Temennya Roti

Belakangan, muncul beragam kreativitas produk sebagai temen makannya roti tawar. Mulai dari yang bermerk, yang gada di Indonesia, yang home made, sampe yang konsisten healthy food. Semuanya bikin makan roti tawar makin seru dan ga ngebosenin. Bahkan sampe ada yang bisa ngerubah kita jadi anak ‘kekinian’ karena udah nyobain selai/olesan roti merk tertentu. Hehe.

Saya sendiri, termasuk salah satu yang senang membeli. Digaris bawahi, senang membeli. Entah karena selera makan yang lagi menyedihkan akhir-akhir ini, sering kali olesan-olesan itu hanya mengendap di kulkas atau di meja dapur. Ga dicicip sedikitpun. Padahal kemasannya udah didesign semenarik mungkin apalagi racikannya. Super super kreatif. Katanya sii soal rasa boleh diadu satu sama lain. Semua bisa jadi kesukaan tergantung selera masing-masing. 

Beruntung, Zandi termasuk penikmat segala. Dia penganut teori makan pake otak bukan hati. Jadi beberapa selai/olesan yang saya beli, masih terselamatkan gak terbuang percuma karna keburu expired. Kata Zandi, semuanya enak. Emang sii, hampir semua makanan enak bagi doi. Yang dia ga suka cuma makanan yang ga bersih. *kontra banget sama saya, pencinta makanan pinggir jalan, hehe.*

Jadi, kalo ditanya, apa teman makan roti tawar favorit saya? Jawaban saya masih sama seperti pas saya masih kecil. Roti tawar dioles mentega (blu*band) ditabur meses (c*res). Yes, untuk beberapa hal, saya ini masi konvensional dan bisa dianggap cukup setia kan. Whehehe. 



Advertisements

We meet again!

(left)Ori.Mya.Zia.Dilla.Yaya.Dinna.Prisil.Aldo(right)

(left)Ori.Mya.Zia.Dilla.Yaya.Dinna.Prisil.Aldo(right)

Setelah sekian lama, lama banget malah, akhirnya ketemu lagi dengan teman-teman SMP (SMP Cendana Rumbai) ku. Ngumpul lagi. Banyak cerita baru, sayang, kurang puas, karena itu lagi di wedding kakakku. Aku juga harus ikutan ribet ngurusin ini itu, jadi kangen-kangenannya terbatas, deh. Tapi seneng mereka nyempetin dateng, mudah2an gak lupa doa nya.. then, who’s next?? :mrgreen:

Snickers

Seblumnya, aku kenalin dulu. Bukan. Snickers yang aku maksud itu bukan coklat. Snickers itu, geng ku. Geng ku waktu SD. Haha, gaya banget gak seeh, SD aja udah punya geng. Jumlahnya tujuh orang, digawangi (bahasanya…) oleh

  1. Dinna Sabriani (aku), baru saja dilantik menjadi Sarjana Pertanian di Institut Pertanian Bogor periode Juni 2008, selain di kamar sekarang juga mengisi waktu sebagai presenter acara Perjalanan 3 Wanita yang tayang di Trans TV, setiap Slasa Rabu jam 6.30 pagi.
  2. Dilla Sabrina (Dilla), sedang menjalani co-ass untuk menjadi seorang dokter gigi di Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Indonesia
  3. Azizia Permatasari (Zia), sedang menyelesaikan tugas akhir di Institut Teknologi Bandung jurusan Biologi
  4. Soraya Puspasari (Yaya), kembarannya Zia, sudah dilantik menjadi Sarjana Teknik di Institut Teknologi Bandung periode Juni 2008, dan sekarang sedang memulai karir nya di Schlumberger.
  5. Mutia Asyifa (Mutia Asyifa), sedang menyelesaikan tugas akhir di Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia
  6. Lasti Erfinanda (Lasti), kuliah di Fakultas kedokteran, Universitas Padjajaran, Bandung
  7. dan Aditia Amini (Dita), maaf aku sudah lama sekali tidak contact dengannya, dulu terakhir pas kelas 3 SMA, tapi tentunya sekarang udah lulus SMA yah, hehe. Apa kabar ya dita?

Dulu kita suka banget sama coklat dengan merk Snickers, yang sering kita beli di Commisarry (semacam supermarket) di daerah tempat tinggal ku dulu. Kita bertujuh, tinggal dalam satu kawasan, namanya Rumbai Complex. Itu kaya kompleks milik perusahaan tempat orang tua kami bekerja.

Snickers sering banget ngelakuin aktivitas bareng-bareng.

1. Berenang. Anak-anak Snickers semuanya jago renang (hehe, boleh lah narsis dikit). Kita renang hampir tiap hari. Tiap sore. Jadi, ya, maklum kalo anak-anaknya jadi item-item dan bau matahari. Di antara kita yang paling males renang itu ya mutia. Mungkin karena rumahnya paling jauh, di kompleks Randu namanya. Kalo rumahku, wah, enak banget. Mau ke Club (itu sebutan swimming pool di sana) tinggal jalan kaki. Walaupun kadang-kadang masi suka males dan akhirnya naik taksi atau naik sepeda.

