam-macam. Ada kolak duren, es duren, dan lain-lain aku gak hafal. Karena saat itu aku memesan pulut duren, jadi, menu yang disajikan adalah semangkok pulut duren yang isinya 2 butir duren Medan (sayang, cuma dua ;P), segenggam pulut (pulut tau kan, terbuat dari ketan), es, kemudian disiram dengan sirup caramel. Mmm,,, Gimana,  mupeng yaaa.. 😀

Sebagian orang, sukaaaaa banget sama duren. Ada yang sanggup ngabisin satu bahkan dua buah duren dalam waktu singkat (a.k.a Gerry). Ada juga yang bisa sakit hati kalo gak kebagian duren. Tapi, dibalik sejubel peminatnya, gak sedikit juga loh, orang yang anti banget sama duren. Sebagai penggemar duren, aku sampe gak habis pikir, kok bisa gak suka sama duren. Itu kan salah satu kenikmatan dunia. Hehehhh,, Tapi, begitulah kenyataannya. Ada yang bisa sampe pusing, muntah, mual, keringetan, hanya dengan mencium bau duren. Ada juga yang sampe marah-marah (a.k.a Acil).

Itulah unik nya duren. Ada yang tergila-gila, tapi disisi lain ada yang membenci nya mati-matian. Hal serupa juga terjadi dengan Dewi Persik. Banyak yang benci, nyela dia, tapi sebenarnya gak sedikit yang nge fans banget sama si Goyang Gergaji itu (lah, kok ngomongin Dewi Persik?). Mungkin juga hal yang serupa terjadi dengan diri kita, yah 🙂

Duren Medan mantep lah! Kunjungan ku ke Kota Medan jadi tambah lengkap rasanya. Tapi, menurut ku, Duren Montong masih juara. Dagingnya tebel, bijinya kecil pula.

Tapi, mau montong, Medan, Bangkok, atau apalah namanya, durian apa aja i love ’em all. Tapi kalo permen duren, gak ah!

Well, ini kuliner yang menyenangkan. Makasih buat Wina dan Yudi!