Hingga Kini

Jika kebanyakan orang mengaku dirinya biasa, okelah, saya lebih senang dengan pilihan Incredible Dinna. Sebagian mungkin menganggap memang biasa, tapi saya menganggap bahwa saya luar biasa, Huhu, pede yaa. Tenang, tenang. Ini bukan berarti sombong. Jauh lah dengan apa yang dianggap sombong bener deh.

Incredible, dipilih karena saya anggap, banyak hal luar biasa yang terjadi dalam keseharian saya. Entah itu luar biasa membuat saya excited, luar biasa menghadirkan kebahagiaan, luar biasa mengundang cengang, haru, atau bahkan menyedihkan. Itu lah kemudian mengapa Blog ini muncul menjadi bagian kisah ‘numpang’ curhat saya.

Well, perkenalkan saya, Dinna. Terlahir dengan pasangan kembar bernama Dilla, putri ke 3 dari 5 bersaudara.

Sejak lahir hingga lulus SMP saya habiskan di seberang pulau Jawa, di Pekanbaru tepatnya. TK, SD, dan SMP menjadi satu paket di Yayasan Cendana. Itu karena tempat tinggal saya dekat dengan yayasan tersebut, maka orang tua saya memilih untuk menyekolahkan saya di sana.

Beranjak remaja, saya dipindahkan ke Ibukota. Jadilah, saya ‘berhasil’ masuk di salah satu SMA unggulan di bilangan Salemba, Jakarta Pusat. Dengan prestasi biasa-biasa saja, dengan sedikit patah harapan untuk masuk ke universitas harapan orang tua, saya diterima dengan sebagai mahasiswa undangan, di Institut Pertanian Bogor. Kala itu, bingung soal cita-cita mau jadi apa. Saya enggan mengenyam pendidikan di bidang medis (baca: kedokteran), apalagi jurusan jurusan berbau teknik, politik atau ekonomi. Akhirnya, agak nyasar dikit, kembali ke ‘kodrat’, saya bergelut di dunia pertanian. Beruntungnya saya, masuk di salah satu jurusan ‘eksklusif’ (nyombong nih) bernama Manajemen Agribisnis. Widiwiiww, dari namanya aja udah ga ngerti apaan. Tapi toh, akhirnya masa kurang dari 4 tahun itu mampu saya lalui dengan berbagai cerita seru dan pengalaman menarik.

Saya lulus, dengan predikat ‘sangat memuaskan’ saja, di saat banyak teman sejurusan saya lulus dengan predikat ‘cum laude’ Well, saat itu saya gagal membuat orang tua saya bangga hingga Ayah saya tak hadir dalam upacara wisuda yang kebetulan berlangsung di hari kerja (lah terus?). Mungkin, akan beda ceritanya jika waktu itu saya lulus sebagai mahasiswa berprestasi dengan IPK 4, saya yakin Ayah saya bela belain hadir. Hehe.

Meski akhirnya tak bisa membuat orang tua saya bangga, di saat saudara saya lainnya, lulus dan mengenyam pendidikan di kedokteran umum (dan kedokteran gigi) dengan nilai-nilai memukau sekaligus mencengangkan, saya tetap bersyukur dan semangat karena sudah menyandang gelar sebagai sarjana pertanian. Lah, saya yakin tak banyak yang punya gelar itu, dibandingkan gelar-gelar lain semacam sarjana ekonomi atau sarjana komunikasi. Baiklah, gelar itu cukup membuat saya menjadi tidak biasa, kalau begitu😉

Tak mudah, peroleh pekerjaan menyenangkan di Ibukota dengan persaingan ketat di masa itu. Tapi, saya menjadi termasuk yang beruntung, karena langsung ketika lulus, saya mendapat kesempatan menjadi salah satu presenter Program acara jalan-jalan di Trans TV. Perjalanan 3 Wanita. Satu tahun lebih, tiap bulannya saya keliling Indonesia, dan itu menjadi sangat berkesan buat saya. Sebagian cerita-cerita serunya saya bagi di beberapa postingan di blog ini. Sebagian lagi saya ceritakan kalau kita ketemu yaaa, hehe.

Semakin seru, kegiatan saya setelah lulus jadi makin padat ketika saya mulai mendapat kepercayaan untuk menjadi MC di beberapa acara formal seperti seminar dan diskusi-diskusi kecil.

Selain itu, saya juga sempat mengurus rubrik konsultasi masalah hukum di salah satu media online, bernama Hukumonline. Disitulah, isi kepala saya mulai terkuras, karena mulanya saya sangat tidak mengerti dengan berbagai pelik dunia hukum. Tapi, itu menjadi cerita yang menyenangkan karena saya merasa bisa gegayaan sebagai jurnalis (meski tak sungguh) dan punya atasan paling wise yang pernah saya temui. Belajar hukum, sempat membuat saya jenuh, tapi juga membuat saya semangat. Perdebatan dengan orang-orang yang tidak pernah mengerti hukum, bikin saya jadi agak sotoy. Wkwkwk.