2. Ngumpul. Namanya geng, pasti sukanya ngumpul. Jadi kita sering banget ngumpul di salah satu rumah di antara kita. Kalo ngumpul, kita suka tukeran koleksi. Koleksi sticker, perangko, sampe kertas file (kertas binder). Kita juga suka ngayal bareng dan terinspirasi dengan film “The Baby Sitter Club” atau “The Craft”. Haha, lucu banget kalo inget itu.

3. Maen sepeda, atau roller blade. Wah, ini seru banget. Kita bisa maen keliling kompleks yang luass banget itu. Kadang aku main roller blade, trus ditarik pake sepeda. Wah, seru banget. Kapan lagi ya bisa kaya gitu.. Di kawasan tempat tinggalku sekarang, kurang memungkinkan untuk main2 kaya gitu, karena ramai dilewati kendaraan bermotor. Hiks. Hiks. Salah satu rute wajib kami, mampir ke “American School” di sana kita suka kebagian crayola (alat untuk mewarnai) banyakkkkkk banget.

4. Taun baruan, walaupun masi kecil, kita juga ikut ngerayain taun baruan loh. Ini waktu kita kelas satu SMP. Acara nya di rumah ku. Kebetulan sekali orangtua ku sedang berada di Duri (dua jam dari Rumbai). Kita belanja bareng bahan-bahan masakan, menu kita waktu itu sphagetti. Mmmm,,, Sphagetti nya paling enakk sedunia, dan bumbunya pas banget. Trus, pas new years eve nya, kita pasang musik kenceng-kenceng, sok yang party-party, gitu. Hahahha. Padahal itu bulan puasa loh. Selain kita, rumah ku juga mendadak rame didatengin sama temen-temen kakakku, yang lebih aneh, ada juga orang-orang yang gak di kenal. Tapi, semua nya enjoy ajah tuh, kita semua jadi temen, dan acara taun baru itu berlangsung sampe jam 4 dini hari. Oiya, itu bulan puasa dan saking ngantuknya, aku melewatkan sahur dan agak haus pas bangun-bangun udah jam 8 pagi.

5. Manjat Pohon Ceri, Pohon Ceri ini bukan buah Cherry yang biasa ada di kue tart atau cocktails. Aku gak tau, apa nama yang lebih terkenalnya, tapi, kami menyebutnya ceri. Buahnya bulet kecil-kecil (sekecil butiran mutiara, kira-kira) warnanya merah atau hijau kemerahan. Rasanya manis, pokoknya enak deh. Nah, kita sering banget manjat pohon ini dan ngambilin buah nya. Parahnya lagi, pohon ini pohon milik tetangga ku. Untung orangnya gak pernah marah karena kami ngambilin buahnya (apa yang punya rumah gak tau, ya? hehe). Saking semangatnya, kita sampe naik-naik ke atas atap rumah nya. Bahkan kalo cape, kita numpang istirahat di atap rumah itu.

5. Dinner, ini bukan makan malam biasa. Dan kami saat itu kami benar-benar menyebutnya dengan dinner. Kalo dinner itu artinya, ya, makan malam, dan harus di tempat itu. Di sebuah bar. Menu wajibnya krimsup, bistik, dan es krim. Biasanya kami ngadain ini kalo ada moment tertentu seperti ulang tahun, atau lagi pengen ngumpul aja.

Seru banget ya, jadi anak kecil. Hehe. O iya, Snickers dulu juga sempet punya rival (ccieee, rival) namanya The Corners, menurut laporan salah seorang anggota nya, ini adalah buah sakit hati mereka yang ga di ajak gabung di Snickers (konon, geng paling ok, saat itu :shock:). Tapi, sebenarnya kita semuua bersahabat tuh. Snickers dan The Corners sebenarnya punya keterkaitan, karena gak jarang anak-anak Snickers juga sering ngumpul bareng The Corners. Karena, buat kami, makin rame, makin seru..

Miss u all guys.

*maaf ga ada foto, maklum ini kenangan masa lalu. blum digital. nanti aku scan, kalo foto-fotonya ketemu.

Snickers Reunion

Wah, stelah lebih kurang 7 tahun aku ga ketemu mereka, aku ketemu dengan 3 diantara 7 (termasuk aku). Snickers itu nama geng ku waktu SD. Seru kan, sejak SD udah punya geng. hehehehh.

Acara wedding kakak kelas kita di Ballroom Kartika Chandra Hotel, yang mempertemukan kami malam itu. Tak banyak yang berubah dari mereka. Zia Yaya masih tetap kembar (ya iyalah..), dan Muthia masih tetap dengan paras keibuannya. Mungkin hanya berat dan tinggi badan kita yang berubah plus unsur-unsur lain yang juga berubah seiring bertambah nya usia kami.

Meet The Snickers

Meet The Snickers