Sambil jalan-jalan dan sambil belajar hukum, itulah yang menjadi aktivitas saya dalam dua tahun setelah saya lulus kuliah. Kemudian, tawaran kerja dari sebuah perusahaan swasta dengan gaji berkali kali lipat, membuat saya meninggalkan hari-hari menyenangkan itu. Semata karena itu. Saat itu, saya merasa butuh hidup mandiri, karena tak mungkin terus dompleng kantong ayah saya untuk penuhi kehidupan sehari-hari.

Cukup setahun, saya pikir saya adalah seorang yang mampu beradaptasi dalam kondisi apa pun. Bekerjalah saya dalam perusahaan milik pengusaha keturunan Cina tersebut. Beberapa kali, saya merasa spesial karena saya satu-satunya pegawai dengan busana muslim (baca: berkerudung) di sana. Bukan Incredible doong, kalau itu menjadi masalah buat saya. Itu jelas tak perlu membuat saya merasa minder. Di sana saya tetap punya teman-teman menyenangkan, yang pastinya merindukan saya sekarang. Haha. Sebutlah mereka Mba Anggun, Lucky, dan Bang Jul😉 Huhu, kapan kita kumpul lagii.

Tapi, toh akhirnya saya mundur dari pekerjaan yang saya tak mengerti arahnya itu. Karena sejujurnya, saya di bawah tekanan atasan pria lajang yang tak pernah klop dengan saya. Anggaplah dia tak akan membaca postingan ini. Toh, ini murni curhatan colongan saya. Bagi saya, atasan dengan pola pikir subjektif sana sini, begaya petantang petenteng, dan menganggap saya bawahan tak berharga, hanya akan menjadi pengalaman buruk untuk hari-hari saya.

Saya mundur, dengan alasan klise akan melanjutkan kuliah pasca sarjana saya yang jadi berantakan karena tumpang tindih pekerjaan. Kenyataannya, sama sekali tak begitu. Yang ada, sebenarnya saya adalah seorang yang tak bisa diam dan begitu senang dengan kata-kata berjudul sibuk dan punya jadwal padat. Saya meninggalkan pekerjaan itu, semata saya tak mampu lagi bangun pagi setiap harinya untuk dihantui atasan saya yang tak mampu saya pahami isi kepalanya.

Apalah yang orang katakan mudah menyerah dan manja. Percayalah, sebenarnya saya jauh dari itu. Ini semata bukti bahwa saya tak lagi perlu dimanjakan dengan penghasilan lumayan (untuk lulusan seperti saya) namun terinjak dengan orang ‘entah siapa dia’

Well, sekian lah curhatnya, pada akhirnya saya menikmati profesi saya sekarang. Seorang jurnalis di sebuah TV ternama di Indonesia. Baru 7 bulan, dan mudah mudahan saya bertahan. Memilih pekerjaan yang sesuai dengan passion saya (saat ini). Dan saya tak mengatakan bahwa menjalani profesi ini menjadi mulus-mulus saja loh. Tetap ada dinamikanya. Saya menghadapi berbagai jenis karakter orang, menyenangkan dan tidak. Dan kali ini, saya menikmati. Setiap uring-uringan, lelah, dan waktu yang habis untuk profesi ini. Saat ini, saya suka. Begitu saja sihh.

Suatu saat saya tak lagi di perusahaan yang tengah menjadi rebutan kepemilikan antara keluarga Cendana dan pengusaha kaya ini, saya ingin seterusnya menjadi jurnalis. Entah mungkin, jurnalis untuk diri saya sendiri, jika nasib membawa saya ke situ.

Sudah, begitulah saya hingga kini. Saya masih mengumpulkan niat bulat untuk dapat menyelesaikan program pasca sarjana saya yang nyaris tertunda karena gairah saya yang terlalu dengan dunia jurnalis, selain, saya rasa malas tentu saja. Saya mengimpikan dapat menyelesaikan thesis, segera. Sayangnya, itu baru impian. Ya, doain yaaaa.

Anyway, welcome on Incredible Dinna, guys. Nice to see you all. Am continuing my blogwalking with my coffee.

Kisses,

Dinna Sabriani

8 thoughts on “Hingga Kini

  1. din..me miss you too lohh…and yess…I’m watching you as well..hehe walopun udah ga pernah ym lagi..dan twitter gw ga di folbek sama lo juga (curhat)..tapi tetep yaa..kalo buka blog..blog lo adalah salah satu yang wajib gw kunjungi🙂

  2. ….perjalanan kamu adalah pengalaman yg kamu toreh kuat pd dinding hatimu, tak ada yg tau bahwa Allah Swt juga telah torehkan garis hidupmu sebagaimana “Hingga Kini”! ketika semua enjoy buat kamu, mk kamu telah menikmatinya…seharusnya ada kata “Syukur” pd torehan “Hingga Kini” wallahu ‘alam.
    Salam kenal ya Dinna… sukses slalu, dari Gubernur Kuala Namu ‘saat ini’. hmmm..nice y’r job. Wslmu ‘alaikum.

  3. MasyaAllah pengalaman yang luar biasa, salut.
    Perjalanan hidup saya juga mirip dengan mbak, pingin rasanya kenal lebih dekat, apalagi kalau bisa ketemu.

  4. Salam kenal Mbak…

    Menarik sekali lho baca pengalamanx,,terutama yang bikin iri itu adalah pengalaman keliling Indonesianya.
    Di share terus yaa….

    Good luck

    ALFI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s